
Zidan tak bisa menyembunyikan kekhawatiran diwajahnya yang sudah tercetak sangat jelas. Setelah meninggalkan apartemen Asya tadi, Zidan segera datang keruang keamanan apartemen dan langsung meminta rekaman cctv disekitaran tempat tinggal kekasihnya itu.
Dan apa yang didapatkannya membuatnya mengernyitkan dahi. Jika memang Esfi yang meneror Asya, lalu mengapa bukan perempuan itu sendiri yang mengirim kotak teror itu? Ya, bukan Esfi yang mengirimkan kotak itu ke apartemen Asya, melainkan seorang lelaki memakai hoodie hitam dengan tudung yang menutupi wajah hingga rupa lelaki itu sama sekali tak terlihat.
Sekali lagi, Zidan diliputi kekhawatiran. Fakta bahwa seorang lelaki lah yang mengirim teror itu, membuat Zidan menjadi lebih tak ingin meninggalkan Asya sendiri. Bagaimana jika lelaki itu nekad masuk dan membahayakan Asya?
Zidan menggelengkan kepalanya--mengenyahkan segala pemikiran buruk, membuat Andi, Yuda dan tak lupa Raihan mengernyit melihat tingkah lekaki itu.
Tadi Zidan menghubungi Andi dan Raihan untuk berkumpul di salah satu cabang cafe yang dimiliki Yuda. Diantara mereka berempat, memang Yuda lah yang tak berminat terjun dalam dunia perkantoran, dia memilih untuk bergelut dalam bidang usaha, dan akhirnya membuka cafe yang telah memiliki sejumlah cabang di beberapa kota besar.
"Lo kenapa, Dan?" tanya Andi membuka percakapan. Lelaki itu masih memakai setelan kerja lengkap, begitupun Raihan.
Zidan yang ditanya, hanya mengerjabkan matanya. Lelaki itu beralih menunduk, meremat jemarinya dan kembali menatap tiga orang yang juga menatapnya penuh tanya.
"Asya.. di teror.." gumaman itu walaupun sangat kecil, masih bisa didengar oleh Andi, Yuda dan juga Raihan. Mereka serempak membulatkan mata, bahkan Raihan yang notabennya adalah mantan kekasih Asya tak bisa menyembunyikan keterkejutannya yang amat sangat.
"Maksud lo apaan?" tanya Raihan cepat, diangguki Andi dan Yuda.
Zidan menghela napas pelan. "Tadi pagi, ada yang taro kotak di depan apartemen dia. Dan pas dibuka, kotak itu isinya foto gue sama Asya. Tapi, foto Asya dirusak dan dibubuhin tinta darah.. waktu gue periksa cctv, ada yang sengaja taro kotak itu didepan apartemen dia."
Tangan Raihan terkepal mendengar hal itu. Pasti ini ulah wanita jalang yang mengajaknya kerjasama tempo hari lalu. Memejamkan mata, Raihan bertanya, "trus, waktu lo periksa cctv siapa yang taro itu di depan apartemen dia?"
"Cowok," jawab Zidan singkat.
"Jadi, maksud lo Esfi gak ngelakuin ini sendiri?" tanya Yuda memastikan.
"Iya."
"Ini bahaya, Dan." Andi mengemukakan pendapat, lelaki itu sama khawatirnya dengan Zidan.
Bagaimana pun kedekatannya dengan Asya yang baru saja terjalin, entah mengapa membawa dampak besar dan mengubah persepsi Andi terhadap perempuan yang kini menjadi kekasih sahabatnya itu.
"Trus gimana gue hadapin ini? kalau esfi sendiri yang kirim barang itu, gue bisa lapor polisi biar dia ditangkep. Tapi, ini dia nyuruh orang lain, dan muka orang itu sama sekali nggak keliatan." Zidan meremat rambutnya frustasi, membuat Raihan yang memang duduk berhadapan dengannya menepuk bahunya pelan.
"Sabar, Dan. Gue tau ini susah buat dihadapi, tapi gue yakin Asya akan kuat, asalkan lo trus ada disamping dia."
Perkataan Raihan tak pelak membuat Andi dan Yuda terkagum. Apalagi Zidan, lelaki itu tak bisa menyembunyikan tatapan pujinya melihat orang yang pernah ingin dia hancurkan, memberikannya semangat.
"Thanks, Bro.." Zidan membalas, berdiri lalu memeluk Raihan dengan pelukan persahabatan.
"Sama-sama. Bagaimana pun Asya cewek baik, dia berhak dapet perlindungan dari kita."
