My Devil Man

My Devil Man
MDM-Part 31


__ADS_3

Suasana ramai seakan tak menyentuh sepasang manusia yang masih saling terdiam,mata mereka saling menatap teduh,jari mereka saling terjalin dalam genggaman. Sesaat dunia sepenuhnya berhenti berputar diantara mereka.


Hingga Asya mulai menyadari satu hal, setiap kata yang Zidan lontarkan entah mengapa dapat menggetarkan hatinya.


Pandangan dia alihkan ketika rasa getar itu mulai menjadi,bibirnya kelu hendak berkata,namun dia paksakan untuk mencairkan suasana canggung diantara mereka.


"Zi.. Zidan..". Lirih Asya ragu.


Zidan tersenyum simpul kala maniknya menangkap semburat kemerahan dipipi Asya,tampak manis menurutnya. "Emm.. apa Sya?".


"Ayo.. kita lanjut jalannya.. udah lama kita berdiri disini..".


"Ayo kalau begitu..".


Lelaki itu mengapit tangan Asya diantara siku,seakan takut kehilangan kekasihnya. "Mau naik wahana apa?". Tanyanya.


Asya menoleh ke arah Zidan,kemudian pandangan dia edarkan ke sekeliling area,hingga mata binarnya terpaku kepada sesuatu,bukan wahana permainan melainkan gumpalan gula kapas yang dijajakan di salah satu stand jajanan.


"Zidan aku mau itu..". Tunjuk Asya.


Zidan mengikuti arah tunjuk perempuan itu lalu dahinya berkerut dalam. "Kamu mau gula kapas itu Sya?".


"Iya.. aku mau itu..". Asya mengangguk semangat dan menarik Zidan mengikutinya.


"Kamu yakin mau itu?".


"Iya.. aku mau banget..".


Mata Asya berbinar ketika memandang susunan gula kapas yang berjejer indah,kemudian mulai memilah gumpalan kapas berwarna warni itu dan memilih kemudian.


"Bang.. saya mau yang warna pink..".


Orang yang menjajakannya hanya menganguk dan mengambil gula kapas yang dimaksud. "Ini neng gula kapasnya..".


"Berapa bang?".


"Limabelas ribu aja neng..".


Asya merogoh tas selempang yang dibawanya,mengambil selembar limapuluh ribu dan menyerahkannya.


"Ini bang..".


"Aku aja Sya..". Zidan sedikit menggeser tangan Asya dan menyerahkan uang kepada penjaja gula kapas itu.


Penjaja gula kapas tersenyum,melihat tingkah laku pasangan kekasih dihadapannya. "Beruntung banget neng.. punya pacar gak pelit..".


Asya tersenyum simpul dan tersipu malu,semburat kemerahan kembali tampak jelas di pipinya. "Iya bang..".


Setelah mengambil kembalian,Zidan kembali menarik tangan Asya,mengajaknya untuk duduk disalah satu kursi santai yang tersedia tepat dibawah salah satu pohon rindang yang tak jauh dari mereka berada.


"Duduk dulu Sya..".


Asya menganggung dan duduk santai,tangannya mulai membuka bungkus gula kapas itu dengan riang. "Makasih ya.. kamu udah mau bayarin..".


"Iya gak pa-pa..". Zidan ikut duduk disisi Asya. "Kamu aneh..". Ujarnya kemudian.


"Aneh? apanya yang aneh?". Tanya Asya dengan tangan yang sibuk menyuapkan gula kapas ke dalam mulutnya.


"Kamu suka manis-manis memangnya?".


Sesaat Asya tediam,suapan gula kapasnya juga turut berhenti. "Emm.. nggak terlalu sih.. cuma entah kenapa aku lagi pengen banget sama gula kapas ini..".

__ADS_1


Zidan mangut-mangut tanpa rasa curiga yang berarti. "Yaudah kamu habisin gula kapasnya.. habis itu kita lanjut cari permainan yang seru..".


✳✳✳


Matahari yang tadinya meninggi,kini telah turun hampir menyentuh peraduan. Menciptakan senja dan cahaya oranye yang tertembus lalu mengintip diantara celah gedung tinggi disekitar taman bermain itu.


Zidan masih setia menggenggam tangan Asya,menyelipkan jemarinya di tengah kehangatan sebuah pertautan yang seakan tak rela terlepas. Tubuh mereka saling bersender,rasa lelah bercampur bahagia terlukis diwajah mereka berdua. Hampir seharian mereka menghabiskan waktu bersama,bermain dan tertawa lepas.


"Gimana Sya,kamu seneng?". Tanya Zidan,manik legamnya menatap teduh kearah perempuan yang menyenderkan kepala dibahunya.


