
"Ehem, ehem..." Naira dan Jeje spontan batuk setelah Nada masuk dan duduk di bangku mobil. Entah kenapa semua pandangan tertuju pada Nada sekarang.
"Girls, kayaknya ada yang lagi dekat sama cowok nih." ledek Naira. Melirik Nada sambil tersenyum kecil. Jeje dan Una mengangguk-angguk setuju. Melirik Nada juga sambil tertawa-tawa kecil. Tampak penasaran. Bahkan Bara yang duduk di samping Nada juga ikut tersenyum.
Nada melihat satu per satu sahabatnya dan Bara. Ia tau maksud dari mereka semua. Mereka pasti sedang membicarakan Cikal. Apalagi setelah Jeje dan Bara memperjelas itu dengan pertanyaan-pertanyaan seperti, "Kenalin ke kita dong, Nad." Nada langsung tertawa kecil sambil menggeleng mendengar itu. Menegaskan kalau tidak ada yang lagi dekat atau hal semacamnya. Ya, walau Jeje dan Una tidak percaya dan masih sedikit memprotes hal itu, sebelum akhirnya Bara menghidupkan mobil dan perlahan meninggalkan area gedung. Nada tersenyum kecil, bersandar pada bangku mobil. Ada-ada saja.
Tapi jika dipikir-pikir, memang tak ada yang spesial antara Nada dan Cikal. Mereka berdua hanya sebatas guru dan murid. Jadi tak akan ada status apa-apa selain itu. Ditambah lagi usia yang terbilang sangat jauh jaraknya dan mungkin Cikal juga tidak termasuk ke dalam kriteria laki-laki yang Nada suka dalam arti yang lain. Walau Nada sendiri pun tak tau kapan terakhir kali ia suka sama seseorang. Atau mungkin tak pernah sama sekali.
Tiga tahun lalu, saat hari pertama masuk ke sekolah musik terkenal Paris bernama Conservatoire, orang pertama yang menyambut Nada di sekolah itu adalah Cikal. Tepatnya di ruang tunggu. Cikal datang menghampiri Nada sambil tersenyum. "Kamu Nada kan? Saya Cikal. Saya yang akan memperkenalkan musik padamu di sini. Kamu mau mulai sekarang?" Yang pada saat itu juga langsung membuat Nada terkejut. Selain karena akhirnya ia bertemu orang Indonesia di Paris untuk pertama kalinya, juga karena ia tidak menyangka kalau sekolah musik terkenal di Paris memakai jasa seorang guru yang berasal dari Indonesia. Tapi tak hanya sampai di situ. Nada semakin terkejut ketika Cikal memperkenalkan dirinya jauh lebih dalam.
Cikal adalah seorang pianis terkenal Paris dan mungkin juga sangat terkenal di dunia. Mengajar sebagai guru musik di sekolah-sekolah musik terkenal seperti Juilliard School di Amerika, Royal College Music di Inggris, Conservatoire di Paris dan masih banyak lagi. Nada berdiam diri sejenak. Ia berdiri di depan orang hebat saat itu tapi kenapa sebelumnya Nada tak pernah tau tentang Cikal, bahkan hanya sekadar mendengar namanya saja di Indonesia pun tak pernah. Cikal tertawa kecil dan langsung menjawab kebingungan Nada saat itu juga. "Seseorang harus pergi ke tempat dimana akhirnya ia bisa diterima. Dunia ini sangat luas. Dan jangan pernah mempersempit itu hanya karena kamu merasa kamu tidak diterima di satu tempat."
__ADS_1
Setelah itu perkenalan mereka tak berlangsung lama. Pada hari pertama itu juga Cikal langsung meminta Nada memainkan satu-dua instrumen dengan organ. Dan sejak saat itulah mereka bisa kenal jauh lebih dalam satu sama lain. Menghabiskan beberapa jam hampir setiap hari. Musik akan selalu menjadi topik utamanya. Namun selain itu, mereka juga membahas banyak hal lain seperti kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukan atau hal-hal sederhana seperti apa makanan kesukaan keduanya, dan sebagainya.
Nada tertawa sambil menggeleng tak masuk akal saat Cikal memberitahu rahasianya bisa jadi pianis hebat. Cikal bilang, jika ingin menjadi pianis terkenal, jangan coba-coba sekalipun mengkonsumsi sup asparagus, atau mushroom. Konyol sekali. Tapi Cikal juga sepertinya sedang bercanda. Ia sengaja mengatakan itu supaya bisa membuat Nada lebih tenang. Saat itu Nada akan melakukan ujian pertamanya di sekolah.
