
[Rekomendasi Backsound yang pas saat membaca ini : Nadin Amizah - hormat kepada angin]
Bahkan dari bunga saja kita bisa belajar banyak hal. Ya, hidup memang seperti itu. Kita sebagai manusia harus banyak belajar dari semua hal agar mampu menjalani dan menerima segala sesuatu yang akan datang.
Entah itu baik atau buruk, jalani saja. Karena seperti apa yang dikatakan banyak orang adalah tentang bagaimana caranya untuk selalu kuat. Dan kalau kekuatan itu bukan berasal dari diri sendiri, lalu mau berharap sama siapa lagi?
Pukul setengah delapan pagi waktu Amsterdam. Si biru langit sampai. Nada dan Bunyi tiba di rumah sakit. Si biru langit, kemudian masuk dan bergabung dengan beberapa kendaraan yang tampak terparkir rapi.
BovenlJ Ziekenhuis. Begitulah nama rumah sakitnya. Yang sangat indah sekali jika dilihat. Dimana di sekelingnya terdapat beberapa pohon Angsana dan Imperata Cylindrica yang tersebar di bagian kiri-kanan.
Nada turun dari vespa. Masih memegang box kecil itu, lalu memperhatikan sekeliling.
Beberapa orang bergantian keluar masuk dari dalam rumah sakit. Ada yang terlihat memeluk satu sama lain. Namun ada juga yang berjalan sendirian.
__ADS_1
"Ayo, Lea..." Bunyi melepaskan helm. Lalu perlahan melangkah masuk ke dalam rumah sakit.
Nada juga. Melepaskan helm, lalu melangkah masuk mengikuti Bunyi.
Langkah mereka pasti. Melewati lorong dan beberapa perawat serta satu-dua pasien yang tampak dari pandangan. Namun, yang paling mencolok adalah seorang pasien yang didorong memakai kursi roda.
Nada melambatkan langkahnya. Memandang pasien itu sebentar.
Yang hanya diam duduk di kursi roda, tanpa ada bergerak sedikitpun. Mungkin, penderita kelumpuhan. Tapi, mengapa dia seperti tidak memiliki semangat hidup? Sungguh. Sepertinya, dia benar-benar sangat menderita. Perawat mendorong kursi roda itu, melewati Nada.
"Lea..." panggil Bunyi. Dia melihat langkah Nada terhenti karena Nada masih memperhatikan pasien yang menarik perhatian itu.
Nada memalingkan pandangannya dari pasien itu, lalu melihat Bunyi.
__ADS_1
"Ayo." ucap Bunyi lagi.
Nada mengangguk pelan.
Nada dan Bunyi melanjutkan langkah kaki mereka.
Jika melihat sekitar, banyak ruangan kosong tak bernyawa. Bukan karena tak ada orang di dalamnya melainkan semangat dan harapan.
Dari balik kaca, banyak pasien terbaring lemah. Menutup mata mereka. Beberapa orang yang sedang menunggu mereka, entah keluarga atau pun kerabat sama saja wajahnya. Prihatin dan mungkin sedang berharap agar mata yang tertutup itu bisa terbuka.
Kalau saja bisa diartikan sebagai kalimat yang paling sederhana, mungkin dapat diucapkan seperti ini. Ternyata, masih banyak orang yang lebih menderita.
Nada mengingat sesuatu. Dulu, jauh sebelum kepergian Pak Karso, Nada sering sekali diajak Ayahnya itu berkunjung ke beberapa rumah sakit. Karena selain mahir sebagai seorang pemain musik, Pak Karso juga mahir menolong banyak orang.
__ADS_1
Waktu itu Nada masih kecil. Belum mengerti kalau menolong orang ternyata bisa berdampak sangat besar. Dan ternyata, setelah menolong dirinya sendiri, tugas manusia selanjutnya adalah menolong sesama. Karena dari situlah, manusia bisa belajar bagaimana caranya untuk menjadi manusia yang baik. Dan dari situlah, Pak Karso mengajarkan Nada kalau di dunia ini, ternyata rasa sakit tidak dimiliki oleh satu manusia saja. Melainkan semua manusia.
Nada tersadar. Meninggalkan ingatan itu. Kembali memperhatikan Bunyi yang sekarang sudah menghentikan langkah kakinya.