
Pukul satu siang. Gerimis tak lagi ada. Sisa-sisa airnya juga telah menghilang dari bumi. Hanya ada daun-daun jatuh, berserakan di mana-mana. Dan senyum matahari yang tersungging di antara langit-langit cerah.
Si biru langit sampai di Beethovenstraat. Masuk ke halaman rumah tuan putri yang sejak tadi selalu memegang erat buku lima sekawan di tangannya. Bakso dan segala hal tentang perpustakaan mini di restoran Mang Asep sudah tertinggal jauh di belakang.
Setelah si biru langit berhenti dan berdiri kokoh, Nada dan Bunyi turun.
Nada melepaskan helm, lalu memberikannya pada Bunyi. Namun, si penerima itu malah tersenyum. Helm Bunyi masih terpasang. Dia kembali duduk di vespa. Menghadap Nada.
"Kenapa ngelihatin gitu?" tanya Nada bingung.
"Gue minta maaf ya,"
"Minta maaf?"
Bunyi mengangguk. "Karena sejak kemarin gue nyebelin. Dan tadi, sempat membiarkan putri cantik ini hujan-hujanan."
Nada tersipu malu. Jelas sekali tergantung di wajahnya. Tapi kalian tau Nada. Dia pasti akan segera menyembunyikan perasaan itu.
"Iya, gue uda maafin. Tapi kalau untuk yang tadi, gue udah biasa kok hujan-hujanan."
"Berarti sekarang gue bisa manggil lo putri hujan dong?" Sahut Bunyi. Mengagetkan Nada.
"Atau... putri---"
__ADS_1
"Enggak..." Nada menghentikan kalimat Bunyi.
Ia memantapkan tatapannya pada Bunyi, "Panggil Lea aja." Nada memalingkan wajahnya. Tersenyum tipis.
Bunyi juga tersenyum, lalu berdiri seutuhnya. Bahkan sekarang, Bunyi menyodorkan tangan pada Nada.
"Nanda Pradikta. Kamu boleh cuma manggil Pra aja, Dik, atau---"
"Nan,"
Nada kembali menghentikan kalimat Bunyi.
"Aku mau manggil Nan aja." ujarnya.
Dia juga sepertinya tersipu malu. Ya, bagaimana tidak. Dari kemarin, dari awal mereka bertemu, sikap Nada begitu dingin, kaku, dan tak acuh padanya. Tapi sepertinya sekarang malah berbalik. Sikap Nada mulai membaik pada Bunyi. Menunduk sebentar, lalu kembali menatap Nada, wajah Bunyi mulai ikut merah.
"Cie, cie...." Suara-suara rayuan usil terdengar. Ikut bergabung.
Kalian pasti sudah tau suara itu berasal darimana. Benar. Jeje, Naira, dan Una. Mereka melangkah dari dalam rumah. Bergabung dengan Nada dan Bunyi di halaman.
"Ada yang mulai manggil aku kamu nih,"
"Udah ada panggilan spesialnya juga..."
__ADS_1
"Kan, uda gue bilang... ngambil bunga itu cuma alasan doang. Sebenarnya memang tujuannya ya, nge-date."
"Iya. Padahal kemarin kayaknya berantem mulu deh. Tapi sekarang malah uwu-uwuan di sini."
Rayu ketiga peri centil itu bergantian.
Yang dirayu tentu merah jambu mukanya. Nada tampak canggung. Napasnya tak beraturan. Tapi di sisi lain, Bunyi malah tertawa tipis.
Melihat Nada kembali, "Lea," panggil Bunyi.
Nada mengindahkan panggilan itu. Menatap Bunyi.
"Besok aku telfon." Bunyi tersenyum. Kemudian menyalakan mesin vespa.
"Bukunya di baca, ya. Jangan di simpan aja. Soalnya kan itu buku, bukan perasaan." Tambahnya.
Kembali melihat Nada dengan senyuman, Bunyi dan si biru langit pun perlahan pergi meninggalkan halaman. Meninggalkan degup kencang jantung seorang perempuan. Bunyi, perlahan hilang dari wilayah Beethovenstraat.
"Hati-hati Mas Bunyi..." teriak Jeje. Melambaikan tangan.
"Papayo...." tambah Una.
Di sisi lain, perempuan yang jantungnya masih berdetak tak biasa, melihat buku yang ada di tangannya. Lalu tersenyum. Namun, saat ia membalik buku lima sekawan itu, ternyata di bagian belakangnya ada satu kertas putih kecil menempel tepat di tengah. Tidak cuma kertas. Ada tulisannya juga. Yang tertera dengan satu lingkaran kecil tak sempurna, dua garis pendek, dan satu garis melengkung yang menjadi akhir dari kalimat sederhananya.
__ADS_1