My Devil Man

My Devil Man
MDM- Part 76


__ADS_3

Ana tak bisa menahan senyumannya begitu dia berjalan beriringan dengan Raihan. Hubungan mereka bertambah dekat. Hampir setiap hari setelah bekerja Raihan akan menjemput Ana di Rumah Sakit dan akan membawanya ke tempat-tempat menakjubkan yang baru Ana ketahui.


Seperti hari ini. Mereka memutuskan untuk makan malam dan pergi ke taman yang tak jauh dari restoran setelahnya. Suasa remang, diterangi lampu taman yang berjejeran di jalan setapak menambah kesan yang magis. Ditambah langit malam yang bertabur bintang melengkapi segalanya.


Raihan merangkul pundak Ana dan membawanya ke bangku taman sebelum duduk bersisian. Tak ada kecanggungan antara mereka. Semuanya berjalan semestinya. Tak terburu dan juga terlalu lambat.


"An?"


"Hmm?" Ana menoleh, memandang wajah Raihan dari samping.


Rahangnya yang tampak kokoh, dilapisi bulu tipis membuat sesuatu dalam diri Ana berdetak cepat.


"Aku mau tanya?"


"Tanya apa?"


Raihan terkekeh, menoleh menatap Ana. "Sebenarnya sih gak penting-penting banget."


"Kalau gitu tanya aja?"


"Kamu.. Kamu pernah jalin hubungan sama seseorang?"


Ana tak tau harus menjawab apa atas pertanyaan Raihan tersebut. Di satu sisi dia ingin menjawabnya. Namun, di sisi lain dia tak ingin membuka luka lama yang walaupun sudah mengering, masih menimbulkan semburat rasa pedih.


Dan keterdiaman Ana membuat Raihan berdehem canggung sebelum berkata, "Eum, kalau memang kamu gak nyaman, gak pa--"


"Profesi kami sama." Ana menyela, membuat Raihan terdiam dengan atensi yang sepenuhnya memandang perempuan itu. "Aku ketemu dia waktu masa kuliah, berhubungan layaknya teman, dekat layaknya teman. Dan ya.. Sampai akhirnya dia menyatakan perasaan sama aku dan aku terima."


Raihan terus mendengarkan. Menatap Ana dalam dan dia bisa melihat sesuatu yang janggal dari ekspresi tersebut. Terluka. Luka yang menurut Raihan tak ringan.


"Kami putus, setelah dua tahun jalin hubungan." Ana melanjutkan. "Tepatnya sih aku yang putusin dia."


"Kenapa?"


Ana memandang Raihan. Berusaha merangkai kata dari penggambaran perjalanan cintanya sebelum ini. "Aku liat dia selingkuh.. Selingkuh dalam artian yang gak bisa aku jabarin."


Tangan Raihan bergerak menangkup tangan Ana. Tanpa harus dijelaskan lebih lanjut, Raihan tau kemana penjelasan itu akan berlabuh.


"Kita pulang?" tanya Raihan.


Ana mengangguk cepat. Membiarkan Raihan merangkul tangannya dan membawanya menuju mobil.


Tiga puluh menit berlalu tanpa ada satupun yang membuka percakapan. Begitu mobil berhenti di pelataran mansion keluarga Revandra, Raihan mengalihkan pandangan dan menatap Ana dalam diam.


Melihat Ana yang tampak kesulitan membuka seatbelt membuat Raihan berinisiatif membuantu.


Ana terhenyak, merasakan jarak wajahnya yang begitu dekat dengan wajah Raihan. Bagaimana lelaki itu mengusap tangannya, membantunya yang kesulitan untuk membuka alat keselamatan tersebut.


"Maaf.." Raihan berkata tanpa memberi jarak.


Mereka bahkan bisa merasakan kehangatan dari deru napas masing-masing.

__ADS_1


Raihan menatap manik Ana, begitupun sebaliknya. Jarak yang terpaut dekat membuat Raihan secara tak langsung terkesima dengan kecantikan wajah Ana.


Hingga hal yang tak terduga itu terjadi. Bagaimana Raihan mengecup bibirnya, membuat Ana merasakan perasaan asing yang perlahan tapi pasti menelusup.


Bibir mereka tertaut. Raihan menggerakkan bibirnya perlahan, menyapu dan mel*matnya dengan kelembutan dan seketika membuat Ana terbuai.


Hingga aktivitas perg*mulan bibir itu terhenti. Raihan memberi jarak, tampak terkejut atas apa yang dia lakukan terhadap perempuan yang berada di dekatnya ini.


"An, maaf.." Raihan mengacak Rambutnya frustasi. "Sorry-sorry.. Sorry banget An, aku gak sengaja.. Aku lost control.."


Ana terhenyak, jemarinya bergerak mengusap bibirnya yang basah merekah. Dan ketika dia menatap mata Raihan, dia bisa melihat penyesalan di sana, keengganan dan semua itu membuat Ana sesak. Ya.. Sesak.


