Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#75 [Bab. sunset pertama untuk kita]


__ADS_3

...• • •...


Satu jam penerbangan berlalu. Pukul 9 malam. Langit Jakarta benar-benar sudah tertinggal jauh sekarang. Entahlah. Entah sudah sampai mana. Tapi yang jelas, penerbangan ini menyisakan waktu dua jam setengah lagi. Karena menurut waktu penerbangan Jakarta ke Ambon, normalnya hanya memakan waktu sekitar tiga jam setengah.


Nada melirik Mila yang sudah tertidur lelap. Putis pun begitu. Tertidur pulas di pangkuan Mila. Di samping Mila juga ada Jeje yang sudah tertidur juga. Nada tersenyum tipis.

__ADS_1


Tadi, setelah lampu pesawat nyala karena pesawat sudah persis berada di udara, Mila bertanya banyak hal pada Nada. Tentang kenapa Nada pergi ke Banda Neira, musik Jazz, apa rasanya jadi orang dewasa, dan pilihan hidup yang berkaitan dengan pasangan hidup kelak. Nada menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan Mila padanya. Tapi Nada juga sedikit kikuk. Dua pertanyaan terakhir, kenapa anak sekecil Mila bisa menanyakan pertanyaan seperti itu? Nada heran. Bahkan Nada tak menjawab satu pertanyaan terakhir. Pasangan? Aduh. Bunyi muncul di kepalanya. Nada benar-benar tak tau harus jawab apa. "Kalau gak dijawab semua juga gapapa kok, Kak. Tapi, kalau nanti Mila gede, Mila gak mau jadi orang dewasa yang menyebalkan, Kak." Jawabnya polos. Masih dengan wajah imutnya itu. Nada tertawa.


Obrolan berlanjut. Sekarang giliran Nada yang bertanya. Ia mulai dengan Putis. Pertanyaan itu dengan mudah dijawab oleh Mila. Dia bilang, Putis adalah hadiah yang diberikan oleh almarhum Papanya setahun lalu. Dan sejak saat itu, Putis jadi sahabatnya sampai sekarang. Mendengar jawaban Mila itu, Nada sempat diam sejenak. Ia tak tau kalau pertanyaan pertamanya bisa sedikit lebih serius. Tapi Mila malah tertawa. "Gapapa, Kak. Malah Mila senang karena Papa udah tenang bareng tuhan." Ucapnya polos. Tertawa lebar menampilkan gigi-gigi putihnya. Sekali lagi, Nada terdiam. Sekali lagi, kenapa anak sekecil Mila bisa mengerti tentang itu? Luar biasa.


Nada melanjutkan bertanya. Kali ini, beberapa pertanyaan sederhana seperti, apa cita-cita Mila, suka permen atau enggak, dan hobby. Tapi bukannya menjawab, Mila malah tertawa lagi. Dia bilang, semua pertanyaan itu gak seru. Mila juga bilang, apa bedanya Nada sama guru sekolah kalau pertanyaannya hanya seputar hobby dan cita-cita. Nada ikut tertawa. Mila memang diluar dugaan. Benar. Gak seharusnya Nada menanyakan hal-hal biasa seperti tadi. Karena walau Mila masih anak kecil, tapi cara berpikirnya hampir setara dengan orang-orang dewasa. Mila memang hebat. Udah cantik, imut, cerdas pula.

__ADS_1


Setelah menitipkan Mila pada Nada, Mamanya Mila pergi. Kembali duduk di kursi depan pesawat. Nada memantapkan posisi duduknya. Bersandar pada kursi. "Kak... Kak... ini cara ngidupinnya gimana?" Mila bertanya tentang satu televisi kecil yang menempel pada kursi di depan mereka. Nada mencoba menyalakan televisi itu. Saat televisinya sudah menyala, Nada menyerahkan sisanya pada Mila. Kartun. Mila memilih kartun. Dia bersandar pada kursinya, tampak senang menonton kartun.


Obrolan selesai. Nada dan Mila tidak melanjutkan obrolan mereka. Nada membiarkan Mila menikmati satu tayangan kartun di televisi kecil. Sementara itu, Nada membuka totebag, mengambil satu buku. Diary. Nada mengambil pena juga, lalu menuliskan sesuatu di dalam buku diary. Setengah jam berlalu sangat cepat setelah itu.


Penerbangan ini lancar. Tak ada masalah apapun seperti turbulensi dan hal semacamnya. Pesawat berjalan sangat tenang dan aman. Semua berjalan baik. Ya, walau lima belas menit yang lalu ada masalah kecil seperti kaburnya Putis dari pangkuan Mila dan memaksa Nada ikut mencari Putis sampai dua baris kursi pesawat di depan mereka. Ditambah lagi Jeje yang tiba-tiba datang untuk pindah tempat duduk. Dia mengeluh. Katanya, dia gak bisa tidur karena suara ngorok Una yang sudah tertidur nyenyak. Nada tertawa. Untung saja masih ada satu bangku kosong lagi di samping Mila. Jeje pun duduk di situ. Berkenalan dengan Mila juga. Mereka menonton kartun bersama, lalu tidur setelahnya.

__ADS_1


Dan sekarang, suasana di dalam pesawat tampak sunyi. Banyak dari mereka mungkin sudah terlelap. Sisa dua jam setengah perjalanan cukup untuk tidur. Nada meletakkan buku diary miliknya ke dalam totebag. Lalu mengambil walkman. Memasang earphone di telinganya, Nada menekan tombol play di walkman. Mendengarkan satu lagu, kemudian kembali bersandar pada kursi pesawat, memejamkan mata.


__ADS_2