
"Ayo, Je. Nanti ketinggalan pesawat. Uda kesiangan ini." desak Una. Sedikit cemberut. Menatap Jeje di depan pintu rumah sewa yang masih sibuk dengan kopernya.
Pukul 09.11 pagi. Sudah tiba saatnya. Hari ini mereka akan pergi meninggalkan Paris. Setengah jam lagi pesawat mereka akan lepas landas. Sebenarnya mereka sudah harus pergi dari satu jam yang lalu kalau saja Jeje tak terlambat bangun. Namun hal itu tak jadi masalah. Lagipula semuanya sudah diurus. Tiket, dan segala keperluan lain sudah disiapkan Naira semalam. Jadi mereka tak perlu mengkhawatirkan apapun.
"Merci, Madame." Nada tersenyum. Memberikan kunci rumah sewa pada perempuan didepannya yang tidak lain adalah pemilik rumah itu. Perempuan itu menerima kunci rumah sewa lalu tersenyum juga.
Setelah itu Nada melangkah ke arah taksi yang sejak tadi menunggu. Jeje, Una, dan Naira sudah ada di sana. Mereka harus berangkat sekarang. Nada naik ke dalam taksi. Naira bilang perjalanan ke bandara memakan waktu lima belas sampai dua puluh menit. Mereka harus bergegas kalau mereka tak ingin ketinggalan pesawat. Ya, walaupun Jeje sedikit protes kenapa harus terburu-buru. Tapi mereka memang harus terburu-buru. Dan tak lama berselang, taksi pergi.
Satu-dua blok jalan dilewati dengan baik. Supir taksi mempercepat laju mobilnya. Mahir menyalip beberapa kendaraan yang menghalangi. Sesuai dengan arahan Una yang ada disampingnya agar melesat dengan cepat. Peri centil itu sedikit mendesak supir taksi. Muka sang supir pun sekilas tampak nurut dan tak protes sama sekali. Nada dan Naira tertawa pelan melihat itu. Una memang ahlinya kalau urusan on time.
Nada bersandar lalu menoleh ke arah kanan. Menatap luas semua dari kaca mobil. Beberapa pejalan kaki, burung-burung yang terbang rendah beriringan, dan langit. Hari ini cuaca cerah sekali. Ternyata penyiar radio yang menyampaikan berita tentang cuaca pagi ini---terdengar dari radio taksi tak berbohong. Langit cantik membiru. Ditambah beberapa awan putih bersolek di sana sejauh mata memandang.
Perjalanan yang indah meski terkesan terburu-buru. Nada memalingkan wajahnya dari jendela. Bersandar tenang sembari menggenggam telepon genggamnya. Dalam beberapa jam mendatang, Paris benar-benar akan ditinggalkan. Kota yang sangat indah. Menyimpan kenangan-kenangan yang nantinya akan Nada ingat suatu saat kelak. Setiap sudut kota, malam, dan musim yang tiga kali berulang, sungguh. Potongan-potongan itu akan dibawa kemanapun---sampai kapanpun.
"Astaga, Nada!" Jeje tiba-tiba berteriak. Melipat laptop yang sejak tadi ia pangku. Semuanya kaget dan menoleh kearahnya. Bahkan supir taksi ikut menoleh dari kaca depan.
"Kenapa, Je? Ada yang ketinggalan?" Naira bertanya ingin tau. Jeje menggeleng.
"Bunyi udah tau kalau lo pulang ke Jakarta dan gak akan balik ke Paris lagi, Nad?" tanya Jeje polos.
Una yang mendengar itu seketika menepuk jidatnya sambil melotot ke arah Jeje. Naira langsung memalingkan wajah. Sedikit kesal. Sementara Nada hanya tertawa pelan.
"Sebagai sahabat kan harus saling mengingatkan." Jeje memalingkan wajah tak acuh. Membuka layar laptop.
Naira melirik Nada sebentar. Nada mengedikkan bahunya.
Tak ada yang salah memang sama pertanyaan Jeje barusan. Tapi kalau boleh ditelaah, kenapa Nada harus memberitahu Bunyi tentang kepulangannya pagi ini? Tentu hal itu tidak penting untuk Nada. Ataupun untuk laki-laki itu. Tapi tadi pagi, Bu Ni sempat menelepon sebentar dan menanyakan tentang ini. Mengucapkan banyak kalimat perpisahan dan bilang Nada harus meneleponnya kalau sudah sampai di Jakarta. Pastilah nanti kepulangan ini akan sampai ke telinga Bunyi dari Bu Ni. Ya, walaupun Nada sudah menebak kalau hal itu pasti terdengar sama sekali tidak penting untuk laki-laki seperti Bunyi. Laki-laki menyebalkan.
