My Devil Man

My Devil Man
MDM-Part 14


__ADS_3

Zidan sedang diam dan menunggu Asya didalam mobil yang dia parkirkan tepat di depan komplek apartemen Asya. Setelah kejadian dimana Asya ditampar oleh Esfi kekasihnya,Zidan tak bisa mentolelir segala sesuatu dan bahkan memutuskan hubungannya dengan Esfi saat itu juga.


Padahal hubungan mereka sudah berjalan selama enam tahun,walaupun dalam kenyataannya Zidan sama sekali tak menganggap Esfi dan hanya memanfaatkannya sebagai objek pelampiasan napsu atas kebenciannya terhadap Asya. Ya.. dia memang lelaki yang bisa dibilang brengsek.. karena memanfaatkan perempuan itu demi kepentingannya sendiri.


Hampir satu jam Zidan menunggu,akhirnya sebuah mobil sedan berhenti tepat didepan mobilnya. Asya dan Fany keluar dari mobil itu,Asya memeluk sahabatnya cukup lama,sambil terisak dalam. Zidan yang melihat Asya dari balik kaca bahkan bisa melihat begitu sembabnya wajah Asya.


Tak lama Fany pergi setelah melepaskan pelukan dan berpamitan dengan Asya. Zidan yang merasa Fany sudah pergi,memberanikan keluar dari mobil dan menghampiri Asya. "Sya.. lo baik-baik ajakan??". Zidan menggenggam tangan Asya erat.


Asya terkejut dan menoleh melihat Zidan yang sudah ada di belakangnya. "Zidan?? ngapain kamu disini hah?!kamu mau ketawa kan lihat keadaan aku kaya gini?? hiks.. hiks..". Asya terisak dalam,satu tangannya menyapu air mata yang datang tak diundang.


Entah rasa itu datang darimana,tiba-tiba saja Zidan menarik Asya dan membawanya kedalam dekapan hangat tubuhnya. Tidak ada suara diantara mereka,kecuali suara isakan Asya yang makin dalam di dekapan lelaki itu.


Tangan Zidan mengelus lembut pucuk kepala Asya,berharap perempuan itu tenang. Tak ada dendam saat ini,hanya ada rasa asing yang tiba-tiba menyempil diantara kebencian yang sebenarnya masih ada di hatinya.


Asya masih terisak di dalam dekapan Zidan. Perlahan tapi pasti kelopak matanya memberat,pandangannya pun mulai berkabut dan kesadaran hilang seketika. Zidan yang merasa Asya pingsan langsung membopong tubuhnya dan membawanya menuju apartemen Asya. Saat sampai,Zidan bingung karena dia tak mengetahui sandi dari apartemen itu. Tak mempunyai pilihan lain Zidan pun terpaksa membawanya pulang.


✳✳✳


Asya mengerjabkan matanya perlahan,menyesuaikan cahaya dari lampu yang masuk kedalam retina matanya. Asya melihat sekelililng dan terkejut bukan main saat dia mengetahui bahwa ini bukan kamarnya.


"Udah sadar??". Zidan mengangsurkan segelas coklat panas kepada Asya yang masih berbaring.


Mata Asya membulat,ketika mengetahui bahwa Zidan ada disampingnya. Dia segera bangun dan menarik selimut hingga sebatas dada. "Ke.. kenapa aku disini?? kamu bawa aku kesini??". Tanya Asya tergugup.


Zidan terkekeh lalu menaruh coklat panas tadi diatas nakas dan mendekati Asya hingga jarak mereka semakin menipis. "Ya.. gue yang bawa lo.. lo takut gue apa-apain??". Desis Zidan dengan suara sensual.


Asya mendorong Zidan hingga dia terpundur dan kembali duduk di tempat asal. "A.. aku mau pulang..". Asya mengangkat selimut yang membalutnya dan melangkah turun dari ranjang.


Zidan segera menarik tangan Asya hingga perempuan itu terjatuh kedalam pelukannya. "Lo mau pergi?? urusan kita belum selesai Sya..". Bisik Zidan lirih.


Asya meronta berusaha melepaskan pelukan lelaki itu,namun Zidan makin kuat mendekapnya. "Zidan.. aku mohon lepas.. aku mau pulang..". Mohon Asya disela rontaannya.


Lama Zidan memeluk Asya,hingga perasaan aneh pun tiba-tiba hinggap didalam relung hatinya yang mulai membeku. Membuatnya mengatupkan kelopak mata. Seakan hadir rasa menggelitik,hingga membuat dekapan yang tadinya untuk menakuti perempuan itu,kini malah berubah hangat,sesuatu yang sangat Zidan rindukan selama ini.


"Zidan!!". Pekik Asya hingga membuat kedua mata Zidan barangsur terbuka. "Lepasin.. aku mau pulang!!". Lanjutnya lirih.


