Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#58 [Bab. matahari itu tenggelam, nan]


__ADS_3

[Rekomendasi Backsound yang pas saat membaca ini : Chad Lawson - In the Waiting atau Jon Hopkins - Wintergreen]


"Nan..." Nada bangkit dari tidurnya. Duduk sempurna di kasur.


Ia tersenyum. Suara itu memang membuatnya senang. Ya, walau itu suara dari orang yang paling menyebalkan di dunia, tapi itu juga suara dari orang yang mampu membuatnya bahagia. Orang yang sulit sekali untuk ditebak. Manusia yang datang dan pergi sesuka hatinya.


"Apa kabar peri cantik?"


"Kok nanya kabar? Kayak udah gak ketemu berbulan-bulan aja."


"Ya, kan satu malam gak ketemu sama kamu, bagiku sama aja kayak satu tahun, Lea. Lagipula, memangnya rindu selalu dipatok sama waktu?"


"Kamu rindu samaku, Nan?"


"Dikit."


"Kok dikit?"


"Jangan banyak-banyak, Lea. Nanti kamu jadi geer, haha."


Nada tersenyum. Senyum itu terlihat seperti senyuman anak kecil yang apabila dikasih permen atau semangkuk ice cream, maka akan bahagia.

__ADS_1


"Wajar sih kalau kamu rindu samaku."


"Kenapa wajar?"


"Ya, karena aku cantik."


Bunyi tertawa. Suaranya terdengar merambat di speaker alat komunikasi tanpa kabel yang di desain sedemikian rupa. Menyentuh sela-sela signal yang ada. Tersambung.


"Kenapa kamu ketawa, Nan?"


"Kamu tuh gak cantik, Lea. Tapi cantik banget."


Nada tersipu malu.


"Kok cantik aja?"


"Ya, kalau cantik banget, entar aku jadi geer."


Bunyi tertawa. Begitupun dengan Nada. Mungkin keduanya sudah saling mengerti sekarang. Berbeda jika dilihat dari awal mereka bertemu. Sekarang, Nada ataupun Bunyi, mungkin sedang merasakan perasaan yang sama.


Nada beranjak dari kasur, melangkah perlahan ke arah jendela, handphone masih berada di telinganya. Bunyi masih tersambung. Nada tersenyum.

__ADS_1


"Nanti sore kamu ada kegiatan gak, Lea?"


"Nggak, Nan. Gak ada. Kenapa?"


"Aku jemput ya. Ada pasar malam."


"Kenapa perginya gak malam aja, Nan? Kan, nama pasarnya pasar malam bukan pasar sore?"


Bunyi tertawa tipis.


"Jam lima sore ya, Lea."


"Jangan telat ya, Nan."


"Iya. Sampai jumpa nanti sore peri cantik."


"Sampai jumpa juga pangeran kodok."


Panggilan itu berakhir. Suara Bunyi tak lagi terdengar di speaker handphone Nada. Perempuan yang setelah itu terlihat senyum-senyum sendiri, apalagi kalau bukan bahagia. Kondisi yang sangat wajar ketika manusia merasakan hatinya seperti hamparan kebun bunga yang mekar. Banyak dari mereka menyebutnya asmara. Yang mana membuat hati manusia diselimuti kebahagiaan. Tapi jika ditanya sama anak-anak usia remaja, mungkin mereka akan menyebutnya sebagai jatuh cinta.


Nada tidak benar-benar menyampaikan perasaan itu sebagai kata cinta pada Bunyi. Dan sebaliknya. Bunyi juga tidak pernah menyampaikan apapun tentang perasaanya pada Nada. Karena mungkin keduanya juga sudah saling memahami. Dan memang, tidak semua hal harus disampaikan dengan kata-kata. Tidak semua cinta harus diungkapkan dengan kalimat aku cinta kamu. Karena cinta, bukan tentang kalimat-kalimat itu. Melainkan tentang bagaimana caranya seseorang bisa memahami dan merasakan itu di dalam hatinya.

__ADS_1


Nada menaruh handphone di atas kasur. Ia meraih baju-baju yang berserakan, lalu dibereskan dan dimasukkan ke dalam lemari. Setelah itu ia melangkah ke arah tumpukan kertas di atas meja. Membereskan itu juga, disusun rapi. Tapi setelah tumpukan itu berhasil dibereskan, mata Nada mendadak tertuju pada satu kertas yang sepertinya sempat ia lupakan. Kertas itu, tentang Cikal dan keberangkatannya ke Banda Neira.


__ADS_2