
Tangan Asya bergerak dengan lembut mengusap surai hitam Zidan yang tidur dipangkuannya. Matanya yang terpejam, hidungnya yang mancung dan bibir indah yang sering menciuminya ini, membuat Asya berada diambang kebimbangan.
Dia belum bisa memberitau Zidan, setidaknya tidak untuk saat ini. Apalagi setelah Zidan menceritakan masalah yang sedang dialaminya beberapa hari ini. Memang, Zidan sedikit protektif semenjak pertemuannya dengan Raihan beberapa hari lalu, dan itu sedikit membuatnya tersiksa -- tentunya.
Bagaimana pun, Raihan adalah lelaki yang pernah mengisi hidupnya, membuatnya bahagia, membuatnya merasakan cinta, dan keputusannya untuk menduakan lelaki itu telah meninggalkan seberkas rasa bersalah yang kerap hadir ketika dia ada dihadapannya.
Asya tak pernah menyangkal bahwa rasa cintanya pada Raihan masih ada, tapi juga dia tak bisa berbohong, bahwa rasa itu berdampingan dengan Zidan didalam sana.
Menghela napas, Asya mengguncang tubuh Zidan perlahan, membuat lelaki itu mengerjab dan menatapnya dengan sorot mata sedikit berkabut. Asya tersenyum, mengusap wajah Zidan lembut, perempuan itu berkata, "Zidan, udah hampir tengah malam. Lebih baik kamu tidur di kamar, kalau nggak badan kamu sakit."
Zidan mengangguk dan bangkit. Matanya melirik kearah jam yang tertempel di dinding, dan benar saja waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam. Bangkit, Zidan menggenggam tangan Asya dan menariknya agar tubuhnya ikut bangun.
"Yuk, kita tidur."
"Eh, aku tidur dikamar satu lagi aja."
Dahi Zidan mengernyit, lelaki itu menguap sekali sebelum menggeleng. "Nggak, kamu tidur sama aku. Lagipula kamar itu gak pernah ada yang tempatin, jadi masih berantakan."
"Tapi Zidan." Asya menahan tubuhnya, membuat Zidan dengan cepat merengkuh tubuh Asya dalam gendongan.
"Zidan.. turunin, aku takut."
"Nggak usah takut, Sya."
Zidan membawa Asya kedalam kamar, masih dengan menatap perempuan itu. Membaringkan tubuhnya diranjang, Zidan melingkupi tubuh Asya dengan selimut tebal dan ikut bergelung didalamnya.
"Udah, tidur ya."
Asya merasakan kenyamanan begitu Zidan mendekapnya. Rengkuhan ini membuatnya begitu hangat, merasa dicintai. Namun, apakah Zidan benar mencintainya?
"Zidan?"
"Hmm."
"Perasaan kamu, apa kamu bener-bener gak benci sama aku lagi?"
__ADS_1
Usapan Zidan pada punggung Asya terhenti. Lelaki itu mengecup puncak kepala Asya pelan, sebelum menangkup pundak mungil perempuan itu dan menatap irisnya.
Ya, Zidan mengerti dengan semua ini. Bagaimana pun, perlakuannya terhadap Asya sama sekali tak mudah untuk dimaafkan. Penghinaan, dan segala perlakuan yang menjurus pada pelecahan telah Zidan limpahkan kepada perempuan yang ada dalam rengkuhannya.
Lalu, pantaskah jika Asya ragu akan cintanya?
"Aku minta maaf, Asya. Aku sadar semua perlakuan aku ke kamu itu salah. Tapi, aku mohon. Jangan pernah bahas masalah itu lagi, oke?"
"Jadi, kamu masih percaya sama hal itu?" tanya Asya, menjurus pada kejadian tujuh tahun lalu, dimana permasalahnya dengan Zidan bermula.
Zidan hanya terdiam, dia tak tau mana yang harus dia percaya. Asya ataukah bukti yang pernah terpampang didepan matanya.
