
"Nad," Cikal berkata pelan. Memanggil. Nada melangkah perlahan ke arahnya.
"Mas Cikal. Saya pikir Mas udah pulang..." jawab Nada bingung. Menatap Cikal lamat-lamat.
"Ada sesuatu yang lupa saya sampaikan ke kamu, Nad." Cikal terlihat sedikit kikuk. Nada melipat dahinya.
"Kamu masih punya sedikit waktu, kan? Tadi itu---"
"Oh itu tadi kakak saya sama teman-teman saya, Mas. Mereka baru sampai semalam di Paris." Nada mencoba menjelaskan Bara dan yang lainnya. Cikal mengangguk mengerti.
"Oke. So, sebenarnya saya ingin kamu tau dua kabar sekaligus. Mungkin satu kabar baik dan satu kabar buruk." Cikal mengambil sapu tangan dari saku jas-nya, "Kamu mau tau kabar baiknya dulu atau kabar buruknya dulu nih?" Cikal tertawa pelan, membasuh dahi dengan sapu tangan, lalu melangkah ke arah jejeran alat musik yang tak jauh dari mereka berdua. Jelas sekali terlihat kalau Cikal sedang mencoba untuk mencairkan suasana. Seenggaknya sekarang dia membuat Nada jadi penasaran.
"Mungkin lebih bagus kalau kamu tau kabar buruknya dulu." Cikal menghela napas lalu melirik Nada, "Sebenarnya saya gak bisa menyampaikan ini sama kamu, tapi ya mau bagaimana lagi. Kamu tetap harus tau."
Cikal menunduk sebentar lalu melihat Nada lagi. Bersandar pada satu kotak kayu, "Maaf, Nad. Kamu gak bisa tampil di New Hall minggu depan." jelasnya. Wajahnya sedikit prihatin.
__ADS_1
Seketika Nada langsung terdiam. Kaget.
Setahun yang lalu, Cikal bilang New Hall akan mengadakan pertunjukan hebat yang melibatkan musisi-musisi dunia dan musisi-musisi muda berbakat terpilih dari seluruh sekolah musik di dunia. Siklus tiga tahun sekali yang jadi impian seluruh musisi untuk bisa ikut serta mengambil bagian di dalamnya. Nada tau tentang itu. Cikal yang menyampaikannya langsung pada Nada. Bahkan Cikal juga bilang Nada bisa ambil bagian di pertunjukan itu. Nada menjadi murid terbaik si sekolah musiknya. Setiap hari, bulan, tahun, perkembangan Nada pun terbilang semakin berkembang pesat. Dari situlah Cikal pikir Nada sudah memenuhi segala persyaratan dan sangat layak untuk ikut di pertunjukan itu. Selain berbakat, Cikal pikir Nada juga sudah pantas jika disandingkan dengan musisi-musisi dunia yang lain.
Cikal sudah mengatur semuanya dan berjalan sesuai rencana setelahnya. Setiap hari Nada semakin giat berlatih setelah mendengar kabar itu dengan bayang-bayang duduk di atas panggung besar dan disaksikan jutaan penonton. Impian itu semakin dekat. Minggu lalu juga semuanya masih sesuai rencana. Bahkan Nada diperbolehkan latihan di New Hall menjelang hari pertunjukan. Tapi hari ini, entah kenapa kabar buruk itu disampaikan.
Nada menunduk sebentar. Wajahnya tampak sangat kecewa.
"I'm so sorry," Cikal berkata pelan. Mencoba menghibur Nada.
Nada mengangguk pelan, "It's okay, Mas." Ia tersenyum pahit. Cikal melangkah ke arah Nada.
"Tapi, itu kan baru kabar buruknya. Kamu belum dengar kabar baiknya, Nad." Cikal tersenyum. Spontan Nada langsung menatapnya.
"Dua hari yang lalu saya diberi kabar oleh salah satu teman lama saya. Katanya, minggu depan akan diadakan sebuah festival besar di salah satu tempat wisata tanah air. Aaa... Apa namanya ya," Cikal berpikir sejenak, "Banda Neira! Ya, Banda Neira. Saya ingat." Nada masih memperhatikan.
__ADS_1
"Festival Summer Jazz. Saya dipercaya untuk mengurus festival itu di sana. Mungkin besok atau lusa saya sudah harus pergi ke Banda Neira, satu sampai dua minggu. Dan---" Kalimat Cikal terhenti. Cikal melangkah ke sebuah meja yang berada di dekat mereka. Mengambil sebuah apel hijau lalu memakannya.
"Saya mau kamu ikut mengurus festival itu. Anggap saja sebagai ganti karena kamu gak jadi ikut tampil di New Hall. Atau kalau pun kamu gak mau, ya kamu bisa datang untuk melihat festival hebat itu." Cikal mengunyah perlahan apel hijau yang ada ditangannya.
Nada berpikir sejenak. Kabar kalau ia tidak jadi tampil di New Hall memang sangat mengecewakan. Setidaknya Nada sudah berusaha keras untuk itu. Tapi barusan Cikal juga bilang tentang sebuah festival yang mungkin akan jadi tempat untuk banyak musisi-musisi hebat tampil. Entah kenapa Nada tertarik, walau ia sama sekali belum pernah mendengar nama itu. Banda Neira.
"Nad?" Cikal melirik Nada yang masih terdiam.
"Nanti saya pikir-pikir dulu, Mas."
Cikal mengedikkan bahunya, "Yaudah kalau gitu saya pulang dulu." Menggigit apel hijau yang ada di tangannya, Cikal melangkah pergi melewati Nada.
"Ohiya, Nad..." Cikal berhenti melangkah lalu berbalik badan.
"Happy Birthday." Cikal tersenyum tipis lalu kembali melangkah pergi. Punggungnya perlahan menghilang. Nada tersenyum kecil, lalu ikut melangkah pergi juga setelah itu.
__ADS_1
Matanya mengerjap-ngerjap. Menjejak lantai menuju pintu keluar gedung. Banda Neira. Nama itu beberapa kali terulang di dalam pikiran Nada. Walau rasa kecewa karena tidak jadi tampil di New Hall masih jadi yang utama. Nada benar-benar kecewa. Padahal ia sudah berusaha sekuat mungkin untuk itu. Tapi, ya mau bagaimana lagi. Nada tak ingin hal itu jadi berlarut-larut. Karena masih banyak hal yang harus ia pikirkan setelah ini. Seperti rencana pulang cepat ke Indonesia.
Tahun ini adalah tahun terakhirnya berada di Paris. Tiga tahun sudah Nada menetap di Paris dan pada tahun ini, Paris akan segera ditinggalkan. Nada berhasil menyelesaikan sekolahnya lebih singkat dari yang lain. Beberapa minggu ke depan, Nada bisa pulang ke Jakarta. Sebenarnya, butuh waktu lima tahun untuk menyelesaikan masa sekolah di sekolah musik terkenal Paris itu. Namun, Nada memang sengaja mempersingkat masa sekolahnya menjadi tiga tahun karena ia sudah sangat rindu tanah air. Terlebih, kepada Mamanya. Bu Ann.