My Devil Man

My Devil Man
MDM- Part 83


__ADS_3

Zidan sama sekali tak bisa tidur bahkan setelah sekian lama dia memejamkan mata. Pikirannya berkelebat, dan Zidan sama sekali tak menyangkal bahwa semuanya disebabkan oleh panggilan telepon yang diterimanya kemarin.


Wanita itu, entah apa yang dia pikirkan hingga menghubungi Zidan. Karena jelas, hubungan mereka selama ini tak bisa dikatakan baik.


Setelah delapam tahun menghilang, mengapa dia kembali menelpon Zidan?


Meski bertahun-tahun tak bertukar kabar, Zidan sama sekali tak bisa melupakan bahkan menghapus paksa kenangan akan semua.


Suara, wajah dan segalanya selalu terngiang. Dan Zidan sakit karenanya. Masih melekat dalam pikiran lelaki itu semua kenangan yang membuat dia menangis, yang membuatnya membenci wanita yang seharusnya dia sayangi--istrinya, Asyanya.


"Zidan...."


Suara itu menyentak lamunan Zidan. Membuatnya menoleh dan merubah posisi--menghadap sang istri yang begitu dia cintai.


"Apa, Sayang?"


Asya mengucek matanya sebelum melirik jam digital di atas nakas. Pukul empat pagi, dan Zidan bahkan masih terjaga. Apalagi melihatnya membuat Asya yakin suaminya itu sama sekali belum tertidur, terbukti dari kantung matanya yang menghitam.


"Kamu kok belum tidur?"


"Gak bisa tidur."


"Kenapa?"


Zidan menggeleng.


Membuat Asya merapatkan tubuhnya ke arah Zidan, meskipun tak bisa serapat yang dia harapkan. Perut buncitnya tetap membentangkan jarang yang walaupun tak seberapa.


"Gara-gara soal tadi, ya?"


Tak ada gunanya berbohong membuat Zidan mengangguk. Dia menunduk, menanamkan kecupan di dahi Asya yang entah mengapa selalu membawakan ketenangan.


"Bener gak mau cerita?" tanya Asya lagi.


Zidan masih tegak pada pendiriannya. Dia tak ingin membuat Asya memikirkan hal yang bisa membuatnya khawatir. Cukup hanya dia saja yang mengetahuinya.


"Kamu tahu jawabannya, Sya."


"Oke."


"Terus kamu kenapa kamu bangun?"

__ADS_1


"Gak tahu, tiba-tiba aja."


"Ya udah, tidur aja lagi."


"Kamu juga tidur," ucap Asya. Tangannya terangkat perlahan, menyapu mulai dari rahang, hidung dan berakhir mengusap rambut sang suami.


Entah karena kelembutan atau karena cinta yang tersalurkan, mata hitam itu perlahan tertutup hingga akhirnya terpejam rapat. Zidan tertidur, membuat Asya mengulas senyum tipis dan ikut menjemput mimpinya kembali.


...


Begitu Zidan menyerahkan kunci mobilnya pada petugas valet dan memasuki lobby, matanya menangkap sosok wanita yang terasa begitu familiyar.


Langkahnya terhenti, tangannya terkepal rapat dan semua itu tak lepas dari pendangan seluruh karyawan yang berada satu lantai dengan si pemimpin perusahaan.


Zidan pucat, rahangnya mengeras, hingga ketika wanita yang terasa familiyar itu menoleh, Zidan sama sekali tak bisa menahan gejolak di dalam dadanya yang berdetum kuat.


"Zidan...," bisik wanita paruh baya itu lirih.


Wajahnya tampak kacau, garis keriput yang tergurat di wajahnya seakan menggambarkan betapa keras hidup yang selama ini dia jalani.


Perlahan, dengan begitu pelan, wanita yang duduk di sofa tunggu itu bangkit dan mendekat. Hingga jarak yang terbentang di antara mereka membuat keduanya bisa memandang dengan jelas wajah masing-masing.


"Bagaimana kabar kamu, Zidan?"


