My Devil Man

My Devil Man
MDM- Part 100


__ADS_3

Harum hidangan menyeruak, kesan kekeluargaan dan kehangatan terasa begitu pekat. Namun, ada sesuatu yang kurang di sana. Asya tak bisa menampik bahwa semua tak terasa lengkap apabila tak ada Zidan di antara mereka.


Dia tersenyum masam. Masih menunggu di sisi konter, matanya melirik penuh teduh ke arah Rina, Ana dan Fany yang masih sibuk dengan masakan. Asya ingin terlibat, tapi semua orang melarang dan memintanya hanya duduk manis dan menunggu.


Tak jauh dari dapur, tepatnya di ruang makan-- para lelaki--menyiapkan meja makan. Mulai dari piring, gelas, dan segala perlengkapan lainnya tersusun dengan apik di atas taplak. Beberapa menit berselang, makanan siap dan tinggal dihidangkan ke atas meja.


Bel berbunyi. Semuanya sontak menoleh ke arah pintu yang terlihat tepat dari ruang makan. Asya mengernyit. Berinisiatif membuka, Asya mengisyaratkan kepada seluruh orang untuk tetap di tempat sedangkan dirinya berjalan pelan untuk membuka pintu.


Asya tercekat untuk beberapa saat, matanya menggambarkan rasa penasaran dan bingung di satu sisi ketika pintu terbuka dan memperlihatkan seseorang di baliknya. "Zidan ...," ucapnya berupa cicitan.


Zidan hanya bergeming dan tersenyum tipis meskipun dadanya sudah berdetak tak karuan sekarang. Dia memandang Asya. Sebelah tangannya menenteng tas kain berisi beberapa buah-buahan yang memang sengaja dia bawa untuk berkunjung ke tempat itu.


"Asya ...."


"Akhirnya kamu datang, Zidan." Memotong perkataan lelaki itu, Asya menggandeng tangan Zidan dan membawa sang suami untuk memasuki apartemen.


Tak ada yang tak terkejut dengan kehadiran Zidan di sana. Semua kegiatan yang sudah usai membuat semua yang berada di sana berjalan ke ruang tengah dan duduk di sofa dengan tatapan keheranan.


Seharusnya Zidan tahu ini yang akan terjadi. Ketika memutuskan untuk berubah dan mengikuti kata hati, Zidan sudah mempersiapkan dirinya sebaik mungkin, dia tak ingin berbuat hal atau berkata yang tidak-tidak, jika nantinya akan memperkacau suasana.


Keadaan hening, tak ada yang berniat membuka percakapan. Zidan terdiam. Matanya bergerak perlahan sebelum memaku pandangan pada wajah sendu Rina yang kini balik menatapnya.


Berapa tetes air mata yang sudah ibunya keluarkan karena dirinya? Zidan bertanya dalam hati. Terpilin dan perih ketika mendapati kesenduan di tatapan ibunya yang lembut.


Apakah perkataannya tempo hari menyakiti wanita itu dengan sangat? Zidan bodoh jika mengajukan pertanyaan itu. Tanpa ditelaah pun, Zidan tahu perkataan yang diucapkannya kemarin dalam kemarahan tentu saja terasa menyesakkan.


"Masakan udah selesai, kan?" Suara Asya mengintrupsi keheningan.


Fany mengangguk. Memilih berdiri dan mencolek sisi pundak Andi yang memang duduk bersebelahan dengannya. "An, bantuin aku, yuk."

__ADS_1


Dua orang beranjak pergi. Ditinggalkan di sana, membuat Ana memutuskan untuk membantu--paham bahwa sang ibu dan adik membutuhkan waktu berdua. Dia berdiri lalu melangkah diikuti Yuda dan Raihan di belakangnya.


Hanya tersisa empat orang di sana. Asya mencoba menelaah. Zidan tentunya sudah berubah. Tak akan mungkin bagi Zidan untuk datang jika ego yang dimilikinya tak juga hilang.


"Zidan ...."


Panggilan itu membuat Zidan menoleh. Tangannya yang terasa tengang, Asya raih untuk kemudian digenggam dengan hangat. "Terima kasih udah datang."


"Asya, aku--"


"Aku tahu." Asya mengangguk singkat.


Rendi berdehem. Melihat Rina sekilas dari ekor matanya, lelaki paruh baya itu mengalihkan perhatian sebelum berkata, "Zidan, Papah senang kamu datang ke sini. Papah yakin kemarahan di antara kamu dan Mamah kamu perlu diselesaikan. Papah cuma mau mengharapkan kalau kamu mau mendengarkan semua, Nak."


"Aku mengerti, Pah," jawab Zidan. Matanya menatap sendu ke arah sang ibu yang kini sudah menunduk. Dia mengalihkan perhatian kepada Asya untuk sesaat--memberi isyarat lewat pandangan.


