Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#13 Monstera


__ADS_3

Nada memalingkan wajahnya sebentar. Entah kenapa ia tampak sedikit kikuk. Mungkin masih terkejut karena Bunyi tiba-tiba ada di depan pintu rumahnya. Atau ia masih tidak tau harus berbuat apa. Terlebih lagi sekarang Bunyi menatapnya datar. Misterius. Tapi Nada tetap berusaha bersikap tenang. Meskipun ia masih berdiam diri. Sesekali menatap Bunyi. Memikirkan beberapa kemungkinan-kemungkinan masuk akal tentang alasan Bunyi tiba-tiba ada di rumahnya. Termasuk tentang satu plastik hitam yang dipegang olehnya.


Tapi itu tak bertahan lama. Bunyi masuk ke dalam rumah. Lebih tepatnya memaksa masuk. Nada pun seketika bingung. Padahal kan ia harus pergi ke festival musim semi sekarang. Karena tadi sudah berjanji akan menyusul tiga peri centil. Tapi Nada tak punya pilihan. Mana mungkin ia menolak dan tidak mengijinkan Bunyi masuk. Lagipula Bunyi langsung masuk tadi. Nada pun mengikutinya dari belakang. Melihat pundak Bunyi yang melangkah perlahan ke ruang tamu. Bunyi tampak melihat-lihat sekitar. Memperhatikan semua yang ada di ruang tamu. Foto-foto yang terpajang di dinding, barang-barang di atas meja, sampai piano yang ada di sebelah kiri ruang tamu.


Bunyi duduk di bench piano itu. Nada memperhatikannya dari belakang. Ia sangat kaget. Bahkan terdiam lagi. Bunyi memainkan sedikit ritme klasik milik salah satu komponis dunia terkenal, Chopin. Nocturne Op 9 No 2. Tangannya fasih menyentuh touch-touch piano. Ritme-ritme itu terdengar sangat indah, menusuk hati meski sebentar. Walaupun setelah itu Nada sedikit bingung saat Bunyi berhasil menyelesaikannya. Tapi bukan karena Bunyi yang tau karya hebat salah satu komponis terkenal dunia tadi. Nada tau itu. Ya, siapa yang tidak tau karya hebat Chopin. Tapi bukan itu. Melainkan karena Bunyi pandai memainkan piano. Padahal Bu Ni pernah bilang padanya kalau Bunyi tidak terlalu suka musik.


"Aku sedikit terkejut. Luar biasa. Padahal yang aku tau dari Bu Ni, Mas tidak terlalu suka musik. Tapi dari apa yang aku lihat barusan, mungkin Bu Ni bisa saja salah." Nada berkata pelan. Tersenyum kecil. Bunyi lantas menoleh. Berbalik badan.


"Terkadang kenyataan dan kebenaran berbanding terbalik dari cerita-cerita yang pernah kita dengar. Tapi aku sudah tidak terkejut kalau orang lain tau banyak hal tentangku. Karena Mama pasti selalu membagikannya ke banyak orang." Bunyi mengedikkan bahu.


"Dan cobalah memanggilku tanpa sebutan Mas. Karena itu sedikit mengganggu pendengaranku. Cukup Nan saja." Bunyi melipat kaki, "Nyonya Nada."


Nada mengangguk.

__ADS_1


"Selain tau tentangmu yang mungkin tidak suka musik atau bisa jadi sebaliknya, yang juga dengan sengaja merusak lukisan di museum, aku juga tau Nan itu adalah panggilan kecilmu. Kalau begitu aku juga ingin dipanggil Nada saja. Tidak dengan nyonya atau kata awalan apapun." Nada menaikkan salah satu alisnya. Bunyi memalingkan wajah.


"Tentu." Bunyi mengangguk setuju. Ia berdiri dan melangkah mendekati Nada.


"Kenapa?" Nada bertanya penasaran. Bunyi memandangnya.


"Tidak. Hanya terlihat kasual. Sedikit menaruh penekanan di sepatu dan menambah nilai estetikanya. Walau sedikit berlebihan. Namun menarik. Jarang ada orang yang punya selera seperti itu. Seperti seniman yang menemukan cilpasastranya." Bunyi mengangguk-angguk pelan. Nada terdiam sejenak. Menatap stelan pakaiannya. Seketika canggung.


Nada tak menjawab.


"Aku anggap tebakanku benar. Begitulah cara membenarkan sebuah kemungkinan dengan bertanya langsung." Bunyi tersenyum pede.


"Tapi aku suka tata letak barang-barang di ruangan ini. Menempatkan posisi piano dan menaruh beberapa barang di atas meja. Seleramu lumayan." Bunyi melangkah ke sekitarnya. Melihat-lihat ruang tamu lagi. Nada memperhatikan.

__ADS_1


"Maaf menganggu malam festival musim semimu. Tadi Mama menelponku. Dia menyuruhku untuk mengantarkan itu untukmu." Bunyi menunjuk ke arah piano. Mengambil beberapa barang dari atas meja satu per satu.


Nada melirik ke arah piano. Di sana terdapat plastik hitam itu. Plastik yang dibawa oleh Bunyi. Ternyata itu dari Bu Ni. Kira-kira apa isinya. Nada mencoba menebak sebentar sebelum akhirnya melangkah ke sana. Ke arah piano. Mengambil plastik hitam itu lalu membuka dan melihat isinya. Nada meraih sesuatu yang ada di dalam plastik itu. Lima tangkai bunga yang diikat dengan pita warna putih. Tampak segar dan sangat cantik. Nada memperhatikannya. Ia tau bunga itu. Bunga yang pernah dijanjikan Bu Ni akan diberikan padanya setahun lalu. Bunga yang dua tahun lalu mereka beli dari perkebunan bukit terakhir di selatan Perancis. Namanya Monstera.


"Aku tidak tau kenapa orang-orang sangat suka sama bunga. Tapi itu tidak penting. Karena yang terpenting sekarang aku bisa pulang." Bunyi melangkah ke arah Nada.


Nada melihatnya.


"Terima kasih sudah merepotkanku, perempuan musim semi." Bunyi menatap Nada sebentar lalu melangkah pergi. Tapi sebelum benar-benar sampai di depan pintu, ia berbalik. Menatap Nada sekali lagi.


"Satu lagi. Tadi aku dan Bara sedikit membicarakan tentangmu. Tidak. Bukan aku yang memulainya duluan. Tapi Bara. Dia sedikit bercerita tentang Lea kecil dan impiannya. Anggap kita impas. Nada tau tentang Bunyi, dan begitu sebaliknya." Bunyi tertawa pelan. Memberi hormat dengan menundukkan kepala. Melambaikan tangan. Melangkah pergi setelahnya.


Nada terdiam. Melihat pundak Bunyi yang menghilang dari pintu.

__ADS_1


__ADS_2