Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#01 azalea


__ADS_3

...• • •...


...[Tulisan ini akan dihapus di sini. MASIH REVISI SEDANG PROSES TERBIT. Tapi kalau masih pengin baca lengkapnya, ada di aplikasi K W I K K U. Terima Kasih]...


Hari itu hujan turun sangat deras. Petir pun terdengar menyambar beberapa kali. Langit malam murung menyelimuti setiap bagian yang ada di Jakarta. Tak terkecuali bagian manapun. Kaca-kaca jendela rumah tampak berembun. Angin berhembus sangat kencang. Menerbangkan daun-daun yang jatuh, gugur, ke tempat-tempat yang jauh. Hari yang berat. Sangat berat. Bahkan di hari itu, sesuatu yang lebih berat terjadi.


"Kenapa kamu melakukan semua itu Mas, kenapa?!" Bu Ann berseru-seru kesal. Melangkah terburu-buru. Wajahnya cemas, air mata terus turun membasahi pipinya.


"Diam kamu!" Pak Karso berteriak kalap. Melangkah terburu-buru juga. Ia menuju ruang tamu. Bu Ann mengikutinya dari belakang.


"Kamu mau meninggalkan aku sama anak-anak, Mas? Kamu mau kemana Mas, mau kemana?" Bu Ann menggoyang-goyangkan tangan Pak Karso. Tapi Pak Karso sama sekali tidak memperdulikannya.


"Mas!" Suara Bu Ann semakin keras saat melihat Pak Karso melangkah keluar dari rumah. Membawa tas.


Sementara itu di waktu yang sama, dari balik dinding Bara dan Nada kecil menyaksikan semuanya. Bahkan mereka melihat Bu Ann tersungkur di lantai saat Pak Karso benar-benar pergi meninggalkan rumah. Bu Ann menangis terisak, tak berdaya melihat punggung Pak Karso hilang dari matanya. Tapi Bara dan Nada kecil tak mengerti apa-apa. Bahkan mereka sama sekali tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Pak Karso pergi, atau kenapa Bu Ann bisa menangis dengan keras. Wajah mereka bingung. Ditambah lagi air mata Bu Ann yang terus keluar seiring hujan yang turun semakin deras diluar. Guntur masih menyambar beberapa kali. Terdengar saut-sautan. Sungguh hari yang sangat berat.


Meskipun akan tetap berlalu, namun hari itu adalah hari yang paling menyebalkan di hidup Nada. Malam yang tak akan pernah ia lupakan. Walau sudah tertinggal, berlalu sangat cepat. Kini sudah sekian ribu jam semenjak kejadian itu. Nada membuka matanya. Ia tersadar setelah sempat mengingat singkat kejadian dua puluh tahun yang lalu itu.


Lantunan not indah dua instrumen seperti menari-nari di atas panggung. Diciptakan suara cantik nan genit pula, merambat sampai ke bagian-bagian terkecil dari gedung yang tak kalah mewah juga. Jari-jari lentik Nada memainkan alat musik Organ dengan sangat fasih, tampil cantik dengan dress berwarna edelweiss. Duduk di Bench, Nada seperti menyatu dengan semua touch yang ia sentuh. Ritme-ritme yang ia ciptakan berjalan seiring dengan gesekan biola yang terdengar menyayat hati. Nada menunduk sebentar, lalu melihat ke depan. Tatapan kosong. Matanya berkaca-kaca.

__ADS_1


Di atas panggung, Nada dan pemain Biola berkebangsaan Perancis sudah sepuluh menit berduet memainkan banyak sekali instrumen-instrumen indah dari tadi. Satu-dua not yang mereka ciptakan berhasil menusuk jantung tajam. Membuai. Tapi tidak hanya ada mereka saja di sana. Memang yang ada di atas panggung hanya Nada dan pemain biola itu. Namun tepat di depan mereka, seorang laki-laki memakai stelan jas hitam rapi serta topi yang menghiasi kepalanya duduk di barisan depan bangku penonton. Seorang diri. Dia, Cikal.


"Vous êtes tellement incroyable, Nada!" puji pemain biola setelah pertunjukan mereka selesai. Bertepuk tangan, tersenyum pada Nada.


"Merci, Mr. Van." Nada tersenyum juga.


"Ivan benar. Tadi itu luar biasa, Nad." Cikal berdiri dari bangkunya, bertepuk tangan serta tersenyum. Nada melihat itu. Ia menunduk malu sebentar lalu tersenyum juga pada Cikal yang sekarang tampak melangkah naik ke atas panggung. Nada menghela napas lega berulang kali.


"Ya sepertinya sekarang kamu sudah lebih hebat dari saya." Cikal mengedikkan bahunya. Nada tersenyum malu.


"Saya bangga sama kerja keras kamu selama ini. Semua yang kamu lakukan benar-benar diluar ekspektasi saya, Nad." Cikal masih terus memuji Nada. Sampai akhirnya kalimat Cikal terhenti. Dari saku jas miliknya terdengar suara handphone berdering. Satu panggilan masuk.


"Ya? Oh iya, dengan saya sendiri." Cikal sedang mengobrol dengan seseorang di sana.


"Well," Cikal menatap Nada lagi sambil tersenyum, "Hari ini kamu harus istirahat. Saya pamit pergi duluan. Ada urusan mendadak. Atau saya antar kamu dulu, baru---"


"Eh enggak, Mas. Saya pulang sendiri saja. Lagipula saya mau pergi beli sesuatu dulu." Nada memotong niat baik itu. Cikal mengangguk mengerti.


"Kalau gitu saya pergi duluan, Nad."

