Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#12 Monstera


__ADS_3

Lima belas menit perjalanan, mereka sampai. Rumah sewa Nada tak terlalu jauh dari Blanche. Bahkan jadi komplek perumahan yang paling dekat dengan eiffel. Rumah dua lantai dengan tiga kamar tidur. Rumah sewa ini menjadi tempat tinggalnya sejak tiga tahun lalu. Cikal yang memilihnya. Katanya biar Nada bisa dekat dengan sekolah dan New Hall. Karena sebelumnya Nada beberapa kali terlambat masuk kelas karena jarak hotel yang jadi tempat tinggal pertamanya jauh dari sekolah. Jadi Cikal merekomendasikan rumah sewa ini. Selain karena dekat dengan sekolah, Cikal bilang rumah itu sangat cocok untuk tempat latihan. Suasananya sepi. Kata Cikal, terkadang untuk mengerti musik memang diperlukan kesepian agar fokus. Tapi Nada tak terlalu memikirkan itu. Lagipula hanya tempat tinggal sementara yang akan segera ditinggalkan cepat atau lambat.


Nada dan tiga peri centil melangkah masuk ke dalam rumah. Mereka duduk di ruang tamu.


"Siap gue zoom meeting, ya. Pokoknya kita harus datang. Gue gak mau kelewatan acara pembukaannya ini." Jeje menunjuk-nunjuk layar handphone. Wajahnya fokus sekali menatap layar. Una dan Naira juga.


Sejak tadi tiga peri centil bilang ingin pergi ke eiffel nanti malam. Nada mengangguk. Hari ini adalah hari pertama musim gugur. Yang mana menjadi hari pembukaan festival itu. Festival musim gugur terkenal di Paris. Nada hampir saja lupa bagian ini. Acara yang menampilkan banyak sekali pertunjukan musik, seni modern, atau kebudayaan yang digabungkan dengan latar belakang klasik ala Paris. Yang menjadi festival paling ditunggu setiap musim gugurnya. Nanti malam adalah acara pembukaannya di eiffel. Sebenarnya festival ini diadakan di banyak tempat. Tapi untuk acara pembukaannya nanti malam, eiffel akan menjadi tempatnya.


Nada bersandar pada sofa.


Ia juga ingin ikut ke festival musim gugur itu nanti malam. Karena sebenarnya, Nada belum pernah melihat festival itu sekalipun sejak dua tahun terakhir. Karena selalu ada kendala saat Nada ingin datang ke festival itu.


Di malam musim gugur tahun pertama saat Cikal mengajak Nada datang ke festival, tiba-tiba Bara menelepon dan memberi kabar kalau Bu Ann masuk rumah sakit. Malam itu Nada langsung membatalkan ikut dan memilih tinggal dirumah. Begitupun di tahun kedua. Saat Cikal mengajak Nada lagi, Nada menolaknya. Ia sudah terikat janji dengan Bu Ni waktu itu. Nada sudah berjanji menemani Bu Ni pergi ke Marseille membeli beberapa bunga di sana. Jadi sudah dua festival musim gugur Nada lewati. Untuk yang ketiga ini, Nada harus datang. Apalagi ini adalah festival musim gugur terakhirnya. Tahun depan mungkin ia tak bisa punya kesempatan melihat festival itu karena sebentar lagi Nada akan pergi meninggalkan Paris.

__ADS_1


"Gue pengin makan Pain au Chocolat sambil lihat sunset. Jadi kita harus ke pantai dulu. Lagian Naira juga pasti setuju." Jeje mengedip-ngedipkan mata. Memberi isyarat. Naira memalingkan wajahnya.


Nada tertawa pelan.


Setelah setuju pergi ke festival musim gugur nanti malam, tiga peri centil mengatur daftar tempat-tempat yang akan mereka kunjungi selama berada di Paris. Terutama untuk besok. Tapi Jeje dan Una sedikit berantem karena itu. Una mengusulkan untuk pergi ke museum besok. Tapi kata Jeje lebih bagus ke pantai saja. Mereka rebutan. Ya, begitulah dua peri centil itu. Selalu saja berselisih soal tempat yang akan dikunjungi. Kalau sudah begini Naira yang harus turun tangan. Naira bilang mereka akan pergi ke dua tempat itu sekaligus besok. Ke museum dan pantai. Walau Jeje masih sedikit tak terima juga. Jengkel karena Una berulang-ulang kali meledeknya. Bilang kalau tetap museum yang akan duluan mereka datangi besok.


Sepuluh menit kemudian mereka memutuskan untuk istirahat. Tiga peri centil meninggalkan Nada di ruang tamu. Nada tak ikut istirahat. Ia masih harus mengerjakan sesuatu untuk proses pulangnya ke Jakarta. Mengurus berkas-berkas, mengirim surel ke sekolah, dan melakukan pengecekan pada admistrasinya. Hal itu harus dilakukan agar semuanya selesai. Karena dengan begitu Nada bisa pulang cepat ke Jakarta.


Nada melirik jendela. Diluar hujan turun deras lagi.


