
Asya keluar dari apartemennya dengan sebuah koper berukuran sedang berwarna hitam pekat. Hari ini dia berencana untuk mengunjungi keluarga Om Anton-nya di Bandung,sudah lama Asya tak bersua dengan keluarganya itu,terakhir kali Asya mengunjungi mereka itupun enam bulan lalu,tepatnya saat pernikahan kakak sepupunya Justin. Asya merogoh tas selempang yang dia kenakan,mengambil ponsel lalu mengetikkan sebuah nama dan menelponnya.
"Halo Raihan..". Sapa Asya membuka percakapan.
"Iya Asya.. kamu udah berangkat??".
"Ini aku baru mau berangkat.. kamu kapan berangkat ke London??". Tanya Asya.
Raihan sesaat terdiam lalu melanjutkan lagi percakannya. "Sekarang aku mau berangkat.. ini aku di bandara dan Asya.. kayanya aku bakal lama karena abis dari London aku langsung terbang ke Singapur untuk jenguk nenek aku.. kamu gak apa-apa kan??".
Asya mengangguk walaupun dia tau Raihan tak dapat melihatnya. "Pergi aja.. aku gak apa-apa.. jaga diri ya.. yaudah aku tutup dulu.. Bye..".
"Kamu juga jaga diri ya sayang.. Bye..".
Panggilan terputus. Suara decit pintu membuat Asya seketika menoleh ke arah apartemen Ana,tetangganya. Zidan keluar dengan Ana yang mengikutinya dari belakang,sejak Ana tinggal disini,Zidan lebih banyak menghabiskan waktunya itu di apartemen kakaknya dibandingkan dengan tempat tinggalnya sendiri.
"Pak Zidan??". Tanya Asya formal. Sejak kejadian dimana Zidan berjanji menjauhi Asya,perempuan itu bersikap formal dan sebisa mungkin menjaga jarak dengan lelaki bernama Zidan itu.
Zidan mendongak dari ketertundukannya,kondisinya tampak memprihatinkan. Kantung matanya gelap,dengan mata yang memerah,tak lupa dengan rambut barantakan yang menambah kesan urakan.
"Eh Asya..". Titahnya lesu.
Asya mengerutkan kening dalam,Ada apa dengannya?? tak biasanya dia berpenampilan seperti ini??.
"Asya.. boleh minta tolang gak??".
Ujar Ana. Asya menoleh dan mengangguk.
"Emm.. aku tau ini gak mungkin.. tapi bisa gak kamu anterin Zidan sebentar ke apartemennya?? aku gak sempet soalnya aku ada jadwal operasi mepet.. tapi aku juga gak tega dia pulang sendiri,dia lagi sakit soalnya..". Ujar Ana sedikit ragu.
Asya mengernyit dalam lalu pandangan dialihkan kepada Zidan yang memang tampaknya sedang kurang sehat. "I.. iya deh kak..". Jawab Asya ragu.
Sebenarnya Asya ingin menolak,tapi melihat wajah Ana yang seakan sangat membutuhkan bantuan,membuat Asya sedikit terhenyuh dan menyetujuinya.
Tak lama kemudian Ana pamit lalu pergi meninggalkan Zidan dan Asya yang sama-sama terdiam.
"Pak Zidan ayo pergi..". Ajak Asya membuka obrolan karena suasana yang canggung itu.
Zidan mendongak dan memandang Asya dengan tatapan kelam,membuat Asya sesaat terdiam melihat iris Zidan yang seakan menyimpan kesedihan.
"Maaf ya kak Ana ngerepotin lo Sya..". Sesal Zidan.
"Eh.. gak apa-apa kok Pak..". Jawab Asya sedikit terbata.
Zidan melirik Asya dan menyunggingkan senyum manisnya. "Gak usah pangil Pak.. ini bukan dikantor Sya,jadi biasa aja..". Titah Zidan lembut.
Asya tersenyum canggung dan mengangguk pelan. "Iya Zidan..".
"Yaudah ayo pergi..". Zidan berlalu meninggalkan Asya,yang menatapnya dengan tatapan yang bahkan Asya sendiri pun tidak mengerti.
__ADS_1
Ada rasa prihatin ketika melihat semburat wajah Zidan tadi,lelah terpatri begitu jelas. Asya tau selama hampir sebulan ini Zidan bekerja begitu keras bahkan bisa dibilang berlebihan.
Tak urung Asya mengikuti jejak lelaki itu yang telah menunggunya di depan lift. Meraka pun masuk dan menuju lantai bawah.
