
Part 102
...
Zidan masih terduduk di sana dengan pandangan menerawang ke arah lantai. Lelaki itu membungkuk, memejamkan matanya sesaat sebelum menyugar rambutnya yang terjatuh ke depan dengan menggunakan jari-jari tangan.
Pikirannya kalut. Seharusnya ini merupakan hari membahagiakan baginya mengingat Asya akan melahirkan sekarang. Namun, dengan ketiadaannya di sisi Asya untuk menemani istrinya itu justru membuat Zidan khawatir setengah mati.
Satu jam lalu, tepatnya saat Zidan sedang berada tepat di tengah rapat yang mengharuskannya untuk hadir, Rina menelpon dan mengabarkan bahwa Asya akan segera melahirkan dan mereka tengah berada dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Zidan tercekat. Dia buru-buru keluar dan meminta maaf kepada para karyawan sebelum bergegas dan berangkat untuk menemui sang istri.
"Zidan?"
Panggilan itu membuat Zidan mendongak. Dia menegakkan punggung dan menoleh ke arah Rina yang tersenyum lembut ke arahnya. "Ada apa, Mah?"
"Jangan khawatir, Sayang. Asya akan baik-baik saja."
"Kamu hanya perlu yakin," sambung Rendi.
"Aku." Suara Zidan nyaris menghilang. Dadanya terasa terpilin. Dia khawatir setengah mati. "Aku tahu, Mah, Pah. Dia wanita yang kuat. Tapi ...."
"Apa karena kamu gak bisa menemani dia?" tebak Rina.
Zidan mengangguk. "Iya, Mah."
Rina tersenyum. Kedua tangannya bergerak untuk merangkum wajah Zidan dan mengusap pelipis serta untaian rambutnya yang basah oleh keringat. "Dia akan baik-baik aja. Mamah yakin ...."
Tanpa sadar genggaman Zidan terkepal kuat saat melihat ke arah pintu ruangan bersalin. Pintu itu masih tertutup rapat, tak ada tanda-tanda persalinan Asya selesai atau apapun yang bisa membuat pikirannya tenang.
Zidan kembali menunduk. Menumpukan dua sikunya di atas lutut dan nyaris berteriak ketika seseorang memegang kedua bahunya dan meremasnya sedikit. Lelaki itu mendongak, dan menemukan keberadaan Ana yang terenggah masih dengan setelan jas putih khas kedokteran yang melekat pada tubuhnya.
"Kak Ana?"
"Maaf, Kakak baru dateng."
"Gak pa pa." Zidan menepuk sisi sebelah kanan kursi yang kosong. "Duduk, Kak."
"Asya gimana? Kok kamu bisa di luar? Nggak nemenin Asya di dalam?" Ana memberondong Zidan dengan pertanyaan.
Alih-alih dirinya sendiri yang menanggapi, Zidan justru menoleh kepada Rina hingga membuat wanita paruh baya itu mewakili Zidan untuk menjawab.
"Zidan baru aja dateng, Sayang. Dan Asya sudah tiga puluh menit di dalam sana."
"Dia akan baik-baik aja." Ana turut menyemangati dan menepuk bahu Zidan.
"Apa aku gak bisa masuk, Kak?" tanya Zidan.
Ana memandang dengan tak yakin. "Kita liat, Dan. Ikuti prosedurnya."
Tak lama pintu ruangan bersalin terbuka dengan seorang perawat yang keluar lalu mendekat ke arah mereka. Zidan sontak berdiri. Wajahnya bahkan sangat tegang saat melontarkan pertanyaan.
Suster tersebut menjawab dengan senyum yang tak lepas, lantas memberitahukan bahwa Zidan bisa masuk ke dalam dan menemani proses Asya bersalin.
Zidan tersenyum haru. Meskipun dadanya terasa berdetak cepat ketika memikirkan kemungkinan apa yang terjadi pada istrinya, lelaki itu tetap mengikuti perawat untuk memasuki ruang bersalin setelah melakukan beberapa prosedur yang suster tersebut katakan.
__ADS_1
Di sana, di atas brangkar pasien, Zidan bisa melihat wajah pucat Asya yang berkeringat tengah menatap ke arahnya. Zidan berjalan mendekat, nyaris seperti berlari sebelum menunduk dan menanamkan kecupan dalam di pelipis Asya dan membisikkan kata-kata cinta dan dorongan untuk tetap berjuang.
...