Zidan yang tersadar,melepaskan rengkuhannya dari tubuh Asya dan memandang perempuan itu dalam. Tangannya meraih sudut bibir Asya yang sedikit robek,meletakkan ibu jarinya lembut disana. Zidan sedikit menunduk,lalu dengan satu gerakan mengecup bibir Asya dan memberi sedikit lumatan.


Asya hanya bisa terdiam,mencoba manafsirkan getaran halus yang seakan membuatnya kaku dalam dominasi Zidan saat ini. Tanpa sadar matanya ikut terkatup,merasakan lumatan demi lumatan lembut yang lelaki itu berikan tanpa ada niatan untuk mambalas.


Lumatan ini berlangsung lama,hingga Asya merasa ini harus diakhiri segera. Asya mendorong tubuh Zidan kuat,hingga ciuman mereka terlepas. "A.. aku..". lirih Asya terbata.

__ADS_1


Zidan tersenyum,melihat pipi Asya yang merona merah. "Gue anterin lo pulang.. ayo..". Zidan menarik Asya keluar dari apartemennya,dan mengantarkan perempuan itu.


✳✳✳


Asya berbaring,tangannya dia letakkan di atas dadanya yang entah mengapa berdetak begitu cepat. Dia menggeleng pelan,mengusir rasa yang seharusnya tak hinggap di hatinya ini. "Sadar Sya.. Sadar.. kamu gak boleh punya rasa itu ke Zidan lagi.. inget dia yang bikin kamu menderita selama ini!! dia mimpi buruk kamu Sya!!". Gumamnya memperingatkan dirinya sendiri.


Lama termenung,Asya memilih untuk mengistirahatkan raganya yang lelah. Matanya terpejam dengan hangat selimut yang mendekap,tak lama kemudian Asya terlelap ke dalam mimpi yang membuai.


✳✳✳


Zidan saat ini sedang berkutat didepan komputernya. Memeriksa beberapa file dan progres kemajuan semenjak dia memimpin perusahaan ini beberapa hari yang lalu.


Drtt.. drtt..


Zidan meraih ponselnya dan mengangkat benda itu tanpa melihat siapa yang menelepon. "Halo..". Ucapnya membuka percakapan.


"Zi.. Zidan.. akhirnya kamu angkat juga..". Terdengar suara memelas dari sebrang yang sontak membuat Zidan muak.


"Ngapain lo telepon gue!! kita udah gak punya hubungan lagi Esfi!!". Bentak Zidan.


"Tapi aku gak mau kamu putusin Zidan.. kita udah pacaran enam tahun.. masa kamu..".


Zidan mematikan teleponnya segera kemudian bangkit lalu keluar dari ruangannya dan menghampiri meja Asya. "Asya.. ayo temani saya makan siang. Sudah waktunya istirahat..".


✳✳✳


Banyak pasang mata yang melihat iri serta cemburu kepada Asya,karena bisa makan siang bersama CEO yang menurut mereka tampan tak bercela.


Asya yang merasa sedari tadi diperhatikan,bahkan tak bisa menikmati makanannya dengan santai karena risih.


Zidan yang melihat itu langsung menoleh,mengedarkan pandangnya yang tajam keseluruh karyawan yang sontak menunduk diam,lalu kembali menatap Asya. "Makanlah.. tak ada lagi yang memperhatikan kita..".


"Makasih..".


Beberapa menit berselang Asya dan Zidan pun telah selesai menyantap makan siang mereka. Saat Asya hendak beranjak,Zidan kembali menarik tangan Asya dalam jalinan genggaman tangannya. Para karyawan yang kembali melihat adegan itu,mulai berbisik aneh. Namun Zidan tak memperdulikannya dan tetap membawa Asya masuk kedalam lift.


Suasan dalam lift begitu canggung karena hanya ada mereka berdua didalamnya,hingga pada sepersekian detik kemudian Asya mendapatkan telepon yang membuat senyumnya merekah. Zidan mengernyitkan dahi,melihat ekspresi senang di wajah perempuan itu.


"Halo Raihan.. ada apa??".


Mendengar nama lelaki itu dari mulut Asya membuat darah Zidan seakan mendidih. Bisa-bisanya Asya menerima telepon dari lelaki itu saat bersamanya,apalagi melihat semburat keceriaan yang tercetak jelas diwajah Asya membuatnya makin kesal. Hingga saat lift berhenti Zidan tanpa rasa iba menarik tangan Asya dengan tenaga yang cukup kuat,dan mendorong bahunya hingga dia terduduk,kemudian meninggalkannya sendiri.

__ADS_1


✳✳✳


Asya menyelesaikan ketikan dikomputernya dan bergegas,setelah itu menelpon Fany dan memberitaunya bahwa dia tak bisa pulang bersama dengannya hari ini,karena dia akan pulang dengan Raihan seperti kesepakatan mereka tadi.


Saat sedang beberes,pintu ruangan CEO terbuka. Memperlihatkan sosok Zidan dengan ekspresi wajah kejam,hingga membuat Asya diliputi ketakutan seketika. "Apa aku berbuat salah??". Batinnya.


