My Devil Man

My Devil Man
MDM- Part 89


__ADS_3

Asya tak bisa mendapati keberadaan Zidan di meja makan begitu dia beranjak keluar kamar di pagi ini. Dia hanya bisa memakan sarapan bersama Kak Ana dan sang ayah mertua karena Zidan sudah pasti berangkat pagi-pagi sekali, mengingat jalanan Ibu Kota yang tak pernah absen dari kemacetan.


Setelah menyelesaikan sarapan yang diselingi dengan obrolan singkat bersama dengan Ana dan Rendi, Asya memilih kembali memasuki kamar untuk mengambil tablet vitamin yang diberikan dokter kandungannya, untuk kemudian dia konsumsi.


Asya berpikir sejenak, dia tak akan betah di rumah mengingat Ana sudah pasti berangkat bekerja, dan Rendi yang mengatakan--sewaktu di meja makan--bahwa dia akan menemui teman lamanya dan mungin akan pulang sore hari.


Alhasil, setelah memikirkan lebih jauh dan matang-matang, Asya memutuskan untuk mendatangi apartemennya kembali, di mana Rina berada.


Dia tak bisa mengendarai mobilnya seperti kemarin. Zidan sudah dengan jelas melarangnya dan berucap dengan tegas bahwa mulai detik ini Asya tak bisa menyentuh mobil itu. Bahkan Zidan sudah mengambil kunci mobil Asya dan menyembunyikannya.


Asya menghela napas. Tak ada pilihan lain selain menggunakan jasa supir. Akhirnya, setelah Asya bersiap, wanita itu berangkat diantarkan supir ke apartemen lamanya setelah sebelumnya sudah membeli beberapa bahan makanan untuk diberikan kepada Rina nanti.


"Terima kasih, Pak," ucap Asya begitu dia sudah sampai di lantai apartemennya. "Bapak bisa pulang sekarang, nanti saya telepon Bapak kalau saya mau pulang nanti."


Supir itu meletakkan barang belanjaan di lantai sebelum menjawab dengan gugup, "Saya gak bisa, Non. Tuan Zidan bisa marah nanti."


"Gak akan, Pak."


"Tapi, Non ...."


Asya menggeleng, membuat pria paruh baya itu hanya bisa terdiam dengan mulut yang hendak menyanggah. "Bapak gak usah khawatir. Saya udah bilang ke suami saya, jadi Bapak gak perlu takut dimarahin."


Supir itu mau tak mau mengangguk. Setelah mengucapkan beberapa patah kata, akhirnya supir itu meninggalkan Asya yang sudah memasang wajah bahagia karena tak sabar menemui Rina.


...


Zidan kalap. Wajahnya memerah karena amarah dan kekhawatiran yang menderanya secara bersamaan. Dia memejamkan mata untuk mendapati bahwa rasa itu bukannya menghilang, justru makin bertambah.


Rasa khawatir itu tak dapat dienyahkan, apalagi saat Zidan mendapatkan kabar dari Anita mengenai keberadaan Rina yang tak diketahui. Rina pergi, Mama-nya pergi bahkan sebelum Zidan sempat bertemu dengannya kembali.


"Mamah ...."


Zidan merasa sesak. Kekecewaan yang dia pupuk sedemikian rupa tampak tak memiliki nilai saat orang--yang sejujurnya masih sangat dia sayangi--pergi entah ke mana.


Dia bahkan berniat untuk datang hotel tempat sang Mama menginap untuk mendapatkan informasi lebih lanjut jika saja pekerjaan yang membebaninya tak menumpuk.


Berusaha untuk menenangkan pikiran, Zidan memanggil Anita lewat interkom dan memerintahkannya untuk datang ke ruangannya. Selang beberapa detik kemudian, sekretarisnya tersebut masuk setelah dia memberikan intruksi.


"Anita, bacakan jadwal saya hari ini," ucap Zidan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.


Anita yang memang sudah gugup sejak awal hanya bisa menggigit bibir sambil menghidupkan layar tablet yang mana menampilkan jadwal Zidan yang sudah merentet.


