My Devil Man

My Devil Man
MDM- Part 80


__ADS_3

Asya terbangun karena kecupan hangat yang terus mendarat di atas pelipisnya. Dia mengerjab, remang kamar membuatnya mengucek mata dan mendapati Zidan--yang tidur menyangga pada siku--tengah menatapnya dalam.


"Ada apa, Zidan?" tanya Asya serak.


Zidan menggeleng dan kembali mendaratkan kecupan. Membuat Asya hanya tersenyum dan melirik jam digital di atas nakas yang menunjukkan waktu tengah malam.


"Kamu gak bisa tidur?"


"Bukan..."


"Terus?"


"Aku boleh pergi sebentar?" Zidan bertanya pelan.


Dia sedikit tak tega meninggalkan Asya yang sedang mengandung di tengah malam seperti ini, apalagi mengingat kebiasaan baru istrinya yang kerap bangun tengah malam atau dini hari untuk mengemil makanan ringan.


"Ke mana?"


"Ketemu Raihan..."


"Sendiri?"


"Nggak, ada Andi dan Yuda juga. Mereka udah nunggu aku di caffenya Yuda."


Asya menghela napas, dia mengerjabkan maniknya yang terasa berat karena masih mengantuk. Hingga tak ada pilihan lain kecuali mengijinkan Zidan pergi, toh ada tiga orang lain yang akan bersamanya.


"Yaudah, kamu boleh pergi."


"Aku gak akan lama..."


"Aku tau.." Asya tersenyum dan terpejam saat Zidan menyerukan kembali ciuman di pelipis dan sebuah ciuman singkat di bibir.


Zidan menarik diri, turun dari ranjang dan membetulkan letak selimut yang melingkupi tubuh Asya sebelum beranjak keluar kamar.


Tubuh yang hanya dibalut pakaian santai itu keluar dari mansion, di mana satu penjaga telah menyiapkan mobilnya lebih dulu untuk dia kendarai malam ini.


Tak butuh waktu lama bagi Zidan untuk sampai di salah satu caffe milik sahabatnya. Dari luar, Zidan bahkan bisa melihat Yuda dan Andi yang tengah mengobrol dengan Raihan.


Dia memasuki caffe tersebut, dan hanya bisa menggeleng begitu mendapati banyak kaleng bir yang tergeletak bersama dengan bungkusan camilan dengan kondisi yang sama pula.


"Ada apa?" tanya Zidan mengambil duduk di samping Raihan, berhadapan dengan Andi dan Yuda.


"Tanya aja tuh cowok di samping lo," jawab Yuda dengan kekehan kecil, lelaki itu beranjak--hendak mengambil camilan, dan meninggalkan mereka bertiga di sana.


"Ada apa sama Raihan?" Kali ini Zidan bertanya pada Andi, namun lelaki itu hanya mengendikkan bahu tanpa ingin membuka suara sedikitpun.


Hal itu kontan membuat Zidan mengalihkan pandangan. Raihan tampak kacau dengan wajah pucat tak bersemangatnya itu.


"Ada apa, Han? Lo bisa cerita kok."


"Gimana keadaan Ana?"


Meski mengernyit, Zidan tetap menjawab, "Baik-baik aja, dia udah sehat."


"Syukurlah..."

__ADS_1


"Sebenarnya lo kenapa, sih?"


"Dia galau, bro...," celetuk Yuda menambahkan. Lelaki itu duduk dengan dua bungkus makanan ringan di tangannya.


Membuat Andi yang sedari tadi hanya memerhatikan, membuka suara seraya terkekeh. "Bener tuh. Lo memang gak tau dia kenapa, Dan?"


Zidan terdiam dan berpikir, dia mencomot keripik kentang yang ada di hadapannya sebelum menggeleng. "Memangnya kenapa?"


"Gue sama Ana..."


Perkataan lemah dari Raihan menarik atensi tiga lelaki itu. Mereka memandangnya dalam, seakan meminta penjelasan atas keterdiamannya selama ini.


"Dia masih marah sama gue...," sambung Raihan lemah.


Yang membuat mereka kompak menghela napas bersamaan. Seakan prihatin dengan keadaan lelaki tersebut, Zidan, Andi dan Yuda menepuk bahunya bergantian.


"Kakak gue memang keras kepala, Han. Lo harus sabar hadapin dia," ucap Zidan miris mengingat kakaknya dalam keadaan sakit 'pun menolak keras kehadiran lelaki itu.


Raihan hanya mengangguk menanggapinya.


"Jadi benar lo suka sama Kak Ana, Han?" tanya Andi.


Yang ditanya hanya diam, tampak masih menelaah perasaan yang ada di hati terdalamnya sekarang.


Membuat semua lelaki itu kembali menghela napas.


"Han..." Yuda memanggil. Raihan yang mendengarnya 'pun mendongak. "Gue sama Andi udah kenal Kak Ana dari lama, dia baik.... Gue yakin dia bakal maafin lo, asal lo bener-bener tulus..."


...


Ana menghindari Raihan seperti hama. Dia berjalan cepat melewati koridor Rumah Sakit untuk menjauhi Raihan yang entah sejak kapan sudah ada di sini dengan dalih menjemputnya.