Zidan melangkahkan kakinya menuju meja Asya dan menarik tangan perempuan itu,hingga dia terpekik kesakitan. Dibawanya Asya menuju ruangannya dan menghempaskan tubuhnya paksa.


"Aww.. Zidan sakit..". Ringis Asya ketika sikunya mengenggol tembok.


Tanpa pikir panjang Zidan mendekati Asya dan mengekang seluruh tubuh perempuan itu dengan posesif. "Gue udah bilang Sya.. jangan deket sama cowo lain kalau lo gak mau siksaan dari gue bertambah berat..". Desis Zidan dengan nada arogannya.


Asya seketika terpaku dan sadar bahwa dia tadi menerima telepon dari Raihan didepan lelaki ini. "Aku.. aku cuma..". Kalimat Asya terhenti,saat kepalan tangan Zidan menghentak tembok dan hampir mengenai wajahnya.


"Gue udah peringatin lo Sya!! dan gue rasa berapa hari ini gue terlalu lunak sama lo..". Bentak Zidan dengan kejamnya.


Tubuh Asya bergetar diliputi rasa takut yang mencengram,tak ada gunanya dia melawan karena pada akhirnya Zidanlah yang akan memenangkannya. "Ma.. maa.. mphh..".


Zidan melumat bibir Asya posesif,menyalurkan kekesalannya karena Asya berani melawan dirinya. Tangannya yang kekar menahan tangan Asya hingga tak dapat melawan,satu tangannya lagi dia gunakan untuk menekan tengkuk Asya,agar lumatannya makin dalam.


Sekali lagi tak ada yang bisa Asya lakukan,bahkan saat Zidan dengan kasarnya menyibak rok span yang dia gunakan hingga robek dan menampakkan pahanya.


Zidan melepaskan lumatannya namun tidak cengramannya,matanya memandang Asya nanar penuh napsu. Dengan terburu Zidan membuka kancing Asya satu persatu,hingga membuat Asya memberontak tak terima. "Zidan!! jangan.. jangan kurang ajar kaya gini Zidan!!". Bentak Asya,namun Zidan tak berhenti hingga seluruh kancing terlepas,menampakkan dua gundukan putih yang masih tertutup bra.


"Gue kangen ini..". Zidan meremasnya kasar hingga membuat Asya terpekik. "Zidan.. sakit Zidan..".


Zidan tak perduli dan kini malah membuka kemejanya sendiri hingga seluruh tubuh kekarnya terlihat. Lelaki itu kemudian membawa Asya kedalam kamar pribadi miliknya dan merebahkan tubuh Asya diranjang. Asya bangkit dan terpundur hingga ke sudut kepala ranjang dan menangis sejadi-jadinya. "Hiks.. hiks.. aku salah Zidan.. aku janji gak akan ulangin lagi..".


Zidan melepaskan ikat pinggang dari celananya dan menaiki ranjang mendekati Asya. "Ini hukuman lo Sya..". Zidan menarik tangan Asya hingga perempuan itu dekat dengannya. Lalu dengan paksa melepaskan kemeja Asya sepenuhnya hingga dia kini hanya memakai bra.


Wajah Asya berpaling merasa hina,namun Zidan mendongkkan dagunya dan kembali melumat bibirnya. Satu tangannya digunakan untuk membuka pengait bra Asya,hingga ********nya terlihat. Kemudian lelaki itu menindihnya kuat,menempelkan bukti kegagahannya di antara selangkangan Asya yang sedikit terbuka.


Zidan makin dipenuhi napsu bahkan sekarang dia sudah menyibak rok Asya dan kembali menempelkan kejantan**nya yang tertutup diinti Asya yang terlindung kain tipis,lalu menekannya perlahan.


✳✳✳


Asya terpejam,merasakan air menguyur tubuh telanjangnya yang penuh dengan bercak kemerahan dan membiarkannya menyapu seluruh bekas sentuhan lelaki itu dari tubuhnya.


Tiba-tiba Asya terisak penuh ironi,dia memang masih beruntung bahwa Zidan tak sampai melakukan hal 'itu' kepadanya. Namun kenyataan bahwa seluruh lekuk tubuhnya telah dipandang oleh lelaki bajingan itu,membuat Asya terhina cukup dalam.


Tak dapat melakukan apapun untuk melawan adalah sebuah kesialan baginya. Asya ingin pergi menjauh,sejauh-jauhnya dari dekapan lelaki itu namun tak bisa. Bagaimana pun dia harus memiliki materi yang cukup,bila nantinya harus hidup tanpa penghasilan. Tak ingin menyusahkan keluarga satu-satunya yang dia miliki.

__ADS_1


"Mah.. Pah.. kalau Asya pergi untuk ketemu kalian.. Kalian masih mau ketemu Asya gak?? Walaupun Asya ternoda..".


__ADS_2