Perjuangan seorang ibu memang sangat besar. Mengandung bahkan melahirkan dengan nyawa yang menjadi taruhannya saat akan membawa sang anak untuk menatap dunia. Semula Zidan tampak acuh mengenai hal tersebut. Dia bahkan memiliki konflik berkepanjangan dengan sang ibu sebelum kesadaran itu merasuk ke dalam pikirannya dan membuat Zidan berlapang dada.
Sekarang, semua perjuangan yang awalnya hanya pernah dia dengar kini tergambar jelas di dapan mata. Zidan bahkan nyaris menangis keras begitu melihat perjuangan Asya dalam melahirkan buah hati mereka.
Istrinya itu mengejan, meringis dan menggenggam erat tangannya dengan mata yang tertutup rapat. Dan dari sekian hal yang bisa dilakukan, mengapa Zidan hanya bisa menyemangati serta menemani tanpa bisa berbuat hal apapun selain itu?
"Sayang, kamu bisa. Kamu pasti bisa, Sayang."
"Zidan!!"
Zidan terus menyemangati. Hingga Asya menghembuskan napas panjang dan kembali mengejan bersamaan dengan suara tangisan bayi yang terdengar setelahnya. Zidan takjub, mematung, dan dadanya pun berdetak keras. Dia kembali jatuh cinta dengan makhluk itu. Anaknya.
"Selamat, bayinya berjenis kelamin laki-laki. Akan kami bersihkan dahulu." Bayi itu diangkat oleh dokter dan ditunjukkan sesaat sebelum diserahkan kepada suster untuk dibersihkan.
Zidan tak berhenti menatap anaknya dengan takjub. Setelahnya lelaki itu menunduk dan kembali menanamkan kecupan di kening Asya yang berpeluh. "Terima kasih, Sayang. Kamu berhasil. Anak kita sudah lahir. Ini hadiah terindah."
Asya hanya tersenyum menanggapinya. Dia merasa bahagia. Rasa sakit yang dirasakan saat proses persalinan, seakan tak berarti apapun saat anaknya terlahir sehat. Malaikat kecil mereka. Buah hatinya dan Zidan.
...
Mungkin selain pernikahan, inilah hari di mana keluarga Zidan dan Asya dapat berkumpul. Zidan masih berdiri di sisi Asya sembari menyuapi istrinya secara perlahan. Wajah Asya masih pucat, tetapi rasa sakit dan lelah sama sekali tak wanita itu tampakkan.
Asya dipindahkan ke ruang rawat inap setelah proses bersalinnya. Ruangannya luas. Selain itu terdapat sofa, meja, serta boks bayi khusus di sisi kiri brangkar Asya yang sekarang sedang dikerubungi baik oleh keluarga Zidan, Asya maupun sahabat-sahabat mereka.
"Sya, nama bayinya siapa?" tanya Fany dengan mata yang masih fokus kepada bayi Asya yang masih tertidur lelap.
Asya tersenyum, dia menoleh ke arah Zidan setelah sebelumnya lelaki itu mengangsurkan segelas air. "Siapa Zidan?"
"Zian Kaivano Revandra." Semua orang secara tak sadar turut mengeja nama bayi yang Zidan cetuskan.
Asya meraih tangan Zidan. "Nama yang indah."
"Kamu suka?" tanya Zidan.
Asya mengangguk sembari manatap ke arah samping. "Aku suka. Zian Kaivano Revandra. Dia dan kamu punya nama yang hampir sama."
"Selain itu wajahnya juga mirip," bisik Rina. Wanita paruh baya itu terharu dan terlihat gemas ketika melihat wajah cucu pertamanya.
Di sisinya Rendi turut merasakan euforia yang sama. Tak segan lelaki paruh baya yang kini sudah mempunyai cucu itu memberi wejangan untuk Zidan agar terus menjaga Asya dan Zian.
Semua memberi selamat, bahkan di sudut ruangan sudah tersusun kado dan hadiah yang diberikan oleh keluarga termasuk para sahabat lelaki Zidan yang berada dalam ruangan. Mereka bahkan tak segan memberi candaan karena di antara mereka berempat, Zidan sudah lebih dahulu menikah bahkan sudah memiliki anak.
Asya tersenyum haru. Om, Tante, Kak Justin, dan Istri serta anaknya yang hadir melengkapi kebahagiaan Asya hari ini. Dia jadi merindukan ayah dan ibunya. Mungkin jika mereka berdua masih ada semua akan terasa lebih lengkap lagi.