Sepuluh menit kemudian, taksi sampai. Nada dan yang lain turun. Begitupula supir taksi yang ikut turun lalu membantu mereka menurunkan koper. Selepas itu mereka bergegas melangkah masuk ke bandara bersamaan dengan taksi yang membawa mereka tadi pergi.
Di dalam, suasananya ramai sekali. Terutama di area kedatangan. Turis-turis datang silih-berganti. Paris memang akan selalu jadi salah satu pilihan tempat wisata. Namun area keberangkatan juga tak kalah ramai. Sepertinya penerbangan pagi ini padat. Nada melamun dalam langkahnya. Ia teringat tiga tahun lalu saat ia pertama kali sampai di Paris. Pemandangannya masih sama. Keramaian, raut wajah bahagia orang-orang, dan harapan Paris akan punya banyak hal indah tergantung di sana. Tak ada yang berubah. Nada menoleh ke kiri. Memerhatikan sekitar. Panggilan-panggilan terus terdengar dari speaker bandara. Memecah lamunannya. Terutama panggilan untuk penerbangan mereka. Mereka terus melangkah menuju pintu keberangkatan.
"Nay, di sini ada jual nasi uduk gak?" Jeje memegang perutnya. Cemberut.
Naira yang mendengar itu pun menggeleng. Enggak ada.
Nada yang mendengar itu tersenyum tipis. Kasihan. Tapi sekarang memang tak seharusnya mikirin nasi uduk, lima menit lagi pesawat mereka take off. Mereka harus buru-buru masuk ke dalam pesawat. Panggilan untuk penerbangan mereka juga sudah berulang-ulang kali terdengar. Tak ada waktu lagi. Nada menoleh ke kiri-kanan. Orang-orang yang ada disekitar mereka juga ikut melangkah ke arah yang sama. Terburu-buru. Sepertinya tidak cuma mereka yang akan pergi ke Jakarta pagi ini.
Melewati pintu keberangkatan, akhirnya mereka berhasil naik ke pesawat. Melangkah perlahan sambil mengarah ke kursinya masing-masing. Jeje dan Una duduk bersama di baris ketiga sebelah kiri. Sementara Naira dengan penumpang lain tepat dibelakang mereka. Seorang wanita berumur. Mungkin seorang pebisnis atau pengoleksi emas. Terlihat dari gelang-gelang yang ada di tangannya dan kalung di lehernya. Lalu untuk Nada sendiri, ia masih melangkah. Kursinya berada sedikit jauh dari tiga peri centil di depan. Nada melangkah ke arah belakang. Sampai akhirnya ia sampai di dua baris paling belakang. Seorang perempuan berambut hitam sebahu, memakai jaket, duduk sambil membaca buku ada di sana.
Nada melirik perempuan itu sebentar lalu bergegas duduk.
• • •
Menaruh tas lalu bersandar, Nada menatap pemandangan luar dari kaca pesawat. Sebentar lagi ia akan berpisah dengan Paris setelah tiga tahun memberikan pengalaman luar biasa indah untuknya. Berpisah dengan jarak belasan ribu kilometer. Nada menghela napas. Ia membenci kata itu. Mungkin semua orang juga membencinya. Ya, kata berpisah memang menyebalkan walau banyak dari kita akan kembali lagi dengan waktu yang cuma sementara.Tapi berpisah tetap saja berpisah. Sementara atau selamanya akan selalu berarti meninggalkan dan ditinggalkan. Nada menoleh. Melihat ke depan. Dua pramugari lalu-lalang. Suara pemberitahuan pesawat akan lepas landas terdengar. Lampu-lampu sudah mati. Nada memperbaiki sandarannya. Sekarang sudah waktunya. Nada memejamkan mata. Satu menit kemudian, Paris hanya tersisa langit dan titik-titik kecil yang hilang semakin redup di belakang.
Setelah itu, dua puluh lima menit berlalu sangat cepat. Yang tersisa hanya gumpalan awan dan bentangan luas langit biru cerah. Paris sudah jauh di belakang. Nada membuka tas dan mengambil buku di dalamnya. Buku yang sengaja ia bawa. Salah satu buku favoritnya. Nada selalu membaca buku itu. Seenggaknya buku itu bisa menemaninya untuk menikmati perjalanan panjang ini. Mengingat langit Jakarta akan tampak lima belas jam lagi. Waktu yang cukup lama.
