
Sang surya nyaris tak terlihat di pelataran langit. Setelah sempat terkurung murung, akhirnya gerimis turun petang ini. Ternyata hari ini Banda Neira menutup petang tanpa jingganya.
Nada menatap Bunyi sebentar sebelum akhirnya kembali melihat panggung. Wajahnya bingung, jantungnya semakin lama semakin berdetak cepat. Apa maksudnya, Nan. Napas Nada terdengar tidak beraturan. Sangat fokus menatap panggung. Karena begitu bahagianya melihat wajah Pak Karso tadi, Nada baru sadar kalau ia melupakan satu wajah lagi di sana. Wajah Bu Mira.
"Lea." Suara Bunyi terdengar pelan memanggil. Namun Nada tak menoleh. Tak mengindahkan panggilan itu.
Bunyi bilang Mama sama Papanya ada di sini. Tapi yang Nada tau orangtua Bunyi cuma Bu Mira. Lantas siapa lagi yang Bunyi maksud, siapa lagi orangnya. Apalagi tadi Bunyi juga bilang kalau dia pergi ke Banda Neira karena ingin menyaksikan penampilan Papanya. Hembusan angin laut dingin menerpa wajah-wajah. Siapa yang kamu maksud dengan panggilan Papa itu, Nan.
"Lea." Sekali lagi suara Bunyi terdengar memanggil. Bunyi bingung kenapa Nada-nya tiba-tiba diam. Tak menjawab. Dia memegang tangan Nada, tapi malah hal itu yang membuatnya semakin bingung. Nada melepas pegangan tangan Bunyi pelan.
"Kenapa, Lea?" Bunyi bertanya penasaran. Melipat dahinya.
__ADS_1
"Tadi kamu bilang, kamu datang ke sini untuk melihat Papa kamu. Tapi selama di Amsterdam aku gak pernah tau siapa Papa kamu, Nan. Bu Mira juga gak pernah cerita soal itu." Nada tersenyum lirih, "Dimana Papa kamu itu, Nan?" Suara Nada merambat seiring hembusan angin semakin dingin. Membawa tetes-tetes gerimis jatuh.
Bunyi masih bingung. Dia gak tau apa yang sedang terjadi atau yang sedang dipikirkan Nada. Menatap Nada sebentar lalu melangkah sedikit ke depan, Bunyi menunjuk ke arah panggung. Arah tangannya tertuju pada seseorang yang ada di atas panggung. Nada pun menoleh. Melihat orang itu, orang yang ditunjuk oleh Bunyi. Dan tahukah kalian apa yang terjadi setelahnya? Maka anggaplah semua yang kalian pikirkan benar. Atau memang benar pada kenyataannya.
Petir tiba-tiba menyambar. Petang ini tak lagi tentang gerimis atau senja yang kehilangan jingganya. Melainkan hujan yang tiba-tiba turun sangat deras. Tapi bukan jatuh ke bumi seperti hujan pada umumnya. Kali ini, hujan itu jatuh di hati seorang perempuan. Tangan Bunyi tepat mengarah pada Pak Karso.
Setetes air mata jatuh di pipinya. Seperti tertusuk jarum yang paling tajam, hatinya tercabik-cabik halus oleh sayup-sayup angin. Nada terdiam sempurna. Bunyi pasti sedang bercanda, Bunyi pasti sedang bercanda, Bunyi pasti sedang bercanda. Entah berapa kali kalimat itu terulang-ulang di dalam hati Nada. Kenapa tangan Bunyi mengarah pada Papa, semesta. Enggak, ini semua gak mungkin. Nada menggigit bibirnya. Menatap lamat-lamat panggung. Di atas sana, Pak Karso merangkul Bu Mira. Mereka tersenyum bahagia. Sementara itu, Bunyi yang tadinya ikut melihat panggung, sekarang langsung menatap Nada lagi. Melihat tetes-tetes air mata Nada mulai berjatuhan.
"Hei, kenapa? Lea..." Kedua tangan Bunyi berusaha mengusap tetes-tetes air mata itu. Nada mulai terisak.
"Lea, kamu kenapa? Kenapa kamu jadi nangis? Lea..." Bunyi semakin panik. Tapi pertanyaan-pertanyaan itu percuma. Nada menutup matanya sekarang.
__ADS_1
Ya, Tuhan. Apa yang akan terjadi setelah ini? Apakah sekarang semuanya telah hancur berantakan? Bunyi memegang tangan Nada. Berusaha melepaskan tangan itu dari wajah Nada. Meminta penjelasan. Tapi lagi-lagi percuma. Nada menepis tangan Bunyi. Sorot matanya tajam memandang ke depan. Melihat panggung dan Bunyi bergantian, melihat kenyataan pahit yang sedang ia alami sekarang. Nada masih belum bisa menerimanya.
"Lea,"
"Tolong bilang sama aku kalau kamu lagi bercanda, Nan. Tolong bilang semua itu gak mungkin." Suara Nada terdengar serak. Matanya menatap Bunyi dalam, lalu menatap panggung lagi. Bunyi yang melihat itu, yang masih merasa bingung serta panik, langsung ikut melihat panggung sebentar.
"Aku gak paham maksud kamu apa, Lea." Bunyi memegang tangan Nada. "Lea..." Nada dengan cepat melepaskan pegangan itu. Menangis lagi, lagi, dan lagi.
"Kamu tau orang yang aku cari selama ini? Orang yang pernah aku ceritain ke kamu, Nan? Orang yang sangat aku sayangi... Orang itu adalah orang yang kamu tunjuk tadi." Nada sampai pada puncak tangisnya. Bunyi seketika terdiam. Matanya ikut berkaca-kaca.
"Enggak... enggak mungkin!" Nada mengeleng-geleng pelan. Melangkah mundur perlahan ke belakang, dan seketika langsung berlari meninggalkan Bunyi. Meninggalkan festival yang sudah berakhir, dan kenyataan yang benar-benar menghancurkan semuanya.
__ADS_1
Petir menyambar berulang-ulang kali di bibir pantai. Kali ini hujan benar-benar turun deras sekali. Bunyi masih terdiam. Terpaku mengetahui kenyataan pahit itu. Sebilah pisau seperti tertancap di hatinya. Sorot matanya kosong memandang ke depan, menatap pundak Nada yang perlahan-kahan hilang dari pandangannya.