Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#48 [Bab. matahari itu tenggelam, nan]


__ADS_3

[Rekomendasi Backsound yang pas saat membaca ini : Payung teduh - Berdua Saja]


Nada tidak sedang bermimpi. Itu memang Bunyi. Yang sekarang berdiri sambil tersenyum menatapnya. Laki-laki yang menjadi alasan dari perasaan itu. Tapi bagaimana bisa Bunyi tiba-tiba ada di Jakarta?


"Kok mukanya kaget gitu?"


Bunyi melangkah mendekati Nada.


"Kenapa kamu bisa ada di sini?" Tanya Nada bingung.


Bunyi melihat kiri-kanan, "Yang lain mana, Lea?"


"Lagi makan."


Bunyi menatap Nada, "Kamu kenapa gak ikut makan?"


"Aku gak lapar, Nan."


"Tapi kamu harus makan, Lea. Biar bisa menghadapi semua permasalahan di hidup kamu. Karena untuk gapapa juga butuh tenaga." Bunyi tampak berpikir. Memegang dagunya, "Minimal roti, atau gulali. Asal jangan lemak jahat."


Bunyi tersenyum. Kembali menatap Nada.


Sementara yang ditatap tampaknya sedang kesal. Bukannya menjawab pertanyaan tentang kenapa dia bisa ada di sini, Bunyi malah membahas hal yang lain.


"Aduh-duh-duh,"


Bunyi tampak kesakitan karena Nada tiba-tiba menarik telinganya.


"Jawab!"

__ADS_1


"Iya-iya, aduh..."


Nada melepaskan tangannya pada telinga Bunyi, lantas kembali menatap Bunyi. Kesal.


Yang ditatap masih memegang telinganya dan masih terlihat kesakitan.


"Setelah aku ngantar kamu pulang, di jalan Bara nelpon aku. Dia ngasih tau aku tentang kabar duka itu. Terus sampai rumah aku langsung beres-beres. Malamnya langsung berangkat."


"Kok kamu gak bilang sama aku?"


"Emangnya aku harus bilang sama kamu?"


Nada terdiam. Sial. Ia sepertinya mengucapkan kalimat yang salah. Nada canggung. Duh, Kenapa pakai nanya gitu segala sih Nada.


"Kemarin handphone aku mati. Makanya aku gak jawab telpon dari kamu."


Bunyi memegang bahu Nada.


Yang dipanggil kembali menatap Bunyi setelah sempat memalingkan wajahnya.


"Kamu yang kuat, ya. Aku ikut berduka. Mama juga kirim salam. Mama bilang, kamu harus kuat. Karena kepergian sesakit apapun, pasti selalu punya cara untuk menyembuhkan hati yang ditinggalkan." ucapnya. Tersenyum.


"Iya, Nan. Makasih, ya." sahut Nada pelan.


Kepergian memang menyakitkan. Walau yang pergi terkadang bukan siapa-siapa. Dan bukan seseorang yang spesial. Tapi, meskipun Pak Tio punya kesan yang cukup buruk di kanvas kehidupan Nada, setidaknya beliau memiliki peran penting dari kepulihan hati Bu Ann.


Dan untuk kehadiran Bunyi, bahagia jelas dirasakan Nada walau masih ia sembunyikan di wajahnya. Karena biarpun Bunyi menyebalkan, tapi hal itu malah yang mungkin membuat Nada menyukainya. Sungguh. Perasaan itu benar-benar tampak sekarang.


Cinta. Dari situlah Nada yakin kalau itu benar-benar perasaan yang selalu disebut semua orang dengan kata Cinta. Karena, cinta adalah kata yang paling tepat untuk perasaan itu. Yang dirasakan Nada pada Bunyi. Ya, kehadiran Bunyi sekarang setidaknya membuat Nada bahagia dan menjadi peredam keraguan Nada tentang pertemuannya nanti dengan Bu Ann.

__ADS_1


"Aku punya sesuatu. Tunggu."


Bunyi mengambil sesuatu dari dalam tas.


"Kemarin sebelum aku pergi ke bandara, aku beli ini dulu untuk kamu." jelas Bunyi.


Sebatang cokelat. Sesuatu yang dikeluarkan Bunyi dari dalam tas. Lalu dia berikan pada Nada.


"Walaupun ini cuma campuran susu, gula, dan sepuluh persen tanaman kakao, tapi aku yakin bisa menenangkan hati kamu yang lagi gak baik-baik aja."


"Gak mau, ah." Nada mengembalikan sebatang coklat itu pada Bunyi.


"Kok gak mau?"


"Kalau lagi sakit itu minum obat, Nan. Bukan makan coklat."


Bunyi menerima coklat itu, melihatnya, lalu menatap Nada.


"Iya, sih kamu benar." Bunyi melangkah memutari Nada. "Kalau orang lain sakit mungkin mereka memang butuh obat. Dan untuk kamu, coklat memang bukan obatnya karena kamu butuh yang lain."


"Butuh apa?"


Langkah kaki Bunyi berhenti. Tepat di hadapan Nada lagi.


"Butuh aku." ucapnya tersenyum.


Nada ikut tersenyum juga.


"Gombal."

__ADS_1


Nada mengambil coklat itu dari tangan Bunyi, lalu melangkah pergi. Meninggalkan Bunyi.


"Lea..." panggil Bunyi.


__ADS_2