"Seneng..". Asya tersenyum simpul membalas tatapan Zidan. "Seneng banget malah..".


Zidan sedikit menunduk lalu mengecup kening Asya singkat,menyalurkan seberkas rasa cinta ke perempuan yang teramat berarti baginya kini. " Yaudah yuk kita pulang..". Ajaknya kemudian.


Asya bangkit dari duduknya mengikuti Zidan,berjalan berdampingan dengan lelaki itu. Rasa senang dan bahagia seakan melingkupi,memberi secercah kehangatan yang menguar,membuat senyum simpul s'lalu tampak menghiasi bibirnya yang merekah. "Oh ya Zidan.. kamu udah hubungi yang lain? takutnya mereka gak tau dimana kita nanti..".


"Tenang aja Sya.. mereka udah nunggu di tempat kita parkir mobil tadi..".


"Zidan..". Panggil Asya lagi.


Lelaki itu menghentikan langkah dan memandang kearah Asya kemudian. "Kenapa?".


"Besok-besok jangan begitu lagi ya.. kasian mereka,masa kita gak ajak mereka main bareng..".


Zidan terkekeh geli lalu mengacak surai Asya hingga sedikit berantakan,membuat perempuan itu mengerucutkan bibir kesal. "Kalau mereka ikut.. kita gak bisa mesra-mesraan donk..". Jawabnya tanpa rasa canggung.


Asya memukul bahu Zidan kesal. "Jawab seenaknya aja.. gak ada tuh kita mesra-mesraan..".


"Eh malah nyangkal.. trus tadi kita ciuman waktu di komidi putar apa?".


Asya mengibaskan tangannya,mencoba menyangkal kejadian yang baru saja terjadi beberapa jam lalu,dimana Zidan dengan tiba-tiba mengecup bibirnya mesra saat mereka berada dalam komidi putar,yang kala itu sedang ada di puncaknya.


Zidan terpaksa mengalah,tak ingin membuat Asya kesal nantinya. Langkah mereka kembali dilanjutkan,keluar dan menuju parkiran mobil yang terletak tepatnya disamping taman bermain itu.


Tiga orang yang berdiri tepat didekat mobil,menyambut mereka dengan wajah masam. Seakan terjadi hal yang tak mengenakan diantara mereka.


"Kamu kenapa Fan,kok cemberut gitu?". Tanya Asya begitu melihat semburat kekesalan di wajah Fany.


Fany mendelik kesal dan menatap dua lelaki disampingnya dengan pandangan tajam. "Tanya aja sama duo curut bencong ini.. kesel gue Sya,masa mereka diajak naik wahana menantang pada ketakutan..". Desisnya tajam,dengan rona kekesalan yang tak tersembunyi.


Andi yang merasa terhina,balas menatap Fany. "Curut bencong?! lo kali cewe perkasa!! heran gue sama lo.. gue mau nanya,lo gak punya rasa takut apa?".


"Bukan gak punya rasa takut.. rasa takut gue,gue tempatin ditempat yang tepat.. gak kaya lo pada.. yang ketakutan liat wahana doank!!".


"Lo!!".


"Udah.. udah.. lo pada jangan berantem..". Yuda menyikut Andi untuk berhenti. "Ngaku aja An,kita kan memang takut naik wahana begituan..". Ujar Yuda sedikit berbisik.


Andi berdecak kesal. "Kita harus jaga harga diri sebagai cowo Yud.. lo gak malu apa dikalahin cewe?". Jawab Andi berbisik pula.


Zidan yang sedari tadi memperhatikan tingkah laku ketiga orang didepannya hanya bisa menggeleng bingung,ingin kesal tapi tidak bisa. Tangannya bergerak menyentuh dahi,lalu dengan lembut jemarinya memijat keningnya yang terasa sedikit pening.


"Jadi pulang gak nih?". Tanya Zidan.


Yuda menoleh dan mengangguk kemudian,tangannya dengan kuat menggiring Andi yang masih nyalang menatap Fany. "Jadi.. jadi.. ayo pulang Dan.. bisa-bisa kepala gue pecah liat dua orang ini ribut mulu..".


✳✳✳


Mobil mereka sampai dipelataran komplek apartemen Asya. Rasa tengang yang sedari tadi tersembus kini telah menguap dan hilang tak bersisa. Perseteruan antara Fany dan Andi berlanjut hingga menjadi latar berkendara bagi mereka. Si perempuan tetap dengan egonya,sedangkan si lelaki sibuk mempertahankan yang katanya harga diri yang dijunjung mati.


