Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#69 [Bab. jakarta land dan si putis]


__ADS_3

Satu hari berlalu. Kemarin adalah hari yang cukup melelahkan. Saat Nada selesai berdamai atas kepergian Alya, lalu beranjak dari kamar, ia terkejut. Ternyata Bu Ann telah menyiapkan perayaan ulang tahun kecil-kecilan. Nada sama sekali tidak mengetahui soal itu. Ya, lebih tepatnya kejutan. Padahal, kan, hari ulang tahunnya sudah lewat. Tapi mungkin, perayaan itu bukan cuma sekadar perayaan ulang tahun biasa. Boleh jadi, perayaan ulang tahun kemarin adalah perayaan penyambutan Nada kembali ke rumah.


Seisi rumah ramai sekali. Beberapa teman lama Nada datang. Ikut merayakan. Dan beberapa teman Bara juga. Tiga peri centil terlihat yang paling sibuk. Mempersiapkan makanan ringan dan minuman. Dekorasi kecil-kecilan di halaman rumah, serta penyambut tamu. Banda juga ada. Dia sibuk menyiapkan kopi di stand kopi yang khusus dibuat di sisi kiri halaman. Bahkan dia sengaja membawa satu set full mesin kopinya. Sebenarnya itu usul Bara. Karena Bara pikir, kopi tak boleh tertinggal dalam perayaan ini. Terlebih juga karena Bara sangat menyukai kopi.


Saat berada di dapur, membantu Bu Ann membuat kue dengan campuran daun kemangi, serta menyiapkan bolu pandan cokelat, Nada sempat berpikir kalau perayaan itu berlebihan. Ya, karena, Nada pikir ia sudah tidak seperti anak usia satu tahun lagi. Tapi apa yang dipikirkan Nada soal perayaan hanya ditanggapi senyuman dari Bu Ann. "Anggap ini sebagai permintaan maaf Mama sama kamu. Anggap ini sebagai perayaan rindu dari Mama untuk kamu yang sudah kembali lagi ke rumah." Menepuk pundak Nada, Bu Ann melanjutkan mengaduk adonan bolu. Ya, kalau sudah begitu, tak ada alasan apapun untuk menolaknya.

__ADS_1


Pukul satu siang semua sudah siap. Makanan dan minuman sudah tersaji di atas meja. Tepat di tengah halaman rumah. Gerimis yang turun tadi pagi sudah usai. Sekarang langit tampak cerah. Mempesona. Hembusan angin membawa lagu-lagu teduh yang terpasang. Halaman rumah ramai sekali. Perbincangan-perbincangan kecil terdengar sangat jelas. Saling bertanya satu sama lain, saling melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang terkadang pun tak harus dijawab. Seperti, "Kok sekarang kurusan? Kenapa belum menikah? Nanti malam mau kemana?" Selalu saja akan ada tempat bagi pertanyaan-pertanyaan di atas untuk ditanyakan. Bahkan terkadang, kita sendiri pun tak sadar telah bertanya seperti itu.


Di sebelah kanan, ada satu panggung kecil yang menjadi alas dari Organ dan beberapa alat musik yang lain. Beberapa teman Nada bergantian memainkan satu--dua lagu. Memeriahkan suasana.


Beberapa jam berlalu, matahari mulai redup. Sore datang menyapa. Bara menyuruh Nada memainkan Organ. Usul itu disambut baik oleh semuanya. Awalnya Nada menolak. Tapi setelah Banda mengajak Nada untuk tampil bersama, Nada pun akhirnya bersedia tampil. Mereka akan memainkan instrumen Jazz klasik. Sudah lama sekali mereka tidak tampil bersama. Sejak setahun lalu.

__ADS_1


Berayun-ayun di dalam not miringnya. Tenggelam di dalam senandung lagunya. Nada memimpin laju instrumen. Banda melengkapi. Dua--tiga instrumen berhasil dimainkan. Sempurna. Semua bertepuk tangan. Bersorak. Ini bukanlah kompetisi musik, atau perlombaan apapun yang dimenangkan. Ini hanya penampilan biasa. Tapi entah kenapa Nada meneteskan air matanya. Di sisi kiri panggung, Bu Ann ikut bertepuk tangan. Tersenyum pasti. Nada menyeka matanya. Haru. Tersenyum lirih. Ternyata malam kelabu itu sudah tertinggal jauh. Ternyata Bu Ann sudah berdamai dengan itu. Syukurlah. Walau sampai sekarang, alasan kenapa Bu Ann sangat membenci musik Jazz belum pernah terjawab, tapi biarlah. Itu bukan sesuatu yang harus dipikirkan serius. Yang terpenting sekarang Bu Ann sudah berdamai. Ya, cukup itu saja.


Perayaan ulang tahun berjalan dengan baik. Hampir semuanya. Ada sedikit masalah kecil yang terjadi. Pesanan kopi Banda menumpuk. Racikan kopi yang berbeda dan unik, membuat kopinya sangat diminati oleh semuanya. Bahkan Bu Ann ikut serta memujinya. Finlanisea pandan milik Banda menjadi yang paling dicari. Tapi bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah, saat Banda ingin membuat kopi dan memenuhi semua pesanan, tiba-tiba perutnya sakit. Dia harus bolak-balik ke kamar mandi. Banda memakan keripik pedas yang dibawa oleh Jeje. Kata Jeje itu buatannya sendiri. Tapi saat Banda melihat Jeje, seperti ingin menanyakan kenapa bisa satu plastik keripik pedas membuat perutnya sakit, Jeje mengedikkan bahu. Seolah tak tau apa yang sedang terjadi. Semuanya tertawa. Naira dan Una tertawa keras saat melihat ekspresi Banda yang berlari tergesa-gesa sambil memegang perutnya ke kamar mandi. Setidaknya sudah lima kali. Tapi masalah kecil itu bisa diatasi. Stand kopi Banda diambil alih oleh Nada. Semua pesanan kopi berhasil dibuat. Semua teman-teman memuji kopi buatan Nada juga. Ya, walau ada satu orang yang cemberut. Orang itu adalah Bara. Nada mengambil merica. Ia pikir itu gula. Bara sedikit manyun di samping panggung. Melihat Nada sambil mengecap bibirnya. Tapi terlebih dari itu, semua aman terkendali.


Sampai malam menjemput. Keramaian perlahan sunyi. Banyak dari mereka beranjak pulang. Dan saat, Nada benar-benar kembali ke kamar, merebahkan diri di kasur, menatap lamat-lamat langit kamar, saat itu ia tersadar. Ternyata, ia sudah melewati satu hari tanpa kehadirannya. Bunyi. Yang satu hari juga tak tau entah kemana. Nan, kamu dimana?

__ADS_1


__ADS_2