Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#53 [Bab. matahari itu tenggelam, nan]


__ADS_3

[Rekomendasi Backsound yang pas saat membaca ini : Theodore Thompkins - Traunstein]


......• • •......


Jika bulan ditakdirkan hadir pada pagi, siang atau, sore hari, lalu bagaimana dengan matahari? Tentu tidak adil bukan? Dan untuk rindu, jika ditakdirkan hanya menjadi sesuatu yang tidak ada jawabannya, lalu bagaimana dengan bertemu? Tentu sama tidak adilnya.


Maka yang punya hak dari seluruh semesta mengatur semuanya sedemikian cantik dan rapi. Ya, walau terkadang memang ada rindu yang tak layak untuk bertemu, tapi selayaknya langit yang selalu butuh hujan agar membahagiakan hati kecil yang ditinggalkan, rindu juga begitu. Hanya butuh bertemu.


Pelukan hangat dan banyak hal lain yang menenangkan hati. Bertemu memang sebagai salah satu yang paling magis. Tak ayal mengapa banyak nyawa yang ingin segera bertemu. Agar mereka bisa merasakan pelukan-pelukan itu. Tenang dalam hati. Tentram dalam jiwa. Terima kasih untuk takdir-takdir yang memperkenankan rindu menuai titik temunya. Terima kasih.

__ADS_1


Tubuh itu gemetar. Kakinya juga terpaku seketika. Nada sampai. Di titik jembatan terakhir sebuah pertemuan. Hatinya bergejolak. Itu Bu Ann. Yang duduk di ayunan cat putih cantik di samping dua pot bunga mawar yang tak kalah cantik juga.


Mungkin sedang merenung, atau sedang meratapi sebuah kepergian. Tak ada yang tau. Karena Bu Ann punya ruang hatinya sendiri. Tapi yang jelas, sorot mata Nada mengamati punggung Ibunya itu dari bawah atap rumah bagian belakang dan di sela-sela angin yang mulai berhembus tak biasa.


Kaki Nada seperti tertimpa jutaan batu dan hatinya seperti menahan ribuan air yang siap tumpah. Tidak. Rindu itu tak boleh ditahan lebih lama lagi. Ini sudah saatnya.


Waktu yang tepat untuk bertemu. Nada menghela napasnya. Menguatkan hati, lalu mencoba membuka langkah kaki. Tapi, saat langkah kaki itu mulai menapaki jembatan kerinduan, seketika langkah kaki itu tertutup lagi. Astaga. Bukankah itu?


Laki-laki itu memberikan botol yang berisikan air bening pada Bu Ann. Sebelum akhirnya Bu Ann berdiri, lalu menuangkan air dari dalam botol ke dua pot mawar cantik yang ada di sekitarnya.

__ADS_1


Nada bertanya-tanya di dalam hati. Laki-laki itu, astaga. Bunyi memang sangat sulit untuk ditebak. Dan apakah teman serta coklat yang disampaikan Bi Tina tadi adalah Bunyi? Pantas saja kedua kata itu seperti sangat familiar sekali. Nan, apa yang sedang kamu lakukan?


Sorot mata itu masih memandang ke arah mereka. Nada masih memperhatikan Bunyi yang berdiri tersenyum melihat Bu Ann menyirami dua pot mawar. Bahkan senyuman itu juga ada di wajah Bu Ann. Sesuatu yang sudah lama sekali tidak dilihat oleh Nada. Kebahagiaan di wajah itu, sungguh. Pemandangan yang sangat menyejukkan hati.


Entahla. Bukankah Bu Ann sedang merelakan sebuah kepergian? Tapi senyum itu, lihatlah. Senyum itu sudah cukup menjelaskan kalau kepergian bukan seluruhnya tentang air mata. Karena sesuatu yang pergi terkadang tak selalu benar-benar pergi. Dan dari senyum itu, Nada tau kalau Ibunya sudah ikhlas dan berdamai akan sesuatu. Nada tersenyum. Sorot matanya masih memandang jelas ke arah Bu Ann yang sekarang terlihat selesai menyirami dua pot mawar cantik lalu berdiri seutuhnya.


Tapi sorot mata itu tak bertahan lama setelah Bunyi sadar kalau Nada sedang memandang ke arahnya dan Bu Ann dari bawah atap belakang rumah. Bunyi memandang Nada. Yang dipandang langsung terkejut. Kehadirannya sudah diketahui. Bahkan tak lama berselang, Bu Ann juga mengetahui itu. Dan langsung terkejut serta memandang pasti ke arah Nada.


Sudah saatnya. Rindu tak bisa pergi lagi sekarang. Raga Nada semakin bergetar. Jantungnya tak karuan. Ini memang sudah saatnya. Ia menarik napas dalam-dalam. Dua tetes air mata jatuh membasahi pipi. Nada memulai tangis rindunya.

__ADS_1


Di samping ayunan cat putih, Bunyi kembali tersenyum. Mengangguk pelan. Seperti memberikan kode pada Nada kalau ini adalah waktu yang tepat. Benar. Nada mengerti anggukan kepala itu. Nada mengerti artinya. Bunyi memang benar.


__ADS_2