
Sementara itu, di tengah pemakaman yang tadi tampak ramai, kini semakin berangsur sepi. Satu per satu pelayat pergi meninggalkan makam dan raga yang ada di dalam tanah. Tidak ada lagi yang tersisa di situ. Kesedihan dibawa pulang oleh masing-masing dari pelayat. Entah itu teman, saudara, atau keluarga dari raga yang ditinggalkan.
Kalau ada yang masih terlihat menetap, mungkin itu adalah air mata dan taburan indah bunga tulip. Jejak-jejak kaki mulai tertanggalkan.
"Antar gue pulang..." ujar Nada ketus. Melirik Bunyi.
Namun, yang dilirik malah tersenyum. Bunyi sama sekali tak mengindahkan ajakan ketus itu. Bunyi melepaskan pegangan lengan kanan pada lengan kirinya yang kesakitan. Dan sekarang malah mendekatkan pandangannya pada Nada. Liukan senyum Bunyi, jelas sekali terlihat tergantung di kedua bola mata Nada.
"Bunyi... antar gue pulang,"
Bunyi menggeleng pelan. "Gak mau..."
"Gue mau pulang, Bunyi... bunga pesanan Bu Mira juga udah diambil. Jadi tugas gue uda selesai." Nada menatap Bunyi tajam. "Antar gue pulang... sekarang!"
Walaupun mungkin Nada sudah sangat kesal, tapi tetap saja Bunyi masih mempertahankan senyum dan tatapannya pada Nada.
"Gak mau." Bunyi menolak untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
Nada menghembuskan napas kekesalannya.
"Gue bingung deh... dulu Bu Mira ngidam apa sih pas lagi hamil?!"
Bunyi mengedikkan bahu. "Gak tau,"
"Mungkin marmut merah jambu. Atau... anak kelinci Selandia Baru? Makanya gue bisa selucu dan seimut ini..." tambahnya.
Penjelasan itu, sudah pasti membuat Nada semakin kesal pada Bunyi. Melihat dari raut wajah perempuan Jazz klasik yang sekarang benar-benar jengkel, Nada bahkan melepaskan earphone yang sejak mereka tiba tadi masih tetap berada di telinga kirinya. Nada melepaskan earphone itu, lalu melemparkannya ke tanah.
Melihat Bunyi beberapa detik, menggantungkan kekesalan di wajahnya, Nada merapikan tootbag hitam yang ia pakai, lalu melangkah pergi meninggalkan Bunyi.
Melihat Nada pergi, Bunyi segera memakai jaket, memakai helm, melepaskan earphone dari telinga, memasukkannya ke dalam saku celana, lalu duduk di vespa. Bunyi juga tampak memegang helm punya Nada. Lalu, ia mendorong vespa biru langit, mengejar langkah kaki Nada.
"Lea..." panggil Bunyi sekali lagi. Mendorong dan mendekatkan vespa agar berada di samping Nada.
Namun yang dipanggil tetap tak acuh dan masih terus menapakkan jejak kakinya. Sama sekali tidak menoleh ke arah Bunyi.
__ADS_1
Bagi Nada, berbicara pada Bunyi memang akan sama saja, karena Nada akan tetap kalah dalam berbagai kesempatan. Bunyi selalu bisa memberikan argumen, mematahkan kalimat Nada, dan selalu menang dalam perdebatan. Tapi, jika melihat apa yang sedang terjadi sekarang, sepertinya yang menang adalah Nada. Karena, ya, lihat saja. Bunyi pada akhirnya mengalah dan harus bersusah payah mengejar langkah kaki Nada dengan mendorong perlahan vespa biru langit itu.
Tapi di sela-sela pengejaran itu, tiba-tiba gerimis turun. Menghujam lembut seluruh area pemakaman. Jatuh tetes demi tetes di wajah Nada, seketika menghentikan laju kakinya. Dan pada saat laju langkah kaki itu terhenti, vespa biru langit juga berhenti. Bunyi kini sejajar tepat di samping Nada. Bahkan seperti terlihat tersenyum.
"Sekarang, lo mau ikut gue atau tetap milih jalan sambil hujan-hujanan?" tanya Bunyi. Memandang Nada, kemudian memperhatikan sekitar.
Nada yang tadi enggan bahkan untuk sekadar menoleh, sekarang tak punya pilihan lain selain melihat Bunyi. Lalu ikut memperhatikan sekitar juga.
"Biasanya, di kuburan itu kalau hujan kayak gini ada---"
"Iya, iya!"
Nada menghentikan kalimat Bunyi.
Sepertinya tebakan itu salah. Ternyata yang menang bukan Nada. Keadaan berbalik dengan sangat cepat. Pemenangnya tetap Bunyi. Nada sama sekali tidak bisa menolak untuk ikut bersamanya.
Bunyi pun tertawa kecil melihat wajah perempuan cantik yang tubuhnya diguyur gerimis itu kalah. Bunyi memberikan helm yang dia pegang pada Nada. Kemudian Nada pun memakainya, dan segera naik duduk di bangku belakang vespa.
__ADS_1
Tuhan, kenapa engkau malah memihaknya?
Gerimis mulai rapat, pemakaman basah kuyup. Bunyi menyalakan vespa, lantas pergi meninggalkan area Cemetery Zorgvelied itu. Si biru langit, meninggalkan pemakaman sendu dan melanjutkan perjalanannya menembus rintik-rintik yang jatuh.