Tiga tahun berjalan menyenangkan untuk Nada. Selain sibuk sekolah, Nada juga beberapa kali berkesempatan untuk menyaksikan penampilan musisi-musisi Jazz Paris, berkenalan dengan mereka, atau bahkan juga ikut tampil di konser mini akhir bulan, Month Jazz Paris. Cikal yang mengajak Nada. Cikal bilang, Nada harus belajar untuk mengerti musik dari banyak orang. Nada mengangguk. Itu adalah bagian dari ujian kecil dari Cikal untuk Nada. Setelah itu semuanya berjalan lancar. Tiga tahun yang hebat. Ya walau ada beberapa hal yang membuat Nada sedikit kecewa. Contohnya saat Cikal mengatakan kalau Nada tidak jadi ikut ambil bagian di pertunjukan New Hall minggu depan. Padahal itu adalah kesempatan langka untuk Nada. Tapi bagi Nada hal-hal seperti itu bukanlah masalah yang serius. Karena akan ada banyak kesempatan-kesempatan lain yang akan datang.
"Nad, ini Mas ke kanan apa ke kiri?"
Beberapa menit kemudian, setelah melewati satu blok jalan itu, akhirnya mereka sampai. Nada memberitahu satu bangunan indah yang menjadi tujuan mereka. Menunjuk-nunjuk tempat yang ada di sebelah kanan mereka. Bara mengerti. Ia segera menepikan mobil di kiri. Memarkirnya. Lalu menyuruh Nada dan yang lain turun duluan.
"Pokoknya gue mau makan banyak..." Jeje berseru-seru sebal. Tak sabar. Seperti ingin balas dendam karena di jalan tadi ia memang sudah kelaparan. Nada dan yang lain tertawa mendengar itu. Mereka pun akhirnya melangkah ke arah pintu masuk cafe.
__ADS_1
Blanche. Begitulah tulisan nama cafe itu. Tertera dan tergantung di atas pintu masuk. Yang berarti putih dalam bahasa Perancis. Tak ayal jika menjadi cafe favorit Nada. Lihatlah tempatnya. Mempunyai desain klasik yang menjadi ciri khas bangunan-bangunan negara eropa, terutama eropa barat. Yang sepertinya juga digabungkan dengan sedikit sentuhan asia di dalamnya. Berwarna putih keseluruhan dengan berbagai macam corak atau tulisan yang tidak dimengerti. Namun tetap indah jika dilihat. Jeje, Una, dan Naira melihat sekitar. Mereka sangat antusias. Nada tersenyum kecil. Mereka semua melangkah masuk ke dalam cafe.
Saat sudah sampai di dalam, mereka disuguhkan tampilan cafe yang jauh lebih indah dari bagian luarnya tadi. Beberapa lukisan memanjakan mata, satu rak barang-barang antik yang disusun sejajar, meja-meja tamu dan kursi yang tersusun rapi serta elegan. Tapi tak hanya sampai di situ. Berbagai macam pot bunga juga menarik perhatian. Ada yang berdiri berjajar di rak sebelah kanan mereka, tergantung, juga menempel pada dinding. Jeje, Una, dan Naira kembali memerhatikan sekitar. Luar biasa.
"Ihh... Kok lucu banget sih!" Jeje berlari meninggalkan yang lain ke arah satu pot bunga di sisi kiri mereka.
Nada dan yang lain menoleh.
"Sejak kapan Jeje suka bunga?" Naira bertanya bingung. Nada dan Una juga sama bingungnya. Bahkan Nada juga tak ingat pernah melihat bunga itu ada di sini sebelumnya atau tidak.
Ditambah lagi, tidak seperti bunga-bunga lain yang ada di bagian dalam maupun luar dari Blanche, bunga yang menarik perhatian Jeje itu terlihat berdiri sendiri, tidak ditemani oleh bunga-bunga lain. Warnanya merah serta jingga. Menyatu pada setiap bagian daunnya yang ukurannya satu sampai dua sentimeter. Berdiri tegak di depan dinding yang bertuliskan kata Berdamailah dalam bahasa Perancis. Satu kertas putih menempel di atasnya. Bertuliskan, Azalea.
__ADS_1