"Bener," timpal Andi dan Yuda bersamaan.
"Trus gimana cara kita biar bisa oancing Esfi keluar?" tanya Andi.
Zidan yang telah melepaskan pelukannya, memandang Andi dalam. Raihan dan Yuda pun tampak berpikir mengenai hal itu.
"Gue yakin dia gak bakal lama-lama sembunyinya. Dia akan keluar, dan gue pastiin gak lama lagi." jelas Raihan lugas.
Zidan tampak memasang ekspresi wajah waspada. Apa dia harus membiarkan Asya begitu saja tanpa perlawanan dan menunggu Esfi bertindak?
__ADS_1
"Maksud lo gue harus diem dan nunggu rencana Esfi selanjutnya, gitu?"
"Antara iya sama nggak. Lo ataupun kita bisa dibilang nunggu, tapi bukan berarti kita akan diem, kita semua harus jaga Asya," jawab Andi menambahkan, lalu memandang Zidan. "Dan untuk lo, Dan. Gue harap lo gak terjerumus ke hal yang sama lagi, karena lo akan menyesal."
Zidan mengangguk mantap, dia berjanji tak akan terjerumus ke dalam hal yang sama untuk kedua kalinya. Berpisah dengan Asya dan sempat menyiksa fisik dan batin perempuan itu, bagi Zidan sudah cukup membuat dirinya sendiri menderita. Melihat Asya menangis, s'lalu membuat hati Zidan terhenyuh sakit sebenarnya.
"Trus, abis ini kita ngapain?" tanya Yuda, mengaburkan lamunan Zidan.
Zidan melirik arlojinya sesaat. Dia harus datang keperusahaan dan menyelesaikan beberapa urusan. Selain itu dia juga harus datang kerumah Om-nya -- Darma untuk melihat perkembangan kesehatan, dan meminta pendapat untuk merekrut sekretaris pengganti yang akan menggantikan Asya selama kekasihnya itu maaih dalam bahaya Esfi.
...
Dengan tangan gemetar, dan manik yang sedari tadi mengerjab panik, Asya sama sekali tak bisa menyembunyikan kegelisahannya untuk menunggu Fany. Sahabatnya itu tadi berinisiatif untuk pergi ke apotik dan membelikan Asya alat tes kehamilan.
Asya memang sempat menolak, tapi Fany bersikeras untuk membelikan Asya alat tes itu. Dan jadilah dia sekarang menunggu Fany diruang tengah dengan duduk gelisah diatas sofa.
"Fany?!" Asya memanggil Fany, nyaris seperti memekik.
Fany tersenyum, menghampiri Asya lalu ikut duduk disofa. "Kayak orang kaget. Baru aja gue tinggal udah kangen," ledek Fany, berniat menghibur.
"Ih kamu mah." Asya mendelik. Menangkup tangan Fany, wajah perempuan itu berubah pucat pasi. "Gimana, kamu.. udah.. beli.. alat itu?" tanya Asya perlahan, membuat Fany menyodorkan sebuah kantung berwarna putih dari saku rok span yang dia kenakan.
"Gua beli beberapa. Kata apotekernya. alat ini lebih akurat kalau di pake di pagi hari abis bangun tidur, tapi mungkin bisa juga dipake sekarang."
Asya menerima kantung itu dengan tangan yang gemetar. Dia masih diliputi rasa takut. Bagaimana jika hasilnya positif? Apa Asya bisa menerima hal itu?
"Gimana kalau aku hamil, Fan?" tanya Asya pelan, hampir ternggelam dalam suara isakan yang tiba-tiba hadir menggelayutinya.
Mendengar hal itu membuat perasaan Asya terhenyuh. Dia tak menyesali segala apa yang terjadi sekarang. Kehadiran Zidan yang berawal dari sebuah kenangan manis, beranjak jadi sesuatu yang menyakitkan, hingga kini kembali berubah menjadi sesuatu yang bisa membuat Asya tersenyum, banginya itulah hidup.
Bahkan kini -- mungkin dalam dirinya telah hidup satu nyawa, ada satu janin yang kini bergantung kepada dirinya. Jika ditanya; Apakah Asya akan siap menerimanya? Dia belum tau pasti, yang jelas bukankah pada akhirnya Asya harus pasrah.
"Fan, kalau memang bener aku hamil, apa menurut kamu Zidan nerima?" tanya Asya, masih ada keraguan yang terselip di setiap untai kata yang dia jabarkan.