Kemudian, perempuan yang memakai setelan rapi itu mulai membacakan jadwal sang atasan. Terselip nada yang tersendat di sana. Anita mengerjab, ketika dia sudah selesai, napas kelegaan tanpa sadar dia hembuskan. Namun, itu tak berlangsung lama. Karena setelahnya, ketika dia mendongak, tatapan Zidan yang menghujam dipenuhi tanda keheranan membuatnya takut setengah mati.


"Kamu kenapa, Anita?"


"Sa--saya tak apa-apa, Pak."

__ADS_1


"Kamu tak menyembunyikan sesuatu, kan?"


Anita menggeleng cepat. "Tidak, Pak. Mana mungkin saya menyembunyikan sesuatu dari Anda."


Kening Zidan berkerut dalam. Lelaki itu seperti menelaah Anita dengan tatapan penuh selidik. Sebenarnya dia merasa kekecewaan terhadap pekerjaan Anita, bukan hal yang menyangkut pekerjaan perusahaan memang. Karena pada dasarnya Anita merupakan pengganti Asya yang tepat.


Zidan kecewa terhadap Anita karena kelalaiannya dalam mengawasi Rina. Padahal sebelumnya Zidan sudah mewanti-wanti untuk menjaga Rina dan memberi amanah untuk memenuhi kebutuhan apapun yang ibunya butuhkan.


Zidan menghela napas. Merasa hal yang menggelayuti pikirannya harus segera dia selesaikan, lelaki itu bangkit dari kursi kekuasaan untuk kemudian meraih jas yang tersampir di sisi kanan meja.


"Batalkan jadwal yang tersisa hari ini. Ada hal yang harus saya selesaikan."


Ultimatum yang diberikan Zidan membuat Anita terhenyak. Dan entah keberanian dari mana, suara Anita tiba-tiba menyela dan membuat langkah Zidan yang hampir mencapai pintu terhenti begitu saja.


"Pak, Anda lebih baik Anda tak membatalkan jadwal hari ini?"


"Kenapa?" Zidan menyahut ketika tubuhnya sudah berbalik. "Ada hal penting lain?"


"Eum ... Sebenarnya tidak, Pak," jawab Anita jujur. "Tapi, akan lebih baik jika Anda tak mengulur waktu. Hal itu justru akan membuat pekerjaan Anda menumpuk di kemudian hari."


Di dalam hati, Zidan mengiyakan pernyataan tersebut. Bukan tak mungkin jika dia mengundur beberapa pertemuan, hal itu akan berimbas pada jam kerja dan kesibukannya nanti. Apalagi proses persalinan Asya bisa dihitung tinggal beberapa minggu.


Dan di saat kelahiran anak pertamanya Asya, Zidan sama sekali tak ingin terjebak dalam pekerjaan yang menumpuk serta tanggung jawab yang harus secepat mungkin terselesaikan.


Zidan menghela napas. Sayangnya dia tak punya pilihan lain. Hingga akhirnya, ketika dia menatap Anita kembali, Zidan akhirnya menjawab dengan lugas. "Pekerjaan bisa dikerjakan nanti. Undur saja beberapa pertemuan, dan kabari saya jika ada dokumen atau berkas lain yang harus ditandatangani. Kamu bisa pulang ketika semua pekerjaan selesai."


Sekarang, mungkin yang bisa dia lakukan adalah menghubungi istri dari atasannya itu, dan memberitahu bahwa dia tak bisa menahan Zidan, serta kemungkinan bahwa Zidan sedang mencari keberadaan Rina saat ini.


...


Begitu Rina membuka pintu apartemen dan mendapati kehadiran menantunya, Rina tak bisa mendeskripsikan kebahagiaan yang dia rasakan.


Asya, yang walaupun baru dikenalnya kemarin sudah bisa mengambil hatinya sedemikian rupa. Setelah memeluk Asya dan terhenyak ketika wanita hamil itu ternyata membawa kantong belanjaan di sebelah tangannya, Rina tak bisa menahan diri untuk tak menasehati Asya seberapa berbahayanya melakukan hal tersebut.


"Mamah lucu." Bukannya terintimidasi, Asya justru merasa bersyukur atas apa yang Rina lakukan. Dia merindukan hal ini. Nasehat dan perhatian yang sebelumnya pernah hilang, seakan tertebus dan kembali satu persatu.


