
Ketika Asya dan Raihan kembali, semua orang sudah berkumpul di atas gazebo dan tersenyum ke arah mereka. Matahari sudah meninggi, membuat yang lain terpaksa memilih berteduh, ketimbang harus bermain air dipinggir pantai.
Dibantu oleh Raihan menaiki gazebo, Asya mendapatkan tempat duduk disebelah Ana yang sudah menyiapkan makanan untuknya.
Bekal yang di bawa mereka memang tidak banyak. Hanya beberapa roti lapis, buah-buahan, air mineral dan minuman kaleng seperti soda.
Asya menelan ludahnya kasar. Mungkin karena bawaan ibu hamil, membuat dirinya memandang roti itu penuh minat. Ana tersenyum, perempuan yang memakai dress kuning itu menyerahkan sebuah roti lapis dan langsung disambut Asya dengan senang.
"Makasih kak."
"Sama-sama, kamu kemana aja tadi? Seharusnya kamu main sama kita, bikin istana pasir."
"Keliling aja, kak."
"Oh."
Selanjutnya mereka mulai memakan makanan. Suasanya yang tadinya hanya berisi percakapan orang sekitar, kini berganti dengan perdebatan Andi dan Fany yang tak dapat dielakkan.
"Ngapain lo ambil makanan gue? Lo kan punya sendiri!"
"Dikit doang, pelit amat!"
Fany berdecak, meletakkan roti lapis itu kembali keatas piring plastik. "Lo itu kerjaannya gangguin gue mulu ya? Dari tadi kayaknya lo gak suka banget liat gue tenang!"
Dirasa perdebatan akan berlanjut dengan hebat, Yuda yang memang duduk di sisi Andi bergegas merangkul lengan sahabatnya, menepuk bahunya pelan. "Sabar An, sabar.."
"Gimana mau sabar?" Andi menatap Fany nyalang. "Ni cewek lagi pms apa ya?!"
"Udah, sabar.."
"Iya, kalau memang gue lagi dapet kenapa, huh?! Lo gak suka!" menyela, Fany mulai mengambil ancang-ancang menyerang.
Semua yang melihat itu hanya bisa menggeleng kepala, termasuk Asya. Menurutnya, Fany dan Andi tak bisa akur bersama, namun itulah yang justru membuat mereka tampak saling menyukai dalam arti yang tak bisa diterka.
"Kalian cocok deh kalau barengan." perkataan itu dengan luwes diucapkan Asya, yang sontak membuat semua orang menatap ke arahnya, termasuk Andi dan Fany yang sebelumnya bertengkar.
"Gak akan!" jawab mereka kompak setelah sebelumnya saling berpandang singkat.
"Gak mungkin gue cocok sama makhluk nyebelin gini, Sya. Lo bercanda deh.."
Mendengar hal itu membuat Andi merasa tersinggung. Dengan gerakan cepat lelaki itu merangkul leher Fany dan mengapitnya kuat. "Lo kira gue bakalan cocok sama cewek hipertensi kayak lo? Gak bakal!"
"Lepasin!!"
"Gak akan!"
"Lepasin gak?!"
"Bisa diem gak sih kalian?!" Wajah Ana sudah tampak memerah, bahkan roti lapis dalam genggamannya sudah tak bisa dideskripsikan lagi bentuknya seperti apa.
__ADS_1
Sedari tadi dia telah diam, memperhatikan dan menunggu kemungkinan untuk dua makhluk itu berhenti. Namun saat dirasa pertengkaran mereka malah semakin menjadi, terpaksa membuat Ana berteriak, menghentikan.
"Kita ini mau liburan, oke? Kita disini mau santai, dan main bareng. Bukan malah berantem gak jelas gini. Ngerti kalian?!"
Aura intimidasi Ana menguar, hal itu menyebabkan semua terdiam, kecuali Asya yang dengan sigap bergerak dan menepuk perempuan itu pelan.
"Udah lah, kak. Namanya juga mereka, pasti gitu mulu. Kita lanjut ya?"
"Yaudah.." Ana menghela napas, lalu berkata, "Ayo kita lanjut makannya."
...
Zidan menghembuskan napas pelan begitu memasuki kamar hotelnya. Lelaki yang kini terduduk dan menyandar disandaran sofa, memejamkan matanya singkat. Ada guratan lelah disana, terbukti dari bulatan hitam yang mengelilingi mata, dan wajahnya yang kuyu tersinari lampu ruangan.
Seharian ini, tepatnya dari pagi hingga sore, Zidan harus bertahan ditanah lapang tempat dimana pembangunan hotel dilaksakanakan. Setidaknya lelaki itu bisa sedikit berapas lega. Masalah mengenai bahan pembangunan dari pemasok telah diselesaikan.
Kembali menghela napas, Zidan merogoh saku dan mengambil ponselnya. Deretan panggilan tak terjawab dari Asya terpampang dilayar. Zidan mengangkat sudut bibirnya tipis, sebelum itu berubah menjadi guratan heran.
Notifikasi pesan via WhatsApp dari nomor tak diketehui masuk kedalam ponselnya. Mengerutkan kening, Zidan membuka pesan itu. Beberapa potret blur tampak tertera disana.
Kemudian dengan ragu Zidan menekan tombol unduh. Tatapan datar kini berubah menjadi tatapan tak terbaca. Berbanding terbalik dengan gutatan urat nadi yang tercetak jelas ditangannya.
"Apa-apaan ini!!"
Zidan menatap nyalang, dadanya terasa sesak, matanya menyipit dengan geram. Disana, tepat dilayar ponselnya tertera gambar Asya yang sedang berpelukan bersama Raihan, bukan hanya satu melainkan dua potret yang diambil di tempat berbeda.