"Kamu memikirkan apa, Sayang?" tanya Zidan.
Jemari Asya terpilin. "Aku rindu Papah dan Mamah," bisik Asya.
Zidan yang dapat merasakan perubahan emosi sang istri membawanya kedalam pelukan. "Nanti, kita akan mengunjungi makan orang tua kamu. Mereka pasti senang."
"Iya." Asya mengangguk.
__ADS_1
Lalu rengekan kecil itu terdengar. Baby Zian menguap lalu membuat ekspresi seperti akan menangis yang sejujurnya sangat menggemaskan.
Ana yang semenjak tadi gatal ingin menggendong akhirnya memberanikan diri untuk mengambil Baby Zian dan membawanya dengan pelan ke arah brangkar Asya.
Asya menyambut dan memeluknya dengan perlahan. Seperti keajaiban, Zian yang merengek seketika terdiam di dalam pelukan Asya. Bayi itu mengerjab, memandang Asya seakan dia sadar bahwa sang ibulah yang saat ini memeluknya.
"Zian sayangnya Mamah." Panggilan itu terasa asing. Namun, Asya tahu pasti bahwa inilah yang dia inginkan. Asya menunduk dan menitikan air mata ketika mengecup ujung hidung Zian yang kemerahan.
Setelahnya Asya menoleh. Zidan masih berdiri di sisinya dengan pandangan tak lepas dari anak mereka.
"Kamu mau gendong?" tanya Asya.
Wajah Zidan berubah horor. Sebetulnya dia ingin, tapi takut karena tubuh Zian yang masih begitu mungil.
"Zidan, kamu mau gendong?" tanya Asya sekali lagi.
Baru saja Zidan akan berbicara, suara kekehan tertahan terdengar dari arah samping. Di sana sahabatnya menatap dirinya dengan pandangan mengejek.
"Dasar, masa gak berani gendong."
"Iya, liat tuh mukanya udah pucet."
"Jangan lupa tangannya gemeteran."
Semua ledekan itu membuat Zidan mendelik kesal. Dia kembali memandang Asya. Istrinya itu tersenyum. "Cobalah Zidan. Dia pasti ingin liat Papahnya juga."
Zidan menyambut Zian dengan tangan gemetar. Dia nyaris tak bergerak. Kaku seperti patung. Wajar, ini kali pertamanya.
"Jangan kaku begitu, Zidan," kata Asya.
Akhirnya, Zidan mengayun dan menepuknya pelan. Memandang bayinya membuat Zidan mengingat rasa saat pertama kali dia mengetahui bahwa Asya mengandung. Tak sesaat pun Zidan lalui tanpa memikirkan Asya dan bayinya saat mereka berjauhan.
"Anak Papah, semoga menjadi anak yang berbakti, sayang orang tua dan keluarga, serta menjadi anak yang dapat membanggakan orang-orang di sekitarnya."
Doa itu terdengar oleh seluruh pasang telinga. Doa tulus dari seorang ayah kepada anaknya. Yang kendati terdengar sederhana, tetapi memiliki makna yang besar.
Ini bukanlah akhir. Namun, ini adalah awal dari kisah perjalanan cinta mereka yang masih terbilang singkat. Mereka pernah dipertemukan, dipisahkan, sebelum dipertemukan lagi dengan kesalahpahaman dari masa lalu yang belum terpecahkan.
Hingga kemudian kebenaran itu secara perlahan tersingkap. Memang disertai dengan air mata. Namun, bukankah tak ada kebahagiaan yang bisa diraih tanpa melalui serangkaian ujian dari Tuhan?
...
END.
...
Sorry agak gaje karena belum pernah melahirkan, dan gak tahu prosesnya gimana.
...
Bonus Foto Baby Zian Kaivano Revandra.
Btw, terima kasih yang untuk yang sudah mengikuti, like serta komen dan kasih kritik serta saran untuk novel ini. Tanpa kalian novel ini bukan apa-apa. Mungkin belum sebagus novel karya para penulis lain di noveltoon, tapi aku harap novel aku ini memberikan sedikit kesan untuk kalian yang membacanya.
__ADS_1
Ini udah end. Tapi, aku masih berkeinginan untuk bikin akstra part buat couple lainnya yang gak terlalu diekspos.
Intinya, aku terima kasih banget untuk kalian. Semoga kita berjumpa lagi di karya aku yang selanjutnya ya😘😘🤗