Kekhawatiran Rina tiba-tiba memudar. Tangan rentanya kembali meraih Asya sebelum mengajak menantunya itu memasuki apartemen.


"Kamu ke sini sama siapa, Sya?"


"Sama supir, Mah."


Rina mengangguk. Wanita paruh baya itu mengambil bungkusan yang Asya sodorkan dan mendekati rak penyimpanan begitu tahu apa isi dari kantong tersebut.


"Kamu udah makan, Sya?" tanya Rina.


Asya mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


"Yah ... Padahal Mamah kira, Mamah mau masakin kamu makanan loh ...."


Asya tertawa kecil. Dia beranjak mendekati Rina untuk duduk di sisi konter dapur dan kemudian menggenggam tangan keriputnya. "Mamah bisa masakin aku lain kali."


"Kamu mau dateng jenguk Mamah lagi?"


"Tentu dong, Mah ... Asya akan rutin jenguk Mamah meskipun gak bisa setiap hari."


Mata Rina berkaca. Sebentuk harapan tumbuh di dadanya. Mungkin kehadiran Asya memang adalah anugerah yang dikirimkan Tuhan sebagai jalan agar dia bisa bersatu kembali dengan anak-anaknya nanti.


"Terima kasih, Sya."


"Mamah selalu aja bilang terima kasih." Nada Asya yang dibuat menggerutu membuat Rina terkekeh pelan.


Asya kemudian menarik Rina ke dalam pelukan dan dibalas oleh wanita itu dengan hal yang sama. Mereka membagi berbagai cerita hari itu. Rina bahkan tak segan memberitahu kepada Asya bahwa dia pernah menikah kembali setelah bercerai dengan Rendi.


Tapi seperti pernikahan sebelumnya, Rina tak bisa mempertahankan biduk rumah tangga itu karena dia kembali menyerah lebih awal. Asya tentu saja bertanya apa alasannya, dan Rina sama sekali tak menutupi bahwa dia mengalami kekerasan rumah tangga yang akhirnya membuat Asya menangis tersedu.


"Kamu kenapa nangis, Sya?" Rina berucap perlahan seraya mengelus punggung Asya yang sedikit bergetar.


Asya membersit hidung, dia memandang Rina dengan pandangan berkabut. "Mamah pasti sendirian waktu itu."


Rina menggeleng. Entah sudah keberapa kalinya dia mengucap syukur kepada Tuhan karena sudah mengirimkan Asya untuk menemaninya. "Mamah gak sendirian."


Asya tentu saja mengerutkan kening mendengar jawaban tersebut. Semula Asya mengira bahwa Rina mempunyai kerabat lain sebagai tempatnya mengadu waktu itu.


Ternyata hal tersebut salah ketika Rina justru membawa beberapa album foto dan memberikannya kepada Asya. Terdapat susunan foto Zidan dan Ana mulai dari bayi hingga mereka beranjak dewasa di dalam sana. Bahkan di beberapa bagian, masih terdapat foto Randi dalam bentuk potret keluarga mereka waktu itu.


Asya makin berkaca. Diusapnya foto-foto tersebut dan perasaan yakin bahwa dia harus mempersatukan keluarga ini menjadi keluarga utuh kembali berkobar dengan kuat.


Asya baru saja hendak kembali berkata ketika dering ponsel mengintrupsi keheningan mereka. Asya merogoh tas kecil yang dia bawa dan mendapati nomor Anita tertera di sana.


"Halo, Anita."


"Asya." Rina menyapa Asya dengan sapaan yang terdengar gelisah.


"Ada apa?"


"Pak Zidan ... Dia mungkin sekarang lagi cari keberadaan ibu Rina."


Asya tahu hal inilah yang akan terjadi. Jadi sebelum bertindak jauh dengan membawa Rina ke apartemennya, tentu saja Asya sudah mengatasi hal ini terlebih dahulu.


"Kamu tenang aja, Anita. Aku udah minta seseorang untuk bantu kita mengenai hal ini. Jadi, kamu gak perlu takut kalau aja Zidan tau kamu yang bantu aku."


...


Like dan Coment...

__ADS_1


__ADS_2