Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#34 [Bab. sepasang kerang jingga]


__ADS_3

[Rekomendasi Backsound yang pas saat membaca ini : Nadin Amizah feat Syarikat Idola Remaja - Sorak Sorai]


Nada berbaring di atas tempat tidur. Menelentangkan tubuh, memperhatikan buku lima sekawan, lalu tersenyum lagi. Pandangannya hanya tertuju pada buku itu. Menelisik perlahan, mencoba mengulang kembali momen sederhana tadi bersama Bunyi.


Sementara itu, hujan terdengar semakin deras. Angin berhembus kencang di luar. Membawa daun melayang-layang, pergi ke tempat yang seharusnya.


Tepat di depan meja yang menjadi alas buku abu-abu, pertunjukan air hujan yang jatuh seperti menari dan bernyanyi dari balik kaca jendela. Membuai perasaan seseorang. Melepaskan rindu dan mengoleskan cairan perekat paling lembut untuk hati yang patah.


Memang benar, Nada sangat mengagumi Cikal. Bahkan juga mengagumi Banda. Tapi, saat ia melihat Cikal bermain organ atau saat melihat Banda tampil dengan trombon, Nada sama sekali tidak merasakan detak jantung tak biasa itu. Berbeda saat ia bersama dengan Bunyi, yang taunya cuma membuat kesal dan laki-laki paling aneh di dunia. Namun, Nada merasakan detak jantung itu dan perasaan aneh saat bersama dengan Bunyi.

__ADS_1


Untuk Cikal dan Banda, mungkin perasaan Nada hanya sekadar kagum saja. Tak lebih. Dan untuk Bunyi, tidak ada yang tau. Yang jelas, putri hujan ini hanya tersenyum. Sebelum akhirnya beranjak dari kasur, melangkah perlahan ke arah meja yang ada di depannya.


Meninggalkan senyumnya di lubuk hati paling sudut, setelah sampai, menatap gambar pohon cemara yang menempel di dinding, Nada duduk di kursi.


Nada meletakkan buku lima sekawan itu di samping kanannya. Tepat di samping Vas bunga Matahari dan kertas putih kosong. Kemudian ia mengambil salah satu pena dan buku abu-abu.


Melihat ke arah depan sebentar, memperhatikan hujan dan sesuatu yang mungkin sedang ia pikirkan. Setelah itu Nada kembali memperhatikan buku abu-abu, lalu membuka lembar halaman pertamanya.


Nada tersenyum. Lalu beralih ke halaman berikutnya. Melewati bagian dari dirinya di masa lalu. Lembar demi lembar ditinggalkan. Banyak kalimat sudah ditanggalkan pada lembar-lembar itu. Dan sekarang, Nada sampai di halaman kosong dengan penanda yang menjadikan halaman itu sebagai lembaran baru. Kertas yang mungkin akan segera di isi dengan kalimat-kalimat baru. Garisan pena cantik, sesuai gambaran perasaan seseorang.

__ADS_1


Nada menghela napas. Memperhatikan tampilan hujan di balik kaca, lalu mengarahkan pena ke arah kertas putih kosong itu. Menintakan kalimat-kalimat perasaan di halaman yang baru.



Setelah menyudahi kalimat terakhir, Nada menatap kaca. Melihat tetes demi tetes air hujan yang mengalir perlahan. Tuntas menintakan isi hati ke dalam kertas putih yang akan menjadi saksi. Buku abu-abu itu tertutup. Nada bersandar pada bangku.


Sejak pulang tadi, Nada selalu tersenyum dan selalu memikirkan tentang perasaan baru yang mulai ia rasakan. Tentang laki-laki yang ada di dalamnya. Tapi, saat menulis barusan, ia tidak sadar telah menyebut kerinduannya terhadap kedua orangtua. Pak Karso dan Bu Ann.


Seharusnya, sekarang Nada masih merasakan perasaan yang sama seperti sebelumnya. Kenyamanan yang tercipta entah dari mana. Perasaan yang belum pernah ia rasakan sama sekali. Tapi, perasaan itu tenggelam. Bukan tanpa alasan. Melainkan tertimpa sesuatu.

__ADS_1


Benar. Kenyamanan itu, tertimpa kenangan pahit masa lalu tentang keluarga. Nada, tidak sengaja memutar semua pagelaran perpisahan pilu. Ia tidak sengaja kembali memasukkan dirinya ke dalam semua itu. Nada, kembali berada di jurang yang sama.


Penghujung sore yang tadinya berbunga-bunga, kini diharuskan menjadi padang pasir kehilangan. Dan hujan yang tadinya membawa aroma-aroma cinta, sekarang dipaksa menjadi awal dari lahirnya air mata. Nada, lagi-lagi tenggelam dalam bayang-bayang malam kelabu dan semua memori kenangan buruk.


__ADS_2