"Kalau aku kasih tau kebenarannya, kamu mau dengar?"
"Asya."
Wajah Zidan mendekat, bahkan dari jarak sedekat ini, Asya bisa merasakan hembusan napas Zidan yang menghangat.
"Please.. suatu saat kalau aku siap, aku akan dengan senang hati dengar cerita kamu, oke? Aku gak mau mengingat masa lalu menyakitkan, kehidupan aku berat banget. Jadi aku mohon, ya?"
"Tapi, Zidan--"
Lalu, bagaimana jika kejadian itu terulang lagi?
...
Begitu cahaya matahari merangkap masuk dari balik jari-jari jendela kamar, Zidan mengerjab. Tangannya bergerak, meraba sisi ranjang disampingnya dimana Asya tidur berdampingan dengannya semalam.
Kosong, Zidan tak bisa menemukan perempuan itu disana, membuat matanya yang tadinya terpejam terbuka sempurna.
"Asya?" panggil Zidan, namun tak ada jawaban.
Zidan bangkit, dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Maniknya mengedar, merangkum keseluruhan ruang tidurnya, namun sekali lagi tak ada Asya disana.
"Asya?" panggil Zidan sekali lagi. Kali ini lelaki itu memutuskan untuk turun dari tempat pembaringan dan berjalan menuju pintu kamar mandi dimana suara gemericik air berasal.
__ADS_1
Zidan mengernyitkan dahi begitu suara seseorang memuntahkan sesuatu mulai terdengar. Dengan cepat Zidan mengetuk pintu. Dia takut Asya kenapa-napa. Apa kekasihnya sakit?
"Sya, kamu baik-baik aja kan?" tanya Zidan masih dengan mengetuk pintu.
"Nggak kenapa-napa, Zidan." jawab Asya dari dalam. Suaranya tampak parau, membuat perasaan Zidan diliputi kekhawatiran.
"Kamu yakin?"
Sesaat hanya suara gemericik air yang terdengar, sebelum Asya berkata, "Aku baik-baik aja, tunggu aja ya."
Zidan menghela napas, dan memilih menunggu Asya dengan duduk dipinggiran ranjang. Jarinya terjalin. Sejak kemarin memang ada keanehan terhadap Asya, dan Zidan bisa merasakannya dengan jelas.
Tak berapa lama, akhirnya pintu kamar mandi terbuka. Zidan berjalan cepat, mendekati Asya yang berdiri didepan pintu kamar mandi dengan wajah yang bisa dibilang pucat.
Mengakup wajahnya, Zidan bisa merasakan kelembaban disana. Wajah Asya dingin, matanya pun sayu -- tampak begitu lemah.
"Kita kerumah sakit ya?"
Asya terlihat panik, dia menggeleng cepat -- ikut menangkup tangan Zidan yang ada dipipinya. "Nggak, gak usah Zidan. Aku baik-baik aja. Cuma mual biasa, kayaknya asam lambung aku naik."
"Asam lambung kamu naik?" Nada bicara Zidan meninggi. "Kamu sering telat makan?"
Asya tersenyum, melihat Zidan begitu mengkhawatirkannya membuat sudut hatinya menghangat. Apakah Zidan akan lebih memperhatikannya begitu tau dirinya hamil.
"Zidan, aku mau kasih tau kamu sesuatu."
"Apa sayang?" tanya Zidan, masih dengan menangkup pipi Asya.
"Kalau.. kalau seandainya aku ha--"
Kalimat Asya terhenti, Zidan melepaskan tangkupan tangannya diwajah Asya begitu ponselnya berdering. Lelaki itu beranjak meninggalkan Asya yang masih terpaku didepan kamar mandi.
Kesempatan hilang, mungkin saja tuhan belum menghendaki Asya memberitau semua tentang masalah ini. Ya, mungkin itu jawabannya.
...
__ADS_1
Like dan coment ya..
sorry kependekan.. ;∆