Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
Epilog


__ADS_3

Selamat pagi, siang, sore, malam, atau kapanpun itu saat kalian mulai mengerti kalau ternyata hujan tidak selalu tentang kesedihan atau senja yang tidak selalu membahagiakan. Karena terkadang semuanya bisa berubah sangat cepat. Tanpa pernah kita ketahui apa alasannya, dan sejatinya kita hanya diperbolehkan untuk belajar memahaminya saja.


Selamat pagi, siang, sore, malam, atau kapanpun itu saat kalian mulai mengerti kalau ternyata cinta juga bisa jadi pisau yang paling tajam. Menikam hati seseorang diam-diam. Bahkan di banyak kasus yang terjadi, miliaran hati berlabuh di dermaga yang salah. Banyak sekali alasannya. Entah karena ada cinta yang dianggap lebih tulus, keadaan yang memaksa harus berakhir, atau cerita yang memang benar-benar belum selesai.


Pukul 07.15 langit Banda Neira berkabut. Hujan berhenti tiba-tiba seiring bulan samar-samar muncul di atas dua pulau kecil dekat bandara. Sepertinya malam ini badai tak akan datang. Nada, Naira, dan Abimanyu turun dari mobil. Melangkah masuk ke bandara. Tak ada yang berbeda. Keadaan Nada masih tetap sama. Meski sekarang tak lagi menangis, tapi hatinya tetap hancur berantakan.


Tadi saat dijalan, Naira bertanya Nada mau kemana atau melakukan apa setelah ini. Tapi tetap jadi jalan buntu karena Nada tidak menjawab apa-apa lagi. Ia cuma menggeleng tak tau. Nada memang belum punya tujuan. Karena yang