Karena hal inilah Nada akhirnya setuju pulang dua hari lagi. Ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan Mamanya. Hampir tiga tahun memang Nada tak pernah sekalipun berbincang atau sekadar menyapa Bu Ann. Tiga tahun terakhir Bu Ann menghabiskan banyak waktu di rumah sakit. Apalagi tahun ini. Bara sempat bilang, sudah dua bulan terakhir Bu Ann berada di rumah sakit. Hal itu harus dilakukan untuk mempermudah proses penyembuhannya. Melakukan banyak terapi dan proses penyembuhan lain. Semuanya berjalan lancar jika menurut kabar dari dokter tadi. Dengan begitu, boleh jadi dalam waktu dekat Bu Ann bisa sembuh. Setidaknya hal itulah yang selalu Nada impikan sejak lama. Sudah bertahun-tahun lamanya sejak hari itu. Hari dimana Bu Ann jatuh, terperosok masuk ke dalam lubang kepahitan.


Sebenarnya Nada tau alasan Mamanya sakit sampai sekarang. Itu karena Papanya sendiri. Pak Karso. Nada melihat semuanya. Ia ingat sekali malam itu. Tak akan pernah dilupakan. Malam yang menjadi awal dari semuanya. Momen dimana ia harus mengerti sebuah kata kehilangan. Pak Karso pergi entah kemana. Nada dan Bara tak tau apa alasannya. Beberapa tahun sejak kejadian malam itu mereka juga sempat mencari keberadaannya. Tapi tak pernah ada jawaban pasti sampai sekarang.

__ADS_1


Nada menghela napas. Menatap getir rintik hujan dari jendela. Dingin. Setiap yang jatuh akan terkenang. Kenapa kenangan itu muncul lagi.


Pukul enam sore Langit mulai gelap. Kali ini bukan karena mendung awan yang mencumbu langit, melainkan petang. Sebentar lagi malam segera menjemput hari. Matahari siap jatuh. Tenggelam dan tertidur pulas. Tapi hari ini tak akan ada jingga sepertinya. Hujan masih awet. Tak rela pergi diusir malam. Setia menemani hari meski hari harus berlalu. Seperti insan yang sedang kasmaran. Begitulah mungkin gambaran kesetiaannya.


Nada membuka laptop di atas meja. Ia sempat tertidur beberapa menit tadi. Hujan membuatnya mengantuk. Namun sekarang ia harus segera menyelesaikan sedikit pekerjaannya. Nada harus segera mengirim surel ke sekolah. Minggu lalu, Cikal pernah bilang Nada harus mengirim surel dan menyelesaikan berkas-berkas lebih awal agar prosesnya lebih cepat. Tapi itu bukanlah masalah. Semuanya bisa diselesaikan beberapa menit saja.


Pukul tujuh malam. Langit sempurna gelap. Hujan tiba-tiba berhenti. Nada terbangun dari tidur. Suara Jeje dan Una yang berseru-seru tak sabar pergi ke festival musim gugur membangunkannya. Tiga peri centil sudah siap pergi. Padahal dari yang Nada tau, acara pembukaan festival dimulai jam delapan. Berarti masih ada satu jam lagi sebelum itu. Tapi dari tadi Jeje dan Una mendesak ingin pergi lebih dini. Mereka bilang kalau pergi jam delapan, pasti akan kelewatan acara pembukaannya. Belum lagi macet. Pasti ramai sekali. Nada mengangguk setuju. Tapi ia masih belum berpikir ingin pergi. Nada menyuruh tiga peri centil untuk duluan. Ia berjanji akan menyusul nanti.


Nada melihat laptop yang masih menyala. Dua festival di dua tahun terakhir, Nada ingat kalau sudah jam segini pasti Cikal akan menelponnya. Menyuruhnya siap-siap pergi ke festival walau Nada selalu membatalkannya saat detik-detik akan pergi. Tahun ini, festival kali ini Cikal tak ada menelpon. Mungkin laki-laki itu tak pergi ke festival. Karena pasti dia sedang sibuk menyiapkan segala sesuatu sekarang. Mengingat Cikal akan pergi ke Banda Neira besok. Ya tuhan. Nada melihat handphone. Ia lupa membalas pesan itu. Nada lupa belum memutuskan akan pergi ke Banda Neira atau tidak. Bahkan ia belum memberitahu siapapun tentang itu.


Sepuluh menit berlalu. Nada menutup laptop dan bergegas untuk pergi ke festival musim gugur. Ia sudah siap pergi. Tiga peri centil sudah pergi duluan lima menit yang lalu. Nada melangkah menuju pintu. Merapikan syal dan memakai sepatu, Nada membuka pintu rumah. Tapi seketika ia terkejut. Seseorang tepat berdiri di hadapannya. Nada menghela napas. Menatap orang itu. Sepertinya Nada kenal itu siapa.


"Secara harfiah itu memang mengangetkan. Tapi untuk hidup memang perlu banyak hal seperti itu. Karena kalau tidak kaget, Newton tak akan menemukan gravitasi."

__ADS_1


"Mas Bunyi..."


"Panggil Nan saja."


__ADS_2