Ana terenggah, dia menoleh dan masih mendapati Raihan yang terus mengikuti. Kondisi tubuhnya yang memang kurang fit menambah daftar panjang kesialannya hari ini.


"Ana..."


Mendengar namanya dipanggil membuat Ana mengalihkan pandangan. Keterkejutan akan apa yang didapatinya di hadapan tak bisa dia sembunyikan sama sekali.


"Ternyata ini beneran lo?"


Ana menggeram, dia memandang lelaki itu dengan nyalang. Joshua--mantan kekasih sekaligus penghianat--kini tampak berdiri angkuh di hadapannya.


"Ngapain lo di sini?" tanya Ana ketus, tak ada lagi kata aku dan kamu diantara mereka berdua seperti dulu.


Penghianatan yang di dapatkan tak mudah untuk dimaafkan, itu menurut Ana.


"Gue nemenin istri gue ke Rumah Sakit ini." Joshua menatap Ana remeh, menekankan kata istri seakan mengejek nasib perempuan yang pernah menjadi kekasihnya "Istri gue lagi hamil."


Mendengarnya membuat Ana memejamkan mata. Tiba-tiba bayangan itu kembali hadir. Bagaimana lelaki ini dengan kurang ajarnya bermain kotor, menghianatinya dan memperlihatkan adegan tak senonoh kepadapnya tanpa rasa bersalah sedikit 'pun.


"Oh.." Ana menanggapinya dengan malas. "Selamat deh, gue ikut bahagia."


Ana hendak beranjak ketika tangannya dicekal kuat. Sekali lagi dia menghela napasnya pelan, lalu memandang Joshua nyalang tanpa rasa takut sedikitpun.


"Lepasin gak?!"

__ADS_1


"Lo udah berubah ya sekarang?"


"Ya, gue udah berubah. Gua gak mau terjebak sama cowok br*ngsek kayak lo lagi untuk yang kedua kalinya!"


"Lo...!!"


"Apa?! Lepasin gak?!"


Bukannya menuruti perkataan Ana, Joshua justru menarik perempuan itu untuk mengikutinya dengan kasar.


Dan itu tak luput dari penglihatan Raihan yang sedari tadi memerhatikan. Merasa sesuatu yang berbahaya akan terjadi dan menimpa Ana, Raihan mengikuti langkah dua orang itu dengan cepat.


Dia sedikit mengernyit begitu melihat Ana dibawa ke sebuah koridor yang cukup sepi.


Di sisi lain, Ana terus memberontak. Tubuhnya tiba-tiba terpojok saat Joshua dengan kurang ajarnya mendorong tubuhnya kasar ke dinding.


"Lo mau ngapain, hah?!"


"Gue gak nyangka lo sekasar ini."


"Gue gak peduli!" ucap Ana ketus hendak berusaha pergi ketika tangannya kembali dicekal.


Ana meringis dan menggigit bibirnya pelan, rasa sakit dari cengraman lelaki ini berusaha untuk dia tahan sebisa mungkin.


Dan Joshua yang melihatnya menyadari hal tersebut. Perempuan ini masih lemah namun keras kepala seperti dulu, membuatnya ingin sekali menghancurkan dinding itu.


"Lo masih sama ternyata, pura-pura kuat untuk mencari perhatian..." Joshua menyeringai, mendekat dan menipiskan jarak.


Membuat Ana kelabakan, dan mencoba mundur hingga punggunya itu kembali menempel di dinding.


Dia benci ini. Dia benci pernah jatuh cinta dan memberikan rasa tulus pada lelaki yang ternyata tak menghargainya. Dan dia lebih membenci menjadi lemah bahkan untuk lelaki yang menyakitinya.


...


Raihan sudah tak tau lagi harus bagaimana saat ini. Tubuhnya panas dengan apa yang baru saja dia lihat di depan matanya sendiri.


Tangannya terkepal saat memandang Ana terpojok oleh lelaki asing yang menurut Raihan pantas untuk dihajar.


Dan entah kemarahan yang asalnya datang dari mana, Raihan mendekat--menarik kerah lelaki itu dan memukul wajahnya kuat hingga dia 'pun terjerembab.


Selanjutnya, andai Ana tak menahan tubuhnya dengan memeluknya, dapat dipastikan lelaki bernama Joshua itu sudah babakbelur dibuatnya.


"Raihan... Stop...."


"Tapi, An..." Napas Raihan memburu, dia terpejam berusaha meresapi pelukan Ana pada tubuhnya.


"Kita pulang....," ucap Ana final.


Dia menarik tangan Raihan dan menoleh sekilas pada Joshua yang masih menyeka darah pada sudut bibirnya.


Selanjutnya, Ana membawa Raihan ke taman Rumah Sakit dan mendudukkan lelaki itu di bangku kayu panjang yang berada di sana.


"Sekarang aku mau tanya," ucap Ana memandang Raihan dalam. "Ngapain kamu ke sini?"


"Aku mau ketemu kamu...."

__ADS_1


...


Like dan Coment


__ADS_2