✳✳✳
Asya duduk dikursi penumpang dengan mata yang terfokus ke layar handphone nya. Jarinya mengitik beberapa kata pesan teks dan mengirimkannya kepada Fany,memberitaukan bahwa dirinya tak akan masuk kantor dalam tiga hari kedepan. Tak ingin membuat Fany khawatir karena mencarinya nanti.
Sesaat kemudian matanya dia alihkan pada sosok lelaki berwajah kusut yang sedang mengemudikan mobilnya. Asya bingung. Bagaimana tidak,dengan tubuh lemah Zidan memaksa agar dirinya saja yang mengemudi,pada awalnya Asya menolak,namun akhirnya menurut karena lelaki itu memaksa.
"Sya.. gue gak pulang ke apartemen gue yang kemaren soalnya gue udah beli apartemen baru dan yang itu gue jual.. jadi gak pa-pa kan kalau lo anter gue kesana, bisakan??". Tanya Zidan datar dengan mata yang terfokus ke jalan.
Mata Asya membulat,pikirannya mulai panik dan takut. Memori dikepalanya tiba-tiba berputar,mengingatkannya akan kelakuan Zidan yang tak bisa dia lupa.
Zidan menoleh sekilas lalu tersenyum simpul. "Gak usah takut kaya gitu kali.. deket kok,dua puluh menit perjalanan.. kalau gak mau gak pa-pa.. gue bisa nyetop taksi..".
Asya menggeleng kikuk,kepalanya dia sandarkan pada kaca mobil dan mencoba menetralkan pikiran buruk yang tetiba hinggap. "Aku mau kok nganter kamu.. lagi pula deketkan??".
"Iya.. deket..".
Zidan pun mengambil jalan menikung,menuju daerah dimana apartemennya berada.
Tapat seperti yang Zidan katakan tadi. Duapuluh menit kemudian mereka pun sampai di komplek apartemen Zidan yang tampak sepi. Zidan memberhentikan mobilnya dan menatap Asya dengan senyum tersembunyi.
"Aduh Sya.. sa..sakit..". Zidan mengcengram rambut kuat,kepalanya tertuduk dan menempel di kemudi.
Tak ada jawaban,hanya ada erangan sakit yang mencubit sudut hati Asya. Asya lalu keluar dan menghampiri pintu kemudi kemudian membukanya. "Zidan.. ayo aku bopong kamu ke apartemen kamu..".
Asya dengan sigap membopong tubuh Zidan menuju lift apartemen dan memasukinya. "Zidan?? apartemen kamu lantai berapa??".
"Lan.. lantai limabelas Sya..". Jawab Zidan lemah.
Jari Asya bergetar menekan tombol lift dihadapannya,jujur saat ini jantung Asya berdetak cepat. Takut akan keadaan Zidan yang makin memburuk.
Ting..
Pintu lift terbuka,Asya dengan payah menopang tubuh Zidan yang dia rasa makin melemah. "Zi.. Zidan?? yang mana apartemen kamu??". Tanya Asya lagi.
Tangan Zidan yang bergetar terangkat,jarinya menunjuk salah satu apartemen yang tak jauh dari mereka berada saat ini.
Asya bernapas lega,lalu melanjutkan langkahnya ke salah satu apartemen yang ditunjuk Zidan tadi. "Zidan.. aku mau tanya lagi.. sandi kamu??". Tanya Asya kemudian.
Zidan menoleh dan melihat Asya dengan pandangan sayu. Matanya yang kelam memandang lekat Asya seperti tangah menyembunyikan sesuatu. "Tanggal lahir lo Sya.. itu sandi gue..". Jawabnya lirih namun penuh penekanan.
Mata Asya membulat memandang Zidan yang ada didekatnya. Lalu pandangan dia alihkan dan jarinya dengan ragu memencet beberapa digit angka yang dia tau merupakan tanggal lahirnya.
beep..
Pintu apartemen Zidan terbuka,Asya dengan penuh kekuatan kembali membawa tubuh lemah Zidan dan membaringkannya di sofa.
__ADS_1
"Zidan.. aku ambil kamu air dulu ya..". Asya berbalik dan berjalan menuju dapur. Tangannya mengambil sebuah gelas dan menuangkan air lalu membawanya keruang tengah dimana Zidan berada.
Asya terperanjat kaget,lelaki lemah itu sudah tak ada dipembaringan sofa. Membuat Asya memutar pandangan dan mengedarkannya keseluruh ruangan. Namun nihil,Zidan menghilang seperti ditelan bumi,Asya tak dapat menemukannya.
"Sayang..".