"Sya gue pulang dulu ya..". Fany mendekap Asya,berpamitan pulang kepada sahabatnya itu.

__ADS_1


"Gak nginep aja di apartemen aku Fan?".


Fany sedikit melirik Zidan yang memasang tatapan tajam kearahnya. "Nggak deh Sya,aku pulang aja.. gak enak kalau ganggu kamu..".


Dahi Asya berkerut dalam. "Nggak ganggu kok..". perempuan itu menoleh kearah Zidan sesaat. "Ya kan Zidan?".


"Eh.. udah Sya,biarin aja dia pulang.. kan ada Andi nanti yang nganterin Fany.. ya kan An,lo mau kan nganterin Fany?". Zidan sedikit menekankan kalimatnya dan memandang Andi tajam,sedangkan yang ditatap hanya bisa mengangguk pasrah tanpa bisa menjawab.


"Tuh.. si Andi aja mau nganter..". Ujar Zidan mewakili keterpaksaan Andi.


Asya mengembuskan napasnya pelan dan menatap Fany sebelum akhirnya kembali memeluk sahabatnya erat. "Yaudah kamu pulang gih.. udah malem..".


"Gue pulang dulu ya Sya..". Ucap Fany lembut sebelum kembali memandang Andi dengan tatapan setajam-tajamnya. "Ayo.. lo anterin gue..". Titahnya kemudian.


"Iya bawel..".


Andi menghampiri Zidan dan memeluknya lalu disusul oleh Yuda. "Gue pulang dulu ya Dan.. Sya..". Ujar Yuda dan Andi dengan tatapan nakal mereka.


✳✳✳


Manik Asya berkaca,terpaku pada siluet seorang lelaki yang beberapa hari ini tak dilihatnya. Kakinya hendak melangkah namun sebuah tangan menggenggamnya erat,menahan tubuhnya untuk tak bergerak atau melangkah kecuali dengan ijinnya.


"Kita samperin Raihan bareng Sya..". Titah Zidan tak terbantahkan.


Asya hanya diam tak bisa melawan,jemari lentiknya dengan segera menghapus butir bening yang hendak mengalir,kemudian dengan ragu melangkah mengikuti Zidan yang menggenggamnya erat.


"Ngapain lo kesini?". Tanya Zidan ketus matanya manatap Raihan dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Cuma mau ketemu sahabat..".


"Sahabat?". Zidan terkekeh geli. "Cih.. maksud lo sekarang,cewe gue ini udah jadi sahabat lo gitu?!". Desis Zidan dengan arogansi tak terpatahkan.


Asya mempererat genggamannya. "Zidan.. jangan begitu sama Raihan..". Bisik Asya lirih dengan pandangan mata tak beralih dari sosok lelaki yang tampak lebih kurus dari biasanya.


Zidan mengehembus napas pelan,sebelum akhirnya berusaha berkata selembut mungkin. "Ada perlu apa lo kesini Han?".


Raihan tersenyum masam,maniknya tak berhenti menatap gengaman tangan Zidan dan Asya yang terjalin sempurna. "Aku seneng kamu baik-baik aja Sya.. maaf ya aku gak hubungi kamu begitu aku landing waktu itu..".


"Iya gak pa pa Raihan.. kamu baik-baik aja kan?". Tanya Asya sedikit khawatir.


Raihan tersenyum simpul dan mengangguk. "Aku baik-baik aja.. seperti yang kamu lihat Sya..".


Rahang Zidan mengetat,seiring semburat kemarahan yang merasuk dan mulai menguasai diri. Asya yang berada tepat disampingnya,dapat merasakan amarah lelaki itu mulai menguap dan akan menguar nantinya.


"Zidan..". Lirih Asya.


Zidan kembali mengembuskan napas beratnya,lalu kembali menatap Raihan. "Sekali lagi gue tanya,ada perlu apa lo kesini Han?".


"Gue mau ngomong sama lo.. hanya kita berdua..".


Zidan menoleh kearah Asya dan mengintruksikan perempuan itu untuk masuk ke apartemennya.


"Raihan aku masuk dulu ya..". Ujar Asya,kemudian melangkah ragu dengan hati was-was,meninggalkan Zidan dan Raihan berdua.


Ketegangan diantara mereka berhembus,suasana dingin menyerbak begitu ringkih diantara dua lelaki yang manatap sama-sama nyalang,hingga satu perkataan dari Raihan mencairkan semuanya.


"Lindungi Asya..".


"Maksud lo apa?".


"Lindungi Asya baik-baik dan jaga dia,karena gue yakin sesaat lagi cewe dari masa lalu lo dateng dan mulai bertingkah..".

__ADS_1


__ADS_2