Membuat wanita itu tersenyum masam. Dia meremat dadanya yang terasa sesak. Ya, memang inilah yang seharusnya dia dapatkan.


"Zidan..., Mamah kangen..."


Wanita yang ternyata adalah Rina--ibu Zidan--itu berkata lirih, nyaris menangis ketika menatap anak keduanya yang kini telah tumbuh begitu baik.


"Maaf, tapi anda--" Jeda sesaat, sebelum Zidan kembali melanjutkannya dengan rasa sakit yang begitu menyesakkan, "Saya sama sekali tak mengenal anda."


Dan setelahnya Zidan kembali melangkah. Mengabaikan fakta bahwa bukan hanya Rina yang tersakiti di sini, melainkan dirinya pun merasakan hal yang sama.


Apa yang wanita itu pikirkan? Mengapa baru datang setelah sekian lama pergi jauh?


Lagi, pertanyaan-pertanyaan itulah yang berkelebat.


Zidan menekan pintu lift, dan memasuki kotak besi itu hingga pandangannya dengan sang ibu bertemu.


Tak akan ada yang akan berubah, rasa sakit itu tetap terasa sama, dan Zidan...., dia ingin mengubur itu dengan sangat dalam.

__ADS_1


...


Rina bergerak gelisah. Wanita paruh baya itu memegang perutnya yang terasa perih. Hari sudah beranjak petang dan Zidan sama sekali belum menampakkan dirinya setelah terakhir kali mereka bertemu.


Dia merindukan anaknya itu. Sangat. Menyesal karena tak bisa menemani setiap langkahnya selama ini. Menyesal karena tak memberikan kasih sayang yang seharusnya anak-anaknya terima.


Jelas, semua ini salahnya.


"Zidan..., Ana...," ucap Rina lirih.


Ah, bagaimana kabar anak pertamanya? Terakhir kali dia mendengar kabar, anaknya itu sudah berprofesi sebagai dokter sekarang.


Membuat Rina mengucapkan syukur berulang. Bangga akan anak-anaknya yang sudah sukses dan bisa meraih apa yang mereka inginkan.


Menit kembali berlalu, membuat Rina menghela napas. Apakah sebegitu benci Zidan kepadanya, hingga anaknya itu enggan bertemu.


Namun, semua pemikiran itu seakan musnah saat dia melihat keberadaan Zidan yang mendekat ke arahnya.


"Zidan...."


"Kenapa belum pulang?"


"Mamah nunggu kamu, Nak."


Zidan terdiam dengan pandangannya yang teramat datar. Meski hatinya bergejolak dan tak bisa menyembunyikan kekhawatiran yang teramat pada sosok ibunya itu.


Wajahnya tampak pucat, hingga kemudian tanpa Rina terka--Zidan mengandeng tangannya dan membawanya keluar dari bangunan pencakar langit itu.


"Zidan mau bawa Mamah ke mana?" tanya Rina begitu Zidan menuntunnya memasuki mobil.


Zidan tak menjawab, dia justru memajukan mobilnya hingga kemudian berhenti di sebuah restoran yang tak jauh dari perusahaan.


Mereka tetap diam, hingga ketika Zidan selesai memesan beberapa menu hidangan, lelaki itu mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam dengan campuran gold dari sakunya.


"Mamah---" Suara itu terdengar begitu berat. "Mamah bisa pakai kartu ini kalau mamah butuh tempat menginap. Ada satu hotel, gak terlalu jauh dari sini. Mamah bisa naik taksi untuk ke sana."


Rina terhenyuh. Meski datar, dia bisa melihat ketulusan di mata hitam anaknya.


"Dan, oh ya...," ucap Zidan lagi, lelaki itu mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan. "Pakai ini untuk bayar taksi. Mamah bisa makan setelah ini, dan langsung pergi ke hotel itu jika memang Mamah butuh tempat menginap."


Setelah mengucapkan kalimat itu, Zidan pun pergi. Meninggalkan Rina yang menatap sendu ke arahnya di belakang sana.

__ADS_1


...


Like dan Coment


__ADS_2