Lelaki itu merasa deja vu. Kejadian ini pernah -- tepat dialaminya kurang lebih tujuh tahun yang lalu. Dan kerenanya Zidan tau siapa dalang dari semua ini.
Esfi.. ya, pasti perempuan itu.
Dengan cepat Zidan mendial nomor itu walaupun enggan, tak berapa lama panggilan tersambung, disambut dengan kekehan licik disebrang.
"Maksud lo apa, Fi?!" tanya Zidan to the point.
'Ya, maksud gue itu.'
"Maksud lo apaan si*lan!! Maksud lo apaan ngirimin gue foto beginian?!"
'Zidan, jangan bilang kalau lo itu cowok bego? Lo taukan itu foto apa? Itu foto cewek yang lo bangga-banggakan kesuciannya. Dan lo tau apa? Dia selingkuh.' Kekehan sekali lagi kembali terdengar.
"Gue gak akan percaya! Gue tau lo cuma mau hancurin hubungan gue kan?"
'Sayangnya nggak tuh. Gue cuma mau ngasih tau, kalau cewek suci yang lo banggain itu main gila dibelakang lo.'
Darah Zidan memanas, membuat lelaki itu menggebrak meja di depannya dan kembali berkata, "Denger ya Fi, kalau lo berharap gue balik lagi sama cewek murahan sejenis lo, lo jangan harap! Sampe dunia berakhir pun, lo tetap sampah bagi gue!"
'Dan sayangnya, cewek suci lo sejenis kayak gue. Murahan! Oh ya, foto yang satu itu gue ambil hari ini. Mereka romantiskan kalau lagi nge-date? Hahaha..'
Setelahnya, sebelum Zidan kembali berkata, perempuan di sebrang lebih dahulu memutuskan panggilan.
__ADS_1
Zidan kembali menatap layar ponselnya berang. Lelaki itu dengan cepat mendial nomor Asya. Panggilan pertama, panggilan kedua, bahkan hingga yang entah keberapa, Asya tak kunjung menjawab. Membuat Zidan kembali panas karenanya.
Lelaki itu segera bangkit, melepaskan jas dan dasinya serampangan. Berjalan menuju lemari pendingin yang tersedia, Zidan mebuka dan mengambil sekaleng bir lalu meneguknya cepat.
Otaknya perlu didinginkan. Potret dimana Asya memeluk Raihan yang notabennya adalah mantan dari perempuan itu membuat pikirannya tak jernih.
Zidan marah, Zidan kecewa dan dia perlu jawaban secepatnya. Ya, dia harus pulang besok, bagaimanapun caranya. Dia harus menanyakan kepada Asya secara langsung. Karena..--
--.. dia tak ingin kejadian yang sama, terulang kembali..
...
Ketika mereka pulang, hari sudah menggelap. Raihan telah mengantar Asya, Ana dan Fany yang memilih menginap dirumah sahabatnya itu.
Dan kini hanya menyisakan mereka. Tiga lelaki yang tampak bersandar dibadan mobil, sambil merundingkan sesuatu.
"Lo bilang, tadi lo sempet ngerasa diikutin gitu?" Yuda bertanya.
Raihan mengangguk singkat. "Iya, gue.. entahlah, waktu gue jalan sama Asya tadi, kayak ada yang ngikutin."
"Itu bahaya." Kini Andi lah yang berbicara, lelaki itu menyelipkan sebatang rokok dan menghirup sebelum menghembuskan asapnya. "Gue takut kejadian yang sama ke ulang lagi."
"Gue juga," sambung Yuda, membuat Raihan mengernyit.
"Kejadian apaan?" tanya Raihan cepat.
Andi menghela napas, melirik kearah Yuda yang mengangguk, seakan mengijinkannya menceritakan masa lalu sepasang kekasih itu.
Bersedekap, lelaki itu mulai berkata, "Tujuh tahun lalu, Asya jadi anak baru di SMA kita. Karena sebuah kejadian gak terduga, Zidan tertarik sama Asya. Gue sama Andi bahkan gak nyangka Zidan bisa gitu. Dia yang dingin, jadi cowok perhatian begitu ketemu Asya. Bisa dibilang si, waktu itu Zidan pengen jadiin Asya ceweknya..,
..tapi hal gak teduga terjadi, Zidan tiba-tiba benci sama Asya. Dan itu semua karena Esfi. Keluarga Zidan waktu itu ancur banget, dia bisa dibilang anak broken home."
"Karena Esfi? Maksud lo gimana?"
"Esfi waktu itu ngasih ke Zidan satu amplop." Kali ini Yuda yang menyambung. "Di dalem amplop itu ada foto Asya sama bokap Zidan lagi pelukan. Zidan kalap, apalagi perceraian orang tuanya karena katanya ada orang ketiga. Ya, lo tau lah setelahnya apa yang terjadi, Zidan kira Asya yang nyebabin semua itu. Zidan hancur begitupun Asya, apalagi waktu itu dia juga lagi berduka karena bokap dan nyokapnya meninggal."
"Dan setelahnya?" tanya Raihan cepat, entah mengapa hatinya kini memanas.
"Ya, mereka sama-sama hancur. Asya pindah sekolah karena di DO. Sedangkan Zidan milih keluar negeri buat lanjutin pendidikan. Padahal gue tau tujuan dia buat menghindar dari 'nyariin' Asya. Dan satu lagi, dia harus rela pacaran sama si medusa -- Esfi, karena perjanjian."
Kepala Raihan menunduk karenanya. Penjelasan Andi dan Yuda sudah cukup menjawab semua pertanyaan dalam benaknya selama ini.
Sekarang, satu yang dia pikirkan.
Hubungan Asya dan Zidan bagaimana pun harus bisa bertahan..
...
Vote, like dan coment ya..😊😊
__ADS_1