
Beberapa jam berlalu dengan cepat. Sang surya tenggelam nun jauh di ujung samudera. Satu rasi bintang tampil genit--anggun di atas langit. Banda Neira semakin cantik malam ini.
Hari ini acara pembukaan festival selesai sore tadi. Empat band Jazz dan dua puluh tujuh penari lokal menutup hari dengan sangat baik. Memukau. Semua penonton bersorak-sorai takjub. Acara pembukaan festival hari ini berjalan lancar. Dan semoga hari-hari selanjutnya juga sama lancarnya.
Sisa dua hari lagi. Kata Cikal Summer Jazz hanya berlangsung tiga hari saja. Padahal rencana sebelumnya, festival akan berlangsung selama satu minggu. Cuaca yang tidak menentu dan kendala-kendala yang lain mengurungkan rencana itu. "Seenggaknya dengan waktu singkat itu, dunia sudah tau salah satu surga Indonesia ini." jelas Cikal pada Nada. Mereka bertemu di belakang panggung tadi.
Berbincang sebentar dan saling menanyakan kabar. Cikal meminta maaf pada Nada karena tidak menepati janjinya. Waktu di Amsterdam Cikal bilang kalau Nada akan ikut mengurus festival ini. Tapi semuanya enggak sesuai sama rencana. Nada mengangguk. Tersenyum.
Itu bukan masalah. Karena walau enggak ikut mengurus festival pun, seenggaknya Nada sudah menjadi tamu VVIP. Nada juga berterima-kasih pada Cikal karena sudah mengurus semuanya. Pesawat, hotel, sampai supir pribadi. Mereka tertawa.
Selepas itu Cikal membahas sedikit tentang perkembangan musik Nada dan keputusannya untuk tidak melatih Nada lagi. Tentu Nada sangat kaget mendengar itu. Tapi setelah Cikal lanjut menjelaskan, akhirnya Nada mengerti. Cikal bilang, Nada tidak membutuhkannya lagi. Ibarat perahu yang sedang berlayar, sekarang Nada berhak untuk menentukan arah tujuannya sendiri. Cikal tersenyum tipis. Lagian setelah festival Summer Jazz selesai, Cikal ingin pergi keliling dunia. Mewujudkan kembali mimpi-mimpi lamanya. Nada mengangguk. Benar-benar sebuah kejutan dan keputusan yang sulit.
Perbincangan mereka berakhir. Cikal gak bisa lama-lama. Dia harus kembali mengurus jalannya festival. Cikal menutup perbincangan mereka dengan memberitahu Nada kalau di hari terakhir festival nanti, Cikal akan tampil sebagai penutup acara. Yang menjadi penampilan terakhirnya juga. Dan Cikal ingin Nada melihat itu. Ternyata selain sebagai pengurus, Cikal juga berperan sebagai penampil. Nada mengangguk pasti. Melihat penampilan terakhir dari salah satu pemain organ terbaik Amsterdam, siapapun pasti gak akan mau melewatkan kesempatan itu.
__ADS_1
"Nay, coba deh lihat. Cantik banget, kan. Udah gitu tadi banyak bintang lautnya jugak. Aaaa..." Una menyodorkan laptopnya pada Naira. Menepuk-nepuk tangan. Histeris.
"Apaan tadi nyelamnya cuma lima belas menit doang." saut Jeje dari sudut kamar hotel. Meledek Una. Merengut.
Nada tertawa.
Mereka semua sudah kembali ke hotel sekarang. Satu hari di Banda Neira cukup membuat suasana satu kamar hotel meriah. Udah kayak pasar malam. Dari tadi Jeje dan Una saling bergantian memberitahu apa saja yang udah mereka lakukan pada Nada dan Naira. Foto-foto alam bawah laut, Una yang sempat terpeleset di perahu, dan Jeje yang hampir tersengat ubur-ubur. Nada dan Naira tertawa. Dua peri centil itu bercerita dengan sangat detail. Sesekali juga saling meledek satu sama lain.
Nada melirik Naira. Sekarang giliran Naira yang akan bercerita. Jeje mulai bertanya tentang apa saja yang udah dilakukan Naira dan Abimanyu. Ya, kan tadi mereka pergi berdua. Bahkan Una sempat keceplosan nanya tentang pendekatan mereka. Tapi Naira gak mau ngasih tau. Katanya semua itu rahasia. Membuat Jeje dan Una jadi kesal.
Nada melangkah perlahan di tepi pantai. Tepat di belakang hotel. Kakinya menjajaki pasir putih. Ia juga menggenggam buku diary miliknya. Nada gak bisa tidur. Padahal sekarang udah pukul 10.30 malam.
Tadi saat gilirannya bercerita, tiga peri centil juga nanyain Nada ngapain aja. Kemana aja satu harian tadi. Nada bilang dia gak kemana-mana. Cuma melihat acara pembukaan festival dan sempat ngobrol dengan Cikal sebentar. Ia gak bilang kalau tadi ketemu sama Bunyi. Nada merahasiakan itu. Nada gak mau tiga peri centil tau kalau Bunyi ada di Banda Neira.
__ADS_1
Sesi cerita berakhir. Jeje dan Una bergegas tidur. Mereka kelelahan. Sementara itu Naira masih terjaga. Matanya menatap layar handphone. Mungkin lagi chat sama Abimanyu. Setelah itu, Nada melangkah keluar dari kamar hotel.
Tadi, Nada memang gak mau sahabat-sahabatnya tau kalau Bunyi ada di Banda Neira. Ya, karena saat pergi dari Jakarta, saat Bunyi tiba-tiba ngilang, saat hati Nada lagi gak baik-baik aja karena itu, tiga peri centil tau semuanya. Mereka tau semua hal tentang Nada dan Bunyi bahkan saat Nada belum cerita sedikit pun.
Sebagai seorang sahabat, mereka tau apa isi hati Nada. Tiga peri centil tau kalau Nada mikirin Bunyi terus. Mereka juga tau tentang perasaan itu. Bahkan saat di Jakarta, saat menunggu keberangkatan pesawat, tiga peri centil memberi pendapat mereka masing-masing tentang Bunyi.
"Kayaknya dia cuma mau main-main aja deh, Nad. Ya kan, Na?"
"Iya. Gue jadi sebel sahabat gue diginiin. Apaan coba kayak gitu. Ngasih harapan, tapi ilang-ilangan. Gajelas banget jadi laki-laki."
Nada memperhatikan. Jeje dan Una benar.
"Tapi kalau menurut gue sih, Bunyi serius. Mungkin sekarang dia lagi ada urusan mendesak, Nad. Jadi ya gak bisa ngabarin lo."
__ADS_1
Nada melirik Naira. Naira juga benar. Dia memang yang paling bisa menenangkan.
Angin berhembus sayup. Hujan mendadak turun. Satu-dua rintiknya mengenai pipi Nada. Menghentikan lamunannya barusan. Nada memalingkan wajah dari laut. Berbalik badan, melangkah kembali ke hotel. Tapi sebelum sampai di hotel, hujan tiba-tiba deras. Nada berlari. Mencoba menghindari hujan dan menutup kepalanya. Malam ini mungkin badai akan turun.