Melepas dekapannya, Fany sekali lagi memegang kedua pundak Asya, mempertegas agar sahabatnya itu memandangnya. "Denger Sya, kalau memang Zidan cinta, sayang dan membutuhkan lo dalam hidupnya, dia akan terima lo, dia akan terima apa yang mungkin sekarang hidup dalam diri lo. Bagaimanapun--" kalimat Fany terjeda, perempuan itu mengusap perut Asya seakan sudah yakin ada kehidupan disana. "Kalau janin ini memang ada, bukannya ini bagian dari dirinya juga, darah dagingnya juga, iyakan?"
Mau tak mau Asya mengangguk. Ada kepercayaan dalam diri Asya bahwa Zidan akan menerimanya dan apa yang ada dalam dirinya.
"So, sekarang lebih baik lo istirahat. Gue akan temenin lo sampe sore nanti."
"Makasih, Fan."
Fany tersenyum, kembali mendekap sahabatnya itu. "Gue bahagia bisa dapet sahabat kayak lo, Sya."
Aku yang sangat bahagia, Fan. Dapet sahabat kayak kamu, aku merasa punya keluarga lagi.. Batin Asya, membalas pelukan Fany.
...
Menangis, meraung dan bersandar lunglai. Mungkin itu yang bisa Asya lakukan sekarang. Dia bingung, dia kalut, dia.. takut..
Matanya yang terpejam sebelumnya dia paksakan terbuka. Beberapa alat tes yang tadi siang Fany berikan kepadanya, kini sudah berserakan dilantai kamar mandi. Asya masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
Dua garis merah..
Ya, dua garis merah..
Bukan hanya satu, bukan hanya dua, tapi empat alat tes itu memuat dua garis yang sama. Kembali menangis, Asya merutuk keingintahuannya sendiri. Saharusnya dia tak perlu sepenasaran itu, seharusnya dia tak boleh terlalu yakin bahwa dugaannya salah. Sekarang semua sudah terjawab.
Dia hamil..
Ada kehidupan lain dalam dirinya..
Ada yang ikut bernapas dalam setiap napasnya..
Awalnya Asya yakin, bahwa alat pertama yang dia gunakan salah, begitupun yang kedua, bahkan yang ketiga. Tapi yang keempat, Asya mulai menyerah walaupun dalam sudut hatinya dia masih berharap bahwa itu tak benar.
"Kenapa kamu harus hadir disaat yang salah, nak?" Asya mengelus perut ratanya, mencoba berkomunikasi dengan apa yang ada didalam sana.
Tidak!! dia tak menyesali apa yang sudah terjadi. Dia hanya.. belum siap memberitau Zidan akan hal ini.
Apakah lelaki itu akan menerimanya? Apakah lelaki itu akan menerima anak mereka?
"Kalau papah gak nerima kita, gimana?" Asya terlihat sangat putus asa akan hal itu.
Dia takut Zidan akan meninggalkannya, meninggalkan mereka, begitu mengetahui bahwa ada kehidupan lain dalam diri Asya.
Hingga ketika Asya kembali menangis, satu panggilan dari orang yang sangat dia kenal memanggilnya, "Sya.. Asya.."
Asya menghapus air matanya kasar, memungut alat tes itu dengan cepat lalu keluar dari dalam kamar mandi yang memang terletak dikamarnya.
Alat tes itu Asya letakkan disisi meja rias yang tak terjamah pandangan. Dia melihat pantulan dirinya di cermin. Mata sembab, hidung memerah dan rambut acak-acakan.
Menghela napas, Asya berbalik dan keluar dari kamar. Dia mendapati Zidan duduk di sofa ruang tengah, masih dengan setelan kerjanya. Wajahnya kuyu, lelah dan Asya tak mungkin memberitaunya masalah ini.
"Zidan.." panggil Asya lembut, ikut duduk di sisi sang kekasih.
Zidan menoleh, memandang Asya sejenak sebelum mengernyitkan dahi dalam. "Kamu nangis?" tanya Zidan, membuat Asya tersenyum dan menangkup tangan lelaki itu.
"Buat apa kamu kesini?"
"Aku mau ngajak kamu nginep di apartemen aku, Sya."
"Tapi kan ada kak Ana, jadi kamu gak perlu khawatir."
Tangan Zidan bergerak, menangkup popi Asya sebelum memberikan kecupan singkat dibibir kekasihnya itu. "Kak Ana lagi dirumah papah aku, papah minta dia nginep disana, jadi kamu harus nginep di apartemen aku."
"Tapi--"
"Gak ada tapi, Asya," jawab Zidan tegas, membuat Asya terpaksa mengiyakan.
...
Like dan Coment ya..
__ADS_1