Hembusan napas panas menerpa tengkuk Asya yang sedikit terbuka. Pinggangnya didekap posesif,tak lama kemudian satu kecupan mendarat dipucuk kepala dan dileher jenjangnya,membuat Asya terpatung takut sedang jantung berdetak dengan amat kencang.
"Jangan deg-degan kaya gitu donk Sya.. ini bukan yang pertama kali buat kita..".
"Zi.. Zidan??".
"Hemm.. iya ada apa sayang??". Desis Zidan sensual.
Mata Asya kian memanas membuat iris beningnya mulai berkaca. "Zidan.. lepas aku mohon.. kamu udah janji Zidan,gak akan kaya gini lagi.. kamu lupa??". Tanya Asya sedikit terbata dikuasai rasa takut menerpa.
Zidan berdecak kesal. "Gue gak bisa nepatin janji gue Sya.. gue gak tahan liat lo sama cowo lain,apalagi liat lo sama Raihan.. gue gak suka!!".
Zidan dengan cepat membalikkan tubuh Asya untuk menghadapnya. Tangannya membelai wajah Asya yang sedikit bergetar dengan gerakan lembut namun menuntut.
"Zidan.. kamu mau apa?? jangan kaya gini Zidan..". Manik Asya terkatup,berusaha menetralkan napasnya yang sedikit tersenggal diliputi kengerian yang mendera.
Zidan tersenyum posesif,jarinya masih dengan gemulai mengelus pipi tirus Asya bahkan kini ibu jarinya dengan sensual mengusap bibir merekah perempuan itu yang sedikit lembab. "Gue mau apa?? gue mau lo Sya.. lo seutuhnya..". Titah Zidan vulgar lalu mengecup lembut bibir Asya.
✳✳✳
Tangan Zidan mencengram pergelangan Asya,membuatnya tak bisa meronta bahkan bergerak sekalipun,tubuhnya merapat,mengunci segala celah dan membawa Asya kedalam kukungan tubuhnya yang kekar dan kuat.
Kamar Zidan begitu berantakan. Barang-barang berserakan dimana-mana,helai pakaian yang telah koyak teronggok dan berceceran dilantai. Semuanya seakan menggambarkan perlawanan Asya terhadap lelaki itu,untuk menjaga kehormatannya yang kini dia rasa sangat terancam.
Tubuh Asya melemah dengan linangan air mata yang terus mengalir tanpa diundang. "Hiks.. hiks.. aku gak mau Zidan kaya gini.. aku..". Suara Asya tersendat,tubuhnya tak kuat menahan semburat rasa sakit saat ini.
Zidan menatap lekat wajah Asya,sungguh dirinya saat ini begitu bernapsu. Apalagi melihat lekuk tubuh Asya yang tak tertutup sehelai kainpun.
"Gue mau tubuh lo Sya.. tubuh lo ini cuma milik gue..". Desisnya vulgar,tepat di telinga perempuan itu.
Zidan makin merapatkan tubuhnya pada Asya,merasakan pergesekan antara dadanya dan benda sintal milik Asya yang berkeringat,tak tertutupi sehelai benang pun. Satu tangannya dengan bebas membelai tubuh telanjang Asya,membuat perempuan itu berontak ingin melepaskan diri.
"Brengsek kamu Zidan!! Brengsek!! Lepasin!! Lepasin!!". Pekik Asya tepat didepan wajah lelaki bejat itu.
Zidan terkekeh geli,tangannya makin liar mengelus bahkan sesekali *** bagian tubuh Asya yang menonjol. "Lo bisa ngatain gue apapun Sya.. tapi abis ini gue akan buat lo mendesah nikmat dibawah hentakan tubuh gue..".
Asya menengadah,menatap penuh benci kepada Zidan dan setitik bening kembali menetes membasahi pipinya. Sehina itu kah dirinya dimata lelaki ini??. "Aku nyesel udah kenal kamu Zidan!! ka.. kamu memang iblis brengsek yang gak tau malu!!". Desis Asya tajam begitu menohok.
Zidan tak memperdulikan perkataan kasar Asya. Menurutnya,semakin malawan perempuan itu,semakin bernapsulah dirinya. Jemari Zidan turun mengelus paha mulus Asya dengan sesual hingga sampai di inti tubuh Perempuan itu.
Mata Asya terpejam,berharap ini semua hanya mimpi buruk dan akan hilang begitu dia membuka mata kembali. Namun semua nihil,apalagi saat ini Zidan dengan kurang ajar menelusupkan jarinya dan dengan kuat menggesek ****** milik Asya.
"Lo udah basah Sya..".
__ADS_1