Di baris depan, tiga peri centil tak bersuara. Mungkin mereka sedang sibuk masing-masing atau mungkin juga sudah tidur seperti penumpang-penumpang lain. Suasana di dalam pesawat pun sedikit sunyi. Hanya ada sayup-sayup suara televisi yang menyala di beberapa bangku penumpang serta langkah kaki dua pramugari yang lewat bergantian membawa makanan dan minuman ringan.
"Lima sekawan?"
Suara seseorang terdengar menyapa. Atau mungkin lebih tepatnya bertanya. Nada menoleh. Ternyata dari perempuan yang ada di sampingnya. Nada menatap perempuan itu sambil mengangguk pelan.
"Harmoni." Ia menyodorkan tangan.
"Nada." Nada tersenyum kecil. Perkenalan singkat.
"Aku pikir itu buku yang bagus untuk perjalanan membosankan lima belas jam ini." Perempuan bernama Harmoni itu tertawa pelan. Mengangguk-angguk.
"Mungkin begitu." Nada ikut tertawa pelan.
"Maaf sudah mengganggu waktu bacamu. Sekarang aku tak akan mengganggu lagi. Lagipula sebenarnya aku juga sudah mengantuk." Harmoni nyengir. Merapikan posisi duduknya lalu bersandar. Memajamkan mata.
Nada yang melihat itu tertawa pelan. Perempuan yang lucu. Seenggaknya sekarang Nada sudah tau nama seseorang yang duduk bersamanya untuk lima belas jam ke depan. Nada memalingkan wajah. Kembali menatap buku dan mulai membacanya. Halaman pertama.
__ADS_1
Nada membaca dan memperhatikan setiap kalimat yang ada di buku itu. Mengamati setiap lembar halamannya. Sesekali juga menatap kaca pesawat. Satu setengah jam yang berat. Pemandangan diluar kelihatan sedikit mendung sekarang. Awan hitam tampak samar-samar membalut langit. Sedikit menyeramkan. Sepertinya badai akan datang. Padahal beberapa saat yang lalu masih kelihatan sangat cerah. Nada menutup buku itu. Halaman terakhir. Ia menaruh buku itu di atas pangkuannya. Mengusap kedua matanya sebentar. Hujan turun deras satu jam setelah itu. Jutaan butir serentak jatuh menusuk bumi. Nada kembali bersandar. Memejamkan mata, memutuskan untuk tidur.
Sampai akhirnya belasan jam berlalu tak terasa. Nada terbangun dari tidurnya. Suara pramugari terdengar memberikan aba-aba untuk bersiap. Pesawat akan segera mendarat. Seluruh penumpang juga tampak merapikan posisi duduk mereka. Begitupula dengan Harmoni yang sudah duduk tegak sambil memegang bukunya. Nada menoleh ke arah jendela kaca seiring lampu-lampu mati. Lima belas jam yang singkat. Nada tersenyum kecil menatap ke luar jendela. Titik-titik lampu cantik kelihatan kerlap-kerlip di sepanjang ratusan kilometer meski embun dan gerimis seiring dengannya. Syukurlah langit yang ini tak diterpa badai. Pukul 01.12 dini hari, Jakarta. Pesawat mendarat.
Nada bersiap melangkah ke arah depan. Menoleh sebentar ke Harmoni yang tersenyum ke arahnya. Perempuan itu melangkah duluan. Nada tersenyum sebentar lalu ikut melangkah ke depan. Di sana tiga peri centil sudah menunggu. Mereka bergegas turun dari pesawat setelah itu. Melangkah masuk ke dalam bandara, Naira bilang supirnya sudah menunggu mereka. Jadi mereka bisa langsung pulang. Raut wajah mereka juga tampak lelah. Meskipun selama perjalanan mereka tidur, tetap saja lima belas jam di dalam pesawat pasti menguras tenaga.
Nada mengangguk setuju. Walaupun saat melangkah keluar dari bandara, ia tak jadi pulang bersama dengan tiga peri centil karena tiba-tiba Bara datang menjemputnya. Nada yang melihat Bara datang dengan kegembiraan di wajahnya pun langsung kesal. Ya, kekesalannya itu perihal Bara tidak bisa ditelepon belasan jam yang lalu. Bahkan pesan yang Nada kirim saja tak dibalasnya. Namun meskipun begitu, kekesalan itu tak berlangsung lama setelah Bara bilang kalau ia punya berita bagus. Berita yang akan membuat hati Nada senang. Nada yang mendengar itu pun lantas ingin tau. Bara bilang, ini tentang Bu Ann. Nada sontak terdiam. Lima belas menit setelah itu, mereka meninggalkan bandara.