"Maaf?" Ana terkekeh, merasakan hatinya yang terasa sakit.


Oh ayolah.. Apa yang dia bisa harapkan dari Raihan? Kepastian hubungan? Pernyataan cinta? Semua itu hanya omong kosong!


"Kamu menyesal? Kamu gak bisa kontrol diri kamu sendiri?" Kali ini mata Ana lah yang berair.


Oh, bodohnya dia. Mengharapkan apa yang memang tak akan pernah dia dapatkan.


"Kalau begitu saya permisi." Ana berkata dingin, keluar dari mobil dan meninggalkan Raihan dalam kesunyian.


Hingga lelaki itu sadar dengan apa yang baru saja dia katakan. Bagaimana dia bisa mengatakan itu terhadap Ana? Bagaimana dia bisa merasa menyesal karena mencium Ana? Perempuan itu pasti terluka! Ya, sudah pasti.


"Arghh! S**t! Lo bodoh, Han!"


...


Asya tersenyum seraya menumpukan tubuhnya pada besi pembatas balkon. Pemandangan pada malam hari adalah salah satu hal yang dia sukai dari tempat ini.


Bagaimana cahaya bulan yang besinar redup merambat dari celah-celah rating, suara burung-burung malam yang menjadi pengiring, semua itu tak membuat Asya takut sama sekalipun.


Dia justru merasa tenang, hingga rasanya tak rela jika harus meninggalkan kedamaian seperti ini.


Ya, hampir seminggu mereka menghabiskan waktu di Desa ini. Berkeliling, melihat pemandangan sekitar, bahkan mengunjungi pasar malam yang dua hari lalu diadakan di lapangan dekat Balai Desa.


Semuanya baru bagi Asya, namun terasa menyenangkan.


"Zidan.." Asya bergumam. Bibirnya mengukir senyum begitu merasakan tangan Zidan yang menelusup dan mengusap perutnya.


"Besok kita pulang."


"Ya, tapi.. rasanya aku gak rela tinggalin tempat se-damai ini."


"Kita bisa pergi ke sini lagi kapanpun kamu mau. Ya, setelah kelahiran Baby kita tentunya."


Asya mengangguk, memejamkan mata dengan tubuh meremang ketika merasakan Zidan mengecup tengkuknya.


"Zidan.." Asya menggumam, meremat jemari Zidan begitu dirasa kecupan di lehernya makin memabukkan.


Zidan tersenyum, kembali mengecup tengkuk Asya sekilas sebelum berkata, "Makan malam udah siap."

__ADS_1


"Kamu masak?"


"Hn."


"Masak apa?"


"Masakan yang pastinya kamu suka."


"Yakin gak gagal?"


Tak adanya jawaban membuat Asya berbalik. Dia terkekeh. Wajah Zidan yang tampak kusut membuat Asya mengangkat tangan sebelum mengusap wajah sang Suami yang lucu menurutnya.


"Ayo kita makan."


"Masakannya gak enak."


Asya kembali terkekeh, Zidan dalam mode merajuk seperti ini terkadang membuatnya gemas bukan main.


Tanpa memerdulikan Zidan yang masih berdiri tegak di balkon, Asya beranjak keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang makan yang terdapat di lantai dasar.


Mata berair. Lagi-lagi Zidan selalu membuat kejutan yang bisa membuatnya terharu seperti ini.


Lihatlah bagaimana meja itu dihiasi lilin dan bunga, yang walaupun tampak sederhana sudah membuat Asya merasa dicintai oleh Zidan dengan teramat.


"Kamu nangis lagi?" tanya Zidan seraya memeluk tubuh Asya dari belakang.


"Terharu, Zidan.."


"Kok kamu gampang banget terharu sih?"


Asya menyikut perut Zidan, membuat lelaki itu mengerang namun urung melepas pelukannya.


"Aku hamil, Zidan. Wanita hamil itu berbeda."


"Iya deh, jangan marah. Cuma bercanda kok."


Setelahnya Zidan menuntun Asya untuk duduk di kursi meja makan. Dia menghidangkan makanan yang baru saja dimasaknya penuh kerja keras sebelum duduk di kursi satunya -- menghadap Asya.


"Makanan ini, kamu taunya dari mana?"


"Google."


"Zidan.. Zidan.."


"Aku gak bisa sembarangan masak makanan, Sya. Apalagi untuk istriku yang hamil ini."


Lagi-lagi, perlakuan sederhana itu membuat Asya merasa dicintai oleh Zidan dengan segenap hati.


Ya, dia merasakan perbedaan besar dari hubungan mereka. Dan tentunya, pernikahan membawa hubungan mereka ke jenjang lebih baik.


...

__ADS_1


Like dan Coment..


__ADS_2