Tak butuh isyarat lebih lanjut untuk membuat Asya mengerti. Karena setelahnya, wanita hamil itu ikut memberi ruang dengan memapah lembut tangan Rendi bersamanya.


Tubuh renta itu menjauh perlahan. Melihatnya membuat Zidan otomatis berdiri dan duduk di sisi Rina. Sekali lagi, rasa bersalah menguhujamnya hingga membuatnya berkata, "Mah, maafin Zidan."


Rina mendongak. "Maaf?"


"Maafin Zidan. Zidan salah, Mah. Seharusnya Zidan sadar bahwa masa lalu tetaplah masa lalu. Seharusnya Zidan--"


"Kamu gak salah, Zidan. Kamu ... kamu gak salah." Air mata kali ini tak dapat dibendung. Rina bergetar hebat. Tangan dengan gurat itu terangkat sebelum merangkum wajah sang anak dan mengelusnya.


Pandangannya memburam. Tak pernah terbayang sebelumnya bahwa sang anak sendirilah yang akan datang dan kembali memperbaiki hubungan yang sebelumnya sudah sangat rentan.


"Kamu gak salah." Rina kembali berkata. "Mamah yang salah, Nak. Meninggalkan kamu dan Ana, Mamah bahkan pergi menjauh dari kalian dan ... dan ... membuat kalian kurang mendapatkan kasih sayang."

__ADS_1


Pecah sudah. Zidan tak tahan. Air mata di pelupuk yang sudah menggenang, meluncur tertahan kala dia merengkuh tubuh sang ibu ke dalam pelukan. Mungkin ini adalah pelukan pertama kali yang mereka lakukan selama hampir beberapa tahun berselang yang mereka lalui tanpa pertemuan.


Zidan memejamkan mata. Meresapi rasa hangat yang masih terasa sama meskipun baru bertahun kemudian kembali terjadi.


"Mama sayang Zidan ...."


Zidan mengangguk. Kali ini dia sadar, memaafkan bukan berarti mengalah akan situasi. Memaafkan berarti membuka lembar baru dan membuang apa yang buruk agar hidup menjadi tenang.


Dia telah merengkuh ketenangan sekarang. Keluarganya kembali lengkap. Mimpi buruk yang selalu terjadi, kerinduan yang menyiksa batin dan rasa iri melihat keluarga orang lain yang lengkap--tergerus dan perlahan menguap bersamaan dengan hatinya yang membuka pintu maaf.


Zidan sadar, di sini bukan hanya sang ibu lah yang bersalah. Dirinya pun turut melakukan hal yang sama dengan angkuh dan memilih menutup mata bahkan tak mendengar kata hati. Zidan menyesal ....


"Mamah harus janji gak akan tinggalin Zidan lagi, Mah." Itulah perkataan yang Zidan lontarkan ketika pelukan yang sarat akan rindu itu terhela.


Rina mengangguk. Menepuk bahu Zidan, beralih mengusap pipi sang anak yang basah oleh air mata haru dan kerinduan. "Mamah janji ... dan akan berusaha untuk selalu berada di sisi Zidan dan Ana. Melihat kalian meraih kebahagiaan. Ikut sama-sama merasakan itu. Mamah akan berusaha, Sayang. Temani Mamah, ya?"


"Iya, selalu, Mah."


...


Memaafkan indah bukan? Di saat hati yang retak berusaha kembali untuk tersembuhkan. Terkadang kita tak sadar, memaafkan lebih dari sekedar berdamai dengan keadaan. Hati ikut menerima imbasnya. Ketenangan, cinta dan rasa damai merengkuh kita dan menyembuhkan secara perlahan.


...


Cuap cuap dikit boleh gak sih? Mungkin ada yang masih nunggu novel ini, mungkin juga nggak.🤔🙄 Jujur dalam masa sebulan ini aku males banget buat nulis, nulis sepuluh kata dan berhenti karena berbagai halangan yang sebenernya gak terlalu menghalangi.


Aku perlu piknik deh kayaknya, dan Alhamdulillah setelah jalan2 ke beberapa tempat aku balik nulis lagi deh. Semoga masih ada yang nunggu kelanjutan novel ini.


Mungkin tinggal dua part utama lagi untuk season pertama dan setelahnya akan aku tulis sepuluh part dari couple lain juga. Sthh ... rencana sih mau nulis season dua🤭🤫

__ADS_1


Tetap tunggu dan semangati aku guys, karena tanpa kalian, aku dan novel ini bukan apa-apa. Hanya remahan peyek yang akan lembek dan alot gegara disimpen kelamaan. Terima kasih atas dukungannya. Terus sayang anak aku satu ini ya.🤭🤭


Like dan coment jangan lupa.😘😘


__ADS_2