Perjalanan terakhir. Tiga puluh menit. Nada tak sabar ingin sampai di rumah. Sudah tiga tahun lamanya. Wajahnya sangat bahagia. Laiknya ratu lebah yang merindukan ladang bunga terbaiknya. Rindu tergantung jelas di sana. Walau tadi ia sedikit menahan kerinduan itu. Nada sempat bilang ke Bara singgah ke rumah sakit dulu sebelum pulang karena ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan Mamanya. Namun Bara bilang ini sudah terlalu larut. Lagipula jam besuk rumah sakit sudah habis beberapa jam yang lalu. Nada mengangguk tipis.
Tapi Bara bilang Nada tak perlu khawatir. Ia juga kembali mengatakan kabar bagus itu. Kabar tentang kondisi Bu Ann. Bara bilang kondisinya sudah jauh lebih baik. Dokter yang menangani Bu Ann mengatakan kalau proses penyembuhan berjalan lancar. Respon positif ditunjukkan oleh mentalnya yang mulai berangsur-angsur pulih. Nada yang mendengar itu langsung menghela napas bahagia. Sebelum akhirnya memalingkan pandangannya ke kaca mobil. Jalanan macet. Klakson kendaraan saling saut tak bersahabat. Jakarta tetaplah Jakarta sampai kapanpun.
• • •
Setengah jam berlalu. Mereka sampai. Nada dan Bara turun dari mobil. Memegang tas lalu melangkah menuju pintu rumah, dua pot bunga cantik yang tergantung rapi di masing-masing sisi pintu dan seorang perempuan menyambut kedatangan mereka. Dia adalah Bi Mira. Bara pernah cerita pada Nada tentang Bu Mira. Asisten rumah tangga yang baru bekerja sejak setahun yang lalu. Dia yang mengurus segalanya di rumah. Nada tersenyum kecil. Bi Mira membantunya membawa koper lalu masuk ke dalam.
"Welcome back." Bara menatap Nada. Tersenyum.
Mereka berada di ruang tamu sekarang. Nada ikut tersenyum juga. Matanya melihat sekitar. Memandang detail semua yang ada di sana. Bara bilang tak ada yang berubah. Ia menyuruh Bi Mira untuk tidak merubah apapun. Semua itu karena Bara ingin saat Nada atau Bu Ann kembali ke rumah, kondisinya masih sama seperti awal mereka meninggalkannya. Nada mengangguk percaya. Bara benar. Semuanya masih terlihat sama seperti tiga tahun lalu. Tak ada yang berubah walau setitik kecil apapun. Posisi letak meja, sofa, lukisan-lukisan di dinding sebelah kiri, dan bingkai foto-foto kenangan hidup mereka. Nada menghela napas bahagia.
Selepas itu Nada melangkah ke arah kamarnya. Masuk ke dalam lalu menatap semuanya bergantian. Kamarnya pun masih sama. Seperti tiga tahun lalu. Rak buku kecil di sebalah kanan, turntable dan beberapa kotak vinyl di samping kasur, bahkan aquarium kecil itu. Aquarium tempat binatang kesayangan Nada. Popo. Kura-kura kecil yang Nada beli sebagai hadiah untuk dirinya sendiri saat ulang tahun ke tujuh belas. Nada memalingkan wajah. Melangkah ke kasur lalu duduk di sana. Sekarang ia benar-benar sudah ada di rumah.
Tok tok
Nada menoleh. Di depan pintu Bara berdiri sambil tersenyum menatapnya sebelum akhirnya melangkah masuk lalu ikut duduk bersama Nada.
"Mas senang banget kamu udah di rumah, Nad. Ya, seenggaknya gak ada gosip Mas nikah sama Bi Mira lagi." Bara tertawa. Begitupun dengan Nada.
"Anyway, gimana Paris?" Bara ingin tau. Nada mengedikkan bahunya.
"Beatiful. Tapi tetap gak akan ada tempat yang paling indah selain rumah sendiri, Mas." Nada tersenyum. Mengangguk-mengangguk kecil.
Bara ikut mengangguk. Benar sekali.
"Kalau Bunyi, gimana?" Bara bertanya lagi.
"Pria yang baik, jenius, meskipun kadang menyebalkan." Bara menjawab pertanyaannya sendiri. Mengangguk-angguk tipis. Nada memalingkan wajahnya.
Setelah itu entah kenapa pandangan mereka sama-sama tertuju pada satu foto yang terpajang di dinding. Tepat di depan mereka. Nada menatapnya duluan. Bara juga ikut menatap foto itu walau jika dilihat dari wajahnya, dia sebenarnya enggan. Foto yang tampak usang bingkainya, sedikit tertutupi awan kelabu dan guntur yang datang saut-sautan, foto itu adalah foto mereka. Foto keluarga mereka bertahun-tahun yang lalu. Nada menghela napas. Tampak Nada kecil dan Bara remaja yang tersenyum senang di sana. Turut pula Bu Ann dan Pak Karso yang sama-sama merangkul mereka erat.
"Besok pagi Mas antar kamu ke rumah sakit, ya. Sekarang kamu istirahat dulu. Lima belas jam terbang di udara, Mas tau kamu pasti capek." Bara berdiri. Mengusap-usap pundak Nada sebentar lalu melangkah pergi.
Nada mengangguk pelan.
Kelihatan sekali Bara sedang berusaha mengalihkan fokus Nada dari foto itu. Mungkin Bara tak ingin jika Nada mengingat kenangan indah itu lagi. Kenangan indah yang bukannya membuat hati bahagia, namun sebaliknya. Nada memalingkan wajah. Beranjak naik ke atas kasur, merebahkan diri. Menatap langit-langit. Sekeras apapun kita berusaha melupakannya, setiap potongan kenangan akan selalu hadir dengan cara apapun. Setidaknya begitulah cara masa lalu bekerja.
Keesokan harinya, fajar terbit lebih awal. Sinarnya masuk dan membangunkan jiwa-jiwa yang tenggelam semalam. Jam delapan pagi. Jakarta sedikit berbeda pagi ini. Sejuk dan bersahabat. Jalanan ramai lancar. Tak ada klakson mobil yang memekakkan telinga. Pejalan kaki, pedagang kaki lima memenuhi ruas kiri-kanan jalan. Walaupun jika sedang berkendara, gedung-gedung pencakar langit tetap tak luput dari pandangan.
Pagi ini Nada dan Bara menuju rumah sakit. Mereka berangkat lima belas menit yang lalu. Pagi ini niatnya Nada ingin memberi kejutan untuk Mamanya. Melepas rindu yang tertumpuk selama tiga tahun. Bagi Nada pagi ini adalah pagi yang sangat spesial. Ia sudah tak sabar memeluk Mamanya. Ditambah lagi tadi Bara bilang hari ini Bu Ann tak ada jadwal terapi apapun. Nada bisa menghabiskan waktu seharian menemani Mamanya di rumah sakit.
"Nad," Bara memanggil.
Nada menoleh, "Iya Mas?"
"Semalam Mas lupa nanya. Kamu bilang kan kamu ada nge-chat Mas. Tapi kok nomornya, nomor baru. Kamu ganti nomor whatsapp?
"Nomor baru?"
Bara mengangguk.
"Perasaan aku gak pernah ganti nomor Mas." Nada melipat dahinya.
"Terus ini nomor siapa?" Bara memberikan telepon genggamnya pada Nada.
Nada menerimanya. Sorot matanya memperhatikan layar handphone. Dan betapa herannya Nada saat melihat isi pesan di sana. Pesan yang Bara maksud tadi. Kalimat itu. Nada terdiam sejenak. Ia ingat. Itu adalah pesan yang sama. Nada melihat nomor pengirimnya. Benar. Nomor pengirimnya juga sama. Ada sesuatu yang mau ku beritahu padamu. Ini tentang Mama. Nada memalingkan wajah. Menatap jalanan di depan.
__ADS_1
"Kenapa, Nad?" Bara ingin tau.
"Gapapa Mas. Cuma kayaknya ada yang aneh aja."
"Aneh?" Bara mulai bingung. Nada mengangguk pelan.
"Dua hari yang lalu aku juga dapat chat kayak gini. Persis. Isinya sama, nomor pengirimnya juga. Malah aku mikirnya pesan ini dari Mas." Nada kembali melipat dahinya. Mencoba berpikir pemilik kalimat itu. Jelas ia sedang penasaran.
Bara yang mendengar itu pun jadi semakin bingung. Jika benar itu bukan dari mereka berdua, lalu dari siapa? Nada memikirkannya berulang-ulang kali sebelum akhirnya kembali bersandar pada bangku mobil. Menatap ruas jalan yang mulai sepi sekarang. Langit sedikit mendung di luar. Rintik-rintik gerimis mulai turun seiring cerah tiba-tiba menghilang pagi ini. Benar-benar menghilang. Siapa pengirimnya.
• • •
Lima menit berselang, mereka sampai di rumah sakit. Nada dan Bara turun dari mobil sebelum akhirnya melangkah masuk ke rumah sakit. Nada tak sabar ingin segera bertemu Mamanya. Di dalam, seseorang sudah menunggu mereka. Tersenyum sambil memberikan sapaan. Dia adalah Luna. Dokter yang menangani Bu Ann. Bara bilang Luna adalah dokter spesialis terbaik di rumah sakit ini. Selain itu juga Luna adalah pemilik rumah sakit ini. Nada mengangguk dan tersenyum pada Luna. Setelah itu mereka langsung melangkah menuju ruangan Bu Ann. Luna memimpin jalan.
Di sepanjang jalan mereka kesana, suasana rumah sakit sepi. Hanya ada kamar-kamar tertutup, beberapa ruangan kosong untuk pasien, dua---tiga perawat yang lewat, serta taman yang tampak sepetak dari jendela sebelah kiri. Rumah sakit ini tak seperti rumah sakit pada umumnya. Nada tau hal itu karena Bara sempat bilang padanya kalau rumah sakit ini adalah rumah atau bisa dibilang seperti tempat khusus untuk penyakit-penyakit tertentu saja. Dan Luna juga menjelaskan itu pada Nada. Ia bilang, selain rumah sakit tempat ini lebih cocok dibilang sebagai rumah rehabilitasi. Nada mengangguk tipis. Ia sempat berpikir kalau tempat ini mirip seperti tempat yang ada di Paris itu. Tempat yang jadi rumah untuk Alya.
Nada menoleh. Bara sedikit bertanya pada Luna tentang kondisi Bu Ann terbilang sampai pagi ini. Luna bilang semuanya masih sama seperti apa yang disampaikannya terakhir kali pada Bara. Luna bilang Bu Ann masih belum bisa berjalan walau jemari kakinya sudah mulai bergerak. Satu kabar baik untuk mereka. Luna melanjutkan. Peningkatan pada saraf sensorik dan motorik tubuhnya juga semakin membaik. Bu Ann mulai bereaksi dengan rangsangan-rangsangan terapi. Hal itulah yang menyebabkan kenapa penyakit histeris Bu Ann sudah tak pernah kambuh lagi. Nada dan Bara saling tatap dan tersenyum. Benar-benar kabar baik. Lalu Luna lanjut menjelaskan. Walaupun begitu, Bu Ann masih bersikap sama. Dingin dan tetap belum bisa bicara. Ditambah lagi, sering sekali saat menjelang malam sebelum tidur Bu Ann mengigau. Memanggil-manggil sebuah nama atau gelisah. Nada dan Bara saling tatap.
Sulit untuk menjelaskan bagaimana perasaan mereka sebagai anak yang melihat penderitaan orangtuanya. Selalu ada perasaan sakit dan sedih ketika mereka tau tentang kondisi Mamanya itu. Tapi seenggaknya mereka sedikit lebih lega karena semakin hari keadaan Bu Ann semakin membaik. Hal itu tak menutup kemungkinan untuk kesembuhannya kelak. Ya, Nada selalu ingin Mamanya sembuh. Sudah lama sekali rasanya melihat senyum tergantung indah di wajah Mamanya itu. Nada menitikkan air mata. Mengusapnya lalu berhenti melangkah. Satu menit berselang. Mereka sampai di ruangan paling ujung.
Nada menatap sekitar sebelum tatapannya fokus pada satu pintu yang ada di depan. Luna bilang itulah ruangan Bu Ann. Nada menghela napas. Sekarang ia sudah berada dekat dengan Mamanya. Sesaat lagi ia bisa melihat Mamanya yang ada di dalam. Sungguh hatinya sangat bahagia. Tapi, tak dipungkiri sedikit terselip kesedihan disana. Nada menunduk sebentar sembari menghela napas lagi. Entah kenapa ada sedikit perasaan takut di dalam diri Nada kalau Bu Ann mungkin sudah tak mengenalinya lagi.
"Nad," Bara berucap pelan. Memegang lengan Nada lembut.
Nada menoleh. Melihat Bara tersenyum sambil mengangguk tipis. Matanya tampak berbicara, gapapa. Menyuruh Nada masuk ke dalam.
Nada menghela napas lagi, lagi, dan lagi. Dadanya sedikit terasa sesak. Tangannya menyentuh pintu lalu perlahan mendorongnya. Nada menunduk dan memejamkan mata sebentar. Satu cahaya yang menembus jendela menyambutnya dari sebelah kanan. Satu instrumen cello juga terdengar entah dari mana dengan suara seseorang bersenandung tajam, menusuk.
Bagaimana rasanya memiliki awan seutuhnya, tanpa pernah membaginya pada hujan. Bagaimana rasanya memiliki tanah selayaknya, tanpa pernah membaginya pada jiwa-jiwa mati. Dan bagaimana rasanya memiliki masa lalu, tanpa pernah membaginya pada masa depan yang menunggu di ujung jalan.
Nada melangkah masuk ke dalam. Bara dan Luna ikut di belakangnya. Membuka mata seutuhnya, menatap punggung seorang perempuan yang duduk di kursi roda menghadap jendela. Nada menggigit bibirnya. Itu adalah Bu Ann. Itu Mamanya.
"Ma." Nada berucap pelan. Mengusap ujung mata sebentar, mencoba memanggil Bu Ann di sana.
Namun Bu Ann tak menjawab. Masih tampak menatap datar jendela. Instrumen dan senandungnya berhenti. Nada melangkah mendekat. Satu-dua langkah ke arah Mamanya. Masih menatap punggung Bu Ann sambil menahan sesak di dalam dada. Mencoba memanggil sekali lagi, sebelum akhirnya ia terdiam. Bu Ann berbalik badan.
Mereka saling tatap sekarang. Nada menghela napas. Ia tak tahan. Mata layu dan wajah pucat itu. Seperti tak ada ruang untuk bahagia di sana. Tampak jelas kesedihan tergantung di setiap kelopaknya. Sungguh Bu Ann sudah menahan itu sejak lama. Tak ada apapun selain kesedihan. Nada menitikkan air mata. Dadanya benar-benar sesak sekarang. Mencoba memanggil lagi walau ia tak kuasa menahan tangis. Sampai akhirnya Nada berlari lalu berlutut di hadapan Bu Ann.
"Ma. Ini Nada, Ma." Nada memegang erat tangan Bu Ann. Menatap harap mata kosong Mamanya.
"Ma, Nada pulang. Nada kangen Mama."
"Mama masih ingat Nada, kan? Mama apa kabar? Mama kangen Nada kan, Ma?"
Tetes demi tetes air mata Nada jatuh. Tumpah. Pecah sudah bendungan itu. Nada menangis sesenggukan. Bu Ann tetap tak menjawab. Yang ada hanya tatapan kosong dan wajah datar menatap ke depan. Bahkan ia sama sekali tak melihat anaknya yang menangis dan berlutut di depannya.
Di sisi lain Bara memalingkan wajah. Ia tak kuat jika harus melihat pemandangan itu. Menatap langit-langit ruangan. Matanya berkaca-kaca. Bara tak ingin melihat adiknya menangis di sana. Meskipun sebenarnya Bara tau apa yang dilakukan Nada percuma. Ia tau Bu Ann tak akan pernah menjawab. Namun Bara tetap tidak bisa berbuat apa-apa.
Nada mengusap air matanya berulang kali. Seakan kesedihan itu tak ada ujungnya. Nada berbalik dan menatap Bara sebentar lalu kembali menatap wajah datar nan pucat Mamanya sambil tersenyum. Memegang erat kedua tangan Bu Ann yang dingin, menelan ludah dan mengusap air mata di pipinya, Nada mulai bernyanyi.
Satu bintang di ujung jalan. Berteman dengan malam. Bulan redup lalu menghilang. Hari esok akan datang.
Sedikit serak seiring air mata yang masih berlinang, Nada bersenandung lirih. Berharap Mamanya mendengar itu di bagian hati yang paling dalam. Nada menunduk lesuh. Itu adalah penggalan lirik dari lagu yang sering dinyanyikan Bu Ann dulu. Lagu yang selalu bisa mengantarkan Nada kecil ke pelukan mimpi. Lagu berjudul Sirius. Diartikan sebagai bintang yang paling terang di langit malam, dulu Bu Ann berharap Nada menjadi seperti itu suatu hari nanti.
• • •
Walau pagi ini tak seindah apa yang dipikirkan, walau tak selembut cahaya yang menyentuh pelataran langit, setidaknya rindu itu tuntas. Tuntas meskipun harus dibayar dengan air mata. Bara menggandeng Nada keluar dari ruangan Bu Ann. Mengakhiri pagi sendu di ruangan itu. Ia tak tega melihat adiknya tenggelam lebih dalam lagi di lautan kesedihan. Terlebih, karena Luna sempat bilang pada Bara kalau Bu Ann tak boleh terlalu banyak dipaksa mengingat atau berada dalam kondisi seperti tadi. Itu bisa mempengaruhi ingatan-ingatan buruknya kembali muncul dan memicu depresi.
Ruangan itu pun ditinggalkan. Mereka pergi. Luna mengajak Bara untuk berbincang sedikit perihal Bu Ann di ruangannya. Sementara Nada, tertunduk lesuh duduk di bangku taman rumah sakit. Matanya sembab. Air matanya masih jatuh. Satu per satu seiring angin berhembus kencang menerbangkan daun-daun yang gugur. Awan sedikit abu-abu. Pagi ini, Nada berharap ia memeluk Mamanya sambil menggapai bahagia bertemu lagi setelah tiga tahun mereka berpisah. Sebagaimana anak perempuan yang merindukan peluk hangat seorang ibu, Nada berharap pagi ini akan menjadi sepotong bahagia meski hanya sepotong. Sudah lama sekali rasanya. Nada terisak lagi. Air matanya kembali jatuh. Menatap kosong depan, potongan-potongan kenangan itu terputar. Seisi taman berubah jadi panggung masa lalu.
Dulu kalau Nada atau Bara kecil sedang menangis, Bu Ann pasti segera datang dan meraih mereka. Tanpa bertanya dan langsung mengusir kesedihan dari wajah anak-anaknya sambil tersenyum. Bu Ann bilang semua akan baik-baik saja. Tak ada apapun yang boleh mengusir wajah riang itu. Sekalipun dunia. Nada dan Bara kecil yang mendengarnya seketika berhenti menangis. Menyeka ujung mata lalu tersenyum. Memeluk erat Bu Ann. Tenang dan aman bersamanya. Bu Ann memang yang paling mengerti. Dia tak akan membiarkan anak-anaknya menangis lebih lama. Apapun akan dia lakukan agar bahagia tergantung kokoh di wajah mereka. Tapi sekarang semuanya sudah jauh berbeda. Tak ada senyum setelah air mata lagi. Tak ada hangat dan damai pelukan lagi. Nada menghela napasnya. Seluruh taman kembali seperti semula. Potongan kenangan itu menghilang dalam sekejab.
Nada menyeka ujung matanya sebelum akhirnya menoleh. Handphone miliknya berdering.
Hai, Nada. Apa kabar? Saya tau kamu pasti sudah sampai di sana. Gimana Jakarta? Saya menelepon Madame Marie kemarin. Dia bilang kamu sudah pergi dari rumah sewa itu. Syukurlah. Saya senang kamu sudah pulang. Selamat untuk kelulusanmu. Saya turut bahagia. Sekarang kamu bisa berlibur sejenak sebelum nantinya akan menjadi musisi profesional seperti saya. Jangan hiraukan tentang ajakan saya beberapa hari yang lalu tentang festival itu. Fokuslah di sana dulu. Tapi kalau kamu tertarik untuk ikut melihat acara hebat itu, kabari saya. Oh iya, ngomong-ngomong saya sudah di sini. Di Banda Neira. Saya sampai kemarin malam. Tempat ini benar-benar luar biasa. Surga yang sangat indah. Saran saya kamu harus melihatnya langsung. Ya sudah sampai di sini dulu. Saya harus berkeliling pagi ini. Rencananya acara pembukaan akan digelar dua hari lagi. Nad, sekali lagi selamat untuk kelulusanmu.
__ADS_1
tertanda di pesan ini, gurumu.
Nada memalingkan wajah dari layar handphone setelah membaca pesan yang lumayan panjang itu. Pesan dari orang yang sangat Nada kenal. Ya siapa lagi kalau bukan Cikal. Karena tak akan ada orang lain selain Cikal yang memilih mengirim pesan sepanjang itu ketimbang harus menelepon. Laki-laki yang cukup unik. Katanya dia sudah sampai di tempat itu sekarang. Banda Neira. Cikal akan mulai mengurus festival itu. Festival summer jazz. Nada menatap datar ke depan. Ia ingat tentang ajakan Cikal yang belum sama sekali ia balas. Kalau dipikir-pikir, Nada memang sedikit tertarik untuk pergi ke Banda Neira. Setidaknya hanya untuk melihat festival yang kata Cikal akan jadi festival hebat itu. Karena mungkin di sana nanti akan banyak musisi-musisi hebat dunia yang datang dan tampil di atas panggung. Mengingat juga waktu di Paris, setelah salah satu impiannya tampil di New Hall gagal, Nada sempat kepikiran untuk menerima tawaran Cikal pergi ke Banda Neira melihat festival summer jazz di sana. Namun, pada akhirnya hal itu perlahan terlupakan. Nada tak terlalu memikirkan Banda Neira dan festival itu setelah Bara bilang kondisi Bu Ann semakin menurun beberapa hari yang lalu. Bahkan saat sudah pulang ke Jakarta sekarang dan melihat langsung kondisi Mamanya tadi, Sepertinya Nada memang tak akan pergi.