__ADS_1


Nada mengangguk pelan, "Iya, Mas."


"À la prochaine, Van." Cikal melambaikan tangan pada Mr. Van yang sedang membereskan barang-barang. Tak lama setelah itu Cikal pergi.


Nada pun lekas berdiri. Beranjak dari bench organ, membereskan beberapa tumpukan kertas, memasukkannya ke dalam tootbag putih bermotif abstrak miliknya, lalu tak sengaja melihat jendela kaca. "Indah sekali." Pikirnya. Tak terasa hari ini Paris mulai masuk musim semi lagi. Daun-daun jatuh berguguran, berserakan dimana-mana. Ada juga yang terbang terbawa angin, atau tersangkut di ranting-ranting kecil. Nada benar. Indah sekali. Ia tersenyum lagi. Wajahnya bahagia. Terlebih lagi juga karena tadi Cikal memujinya. Nada berhasil memainkan organ dengan sangat baik. Hari ini latihannya usai.


Nada masih memperhatikan jendela. Melihat daun-daun gugur itu. Tak terasa sudah tiga tahun. Tiga kali musim semi yang dilewati. Nada Jingga Salamah. Itulah nama lengkapnya. Perempuan yang sedari kecil sangat suka dengan musik. Entah itu Jazz, klasik, atau jenis musik apapun. Mungkin karena hal itulah Nada bisa berada di tempat ini sekarang. Di gedung mewah Paris yang menjadi tempat musisi-musisi hebat dunia tampil. New Hall. Tapi sepertinya tidak semudah apa yang dibayangkan. Karena untuk sampai di gedung mewah Paris ini, Nada harus melewati banyak hal dulu di dalam hidupnya.


Terlahir dari keluarga yang cinta dengan musik, sejak kecil Nada diajarkan kalau hidupnya akan selalu berdampingan dengan musik. Hal itulah yang membuat Nada akhirnya perlahan jatuh cinta dengan musik. Berselancar di dalamnya. Melebur menjadi satu kesatuan yang padu. Sampai akhirnya, puncaknya beberapa tahun yang lalu saat ia baru saja lulus sekolah menengah atas, dan mencoba mengikuti seleksi masuk ke sekolah tinggi musik di Paris, Nada diterima. Ia lulus seleksi. Tiga tahun yang lalu, semuanya dimulai.


Momen itu adalah momen membahagiakan untuknya. Satu titik dimana akhirnya ia bisa menapaki jembatan yang akan menuntunnya ke mimpi-mimpi masa kecil. Karena selain cinta dengan musik, sejak kecil Nada juga punya banyak sekali impian. Seperti, ingin tampil dan dilihat jutaan orang, membuka toko musik sendiri, atau menjadi musisi yang dikenal dunia. Maka dari itu, tiga tahun lalu Nada pikir semuanya akan dimulai dari sini. Walau awalnya ia ragu. Banyak sekali hal yang harus dipertimbangkan. Seperti, siapa nanti yang akan mengurus Mama.


Setelah menerima kabar kalau ia ternyata lulus dan masuk ke dalam peringkat sepuluh terbaik, hal pertama yang dipikirkan Nada bukan bahagia. Bukan pula tentang bagaimana ia nanti berada di Paris. Tapi, hal pertama itu adalah bagaimana tentang kepergiannya nanti. Tentang harus meninggalkan orang yang sangat ia cintai di dalam hidupnya. Bu Ann.


Nada bimbang saat itu. Ia dihadapkan dua pilihan sulit. Nada memang cinta dengan musik dan bahagia saat tau akan berangkat ke Paris untuk memulai semua impiannya. Tapi, tentu akan ada cinta yang lebih besar dari itu. Cinta yang bahkan terlampau besar untuk dijelaskan. Apalagi, saat itu kondisi memang sangat tidak memungkinkan.


Bu Ann mengidap penyakit GDM, atau yang umum disebutkan sebagai depresi mayor. Suatu gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan suasana hati yang terus tertekan atau kehilangan minat dalam beraktivitas, menyebabkan penurunan yang signifikan dalam kualitas hidup sehari-hari. Singkatnya, kondisi Bu Ann sedang tidak baik-baik saja dengan depresi akut yang ia alami. Bahkan bukan cuma itu. Bu Ann juga mengalami stroke dimana setengah badannya lumpuh dan membuatnya tidak bisa berjalan. Nada masih ingat, lima dokter sudah memvonis Mamanya itu lumpuh seumur hidup.


Nada tak bisa berbuat apa-apa. Mulai saat itu, Nada mengurus Mamanya setiap hari dengan harapan suatu saat nanti akan ada keajaiban dimana Mamanya bisa sembuh. Meskipun setiap hari pula hanya akan ada air mata dan air mata. Nada tak kuasa menahan tangis saat melihat Mamanya diam termenung, bahkan untuk mengenali wajah Nada pun, Bu Ann sudah tidak bisa.

__ADS_1


Dan karena hal itulah, tiga tahun yang lalu Nada ragu untuk berangkat ke Paris. Meninggalkan orang yang sangat ia cintai untuk waktu yang mungkin tidak sebentar, tentu tak mudah untuk Nada. Tapi di detik-detik terakhir, pada akhirnya ia tetap berangkat.


Nada memalingkan wajahnya dari jendela. Ia menghentikan lamunannya. Entah kenapa ekspresinya berubah. Entah kenapa guratan senyum tadi hilang dalam sekejab. Kenangan itu, kenapa muncul lagi. Nada menyadarkan dirinya dan mulai melangkah perlahan meninggalkan panggung.


__ADS_2