Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#64 [Bab. jakarta land dan si putis]


__ADS_3

...• • •...


"Lea, Lea... Udah sampai." ucap Bunyi.


Nada tersentak. Terkesiap. Lalu melepaskan pelukannya dari Bunyi. Seketika langsung Turun dari vespa.


Bunyi tersenyum. Membantu membuka helm Nada. Lalu pergi memarkir vespa.


Selamat datang di Jakarta Land. Kalimat itu terdengar di salah satu pengeras suara yang ada di tempat ini. Diucapkan berulang-ulang. Sambutan bagi semua orang yang baru saja tiba.


Nada memperhatikan sekitar. Samar-samar.


Pasar malam yang indah. Lampu sorot menyilaukan mata. Kerlap-kerlip lampu warna-warni juga sukses menyita perhatian pengunjung yang datang. Sorak sorai dari mereka yang tampak takjub dengan tempat ini pun memenuhi area parkir sampai ke pintu masuk wahana bermain.


Ramai sekali. Segala usia datang memenuhi tempat ini. Banyak anak-anak berlarian. Tak sabar ingin segera masuk ke dalam pasar malam. "Pelan-pelan. Kan, harus ngantri dulu. Harus beli tiket dulu." Ucap seorang Ibu. Tak jauh dari Nada. Ibu itu mencoba menenangkan anaknya yang sejak tadi menarik tangannya. Tak sabar ingin segera masuk. Nada tertawa tipis.

__ADS_1


Sebenarnya bukan cuma Ibu itu. Banyak orangtua lain yang sedang berusaha sabar menyikapi antusias anak-anak mereka atas tempat ini. Ada yang merengek nangis karena jatuh saat berlari. Ada yang tampak senang karena dibelikan beberapa mainan kecil serta makanan dari beberapa lapak jualan yang ikut meramaikan suasana pasar malam.


Nada memalingkan wajahnya. Melihat Bunyi datang setelah selesai memarkir vespa.


Nada menatap Bunyi, "Kenapa kamu ketawa?"


Yang ditatap malah menggeleng. Masih tertawa.


"Kamu capek? Atau aku nyaman dipeluk? Sampai ketiduran gitu tadi." Bunyi tersenyum.


Astaga. Ketiduran? Kok bisa?


Tadi, saat senja membalut bumi dengan warna jingganya, saat matahari mulai tenggelam dengan genitnya, sebelum sampai di tempat ini, Nada tak sadar memeluk Bunyi. Ia tertidur di dalam pelukan itu. Entah bagaimana bisa seperti itu. Nada benar-benar malu sekarang. Pipinya merah.


"Lain kali aku bawa bantal deh. Biar makin nyaman tidurnya." Ledek Bunyi. tertawa.

__ADS_1


Nada tak berkata apa-apa. Wajahnya masih sama. Merah merona. Kenapa bisa sampai ketiduran sih, Nada. Malu-maluin aja.


Untuk pelukan yang mampu membuat seseorang tak sadar sampai bisa ketiduran, mungkin Bunyi benar. Pelukan itu nyaman sekali. Tapi untuk seseorang yang ketiduran di atas motor vespa, apalagi seorang perempuan, jelas itu ceroboh. Membahayakan. Ya, gimana kalau sampai jatuh. Nada benar-benar masih tersipu malu.


Tapi meskipun begitu, Nada tertawa geli di dalam hati. Sekali lagi mungkin Bunyi memang benar. Pelukan itu nyaman. Ya, anak gadis mana yang sampai tak sadar ketiduran di atas vespa kalau memang tidak merasa nyaman? Mustahil.


Tapi bisa jadi karena kelelahan. Kalimat itu mungkin sedang ada di dalam pikiran kalian sekarang. Ya, karena saat berada di La vie en rose, saat bertemu dengan Banda dan beberapa teman lama, merayakan kejutan kecil-kecilan ulang tahunnya, bercerita panjang lebar dengan Banda, serta mencoba mengenali setiap potongan-potongan kecil kenangan masa lalu, bagi Nada semua itu memang cukup mengurus tenaga. Masuk akal. Tapi, berada di atas vespa saat senja, mencoba menterjemahkan perasaan seseorang, pelukan, lalu ketiduran, kelelahan tidak menjawab semua hal yang di atas. Karena yang paling masuk akal untuk semua itu cuma satu. Kenyamanan.


Andai Bunyi tau kalau pelukan itu tentang bagaimana caranya Nada mencoba menenangkan Bunyi yang mungkin sedang merasa kehilangan. Pelukan itu jelas punya alasan. Kenyamanan yang menangkan hati seseorang. Karena Nada pikir, kepergian Alya membuat hati Bunyi terluka. Kan, bagi setiap orang, kepergian memang akan tetap seperti itu.


Tapi, ekspresi sedih itu sama sekali tak tampak di wajah Bunyi. Mungkin sedang dia sembunyikan atau entahla. Sekalipun hal itu dibicarakan, biarlah Bunyi yang membuka lembar pertamanya. Nada sama sekali tak ingin membahas dan membuka lembar pertama tentang kepergian seseorang.


"Kamu lagi sakit gigi?" Bunyi menatap Nada.


Nada menggeleng pelan.

__ADS_1


Bunyi tersenyum. "Kalau diam di sini terus, nanti keburu tutup. Ayo."


Bunyi menggenggam telapak tangan Nada. Mereka melangkah ke arah pintu masuk pasar malam. Mengantri seperti pengunjung yang lain. Bunyi membeli dua tiket. Dua tiket masuk dengan warna yang berbeda. Satunya berwarna biru, satunya lagi berwarna abu-abu. Salah satu warna kesukaan Nada.


__ADS_2