Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#24 [Bab. biru langit dan lima sekawan]


__ADS_3

Apakah perempuan memang laiknya seperti itu? Ya, kalau saja Bunyi tidak melakukan lelucon di Rooftop kemarin, mungkin Nada sama sekali tidak akan kesal padanya. Tapi, sikap Nada juga tidak salah mengingat ia dan Bunyi baru saja bertemu.


Bahkan tidak hanya Nada saja. Di belahan dunia manapun, perempuan akan seperti itu. Karena perempuan adalah ciptaan yang paling sempurna hatinya. Yang akan luluh jika dibuat nyaman, yang akan kesal jika dipermainkan. Dan perempuan juga manusia yang paling kuat jiwanya. Manusia yang terkadang berusaha untuk menyembunyikan kekuatannya, walau selalu saja dibilang sebagai makhluk yang paling lemah.


Angin berhembus kencang. Masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu, jam yang berdetak menunjukkan pukul sembilan kurang sepuluh menit. Seharusnya, sebentar lagi Bunyi akan sampai. Atau memang sudah sampai?


Benar. Suara kendaraan terdengar masuk. Hadir di halaman rumah Nada. Itu Bunyi. Jelas sekali terlihat laki-laki tampan dengan kacamatanya. Memakai jaket hitam, menaiki Vespa biru langit yang di bagian kanannya terdapat tulisan, 'Trust me'.


Sampai di halaman, Bunyi memarkir Verspanya. Membuka helm, lalu melangkah ke arah pintu rumah Nada.


Setelah berada di depan pintu rumah yang sekarang tampak tertutup, Bunyi pun ingin segera mengetuk pintunya. Namun, belum sempat diketuk, pintu itu sudah terbuka.


Tidak. Pintunya sudah pasti tidak terbuka sendiri. Yang membuka pintunya adalah Nada. Keluar dari dalam rumah dengan tampilan dress putih polos, membawa tootbag juga, dan langsung melangkah ke arah vespa . Melewati Bunyi begitu saja. Sekarang Nada berada tepat di samping vespa.


Namun yang dilewati malah diam. Tak berkata sepatah kata pun. Hanya melihat Nada saja.

__ADS_1


Jika boleh menelisik perasaan laki-laki ini, sangat jelas sekali kalau Bunyi tampak kagum dengan penampilan Nada. Dan kalau ada arti yang paling benar dari raut wajah Bunyi saat menatap Nada, mungkin kalimat itu adalah, 'Cantik sekali'.


Ketiga sahabatnya Nada juga muncul dari dalam rumah. Jeje, Naira, dan Una melangkah antusias.


"Lo mau diam di situ sampai malam?" tanya Nada ketus. "Cepetan... jadi pergi gak nih?" tambahnya.


Yang ditanya masih fokus sama hal lain. Bunyi masih dalam posisi kagum dengan kecantikan Nada. Tersenyum beberapa saat, kemudian laki-laki ini akhirnya melangkah ke arah Nada.


"Gue kira lo itu cuma cewek kaku, nyebelin... Tapi ternyata lo itu cantik juga ya." ucap Bunyi saat sampai tepat di hadapan Nada. Tersenyum.


Yang dipuji memalingkah wajahnya. Tampak masih kesal. Tapi, Nada sama sekali tidak bisa menyembunyikan warna merah itu. Merona yang tergantung di wajah.


Bunyi mengambil helm yang tergantung di bagian samping Vespa, lalu memakaikannya pada Nada. Namun Bunyi malah tampak tertawa kecil sekarang.


"Kenapa ketawa?" tanya Nada bingung.

__ADS_1


Bunyi menggeleng. "Enggak, gapapa."


Menghentikan tatapan kagum itu, Bunyi berbalik badan. "Ayo, naik..."


Bunyi kemudian menaiki Vespa. Memakai helm juga.


Nada mengikuti.


"Hati-hati, ya...."


"Jangan sampai lecet Princess-nya."


Ujar Naira dan Jeje bergantian.


Vespa menyala. Dengan kedua manusia yang memiliki perasaan berbeda di atasnya, atau mungkin sama, vespa kemudian melaju meninggalkan halaman rumah kawasan Beethovenstraat itu.

__ADS_1


"Mas Bunyi ganteng banget ya..." ucap Una polos. Memerhatikan ke arah vespa yang membawa Nada dan Bunyi, yang perlahan menghilang dari pandangan.


Jeje dan Naira saling tatap. Lalu pergi masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Una yang masih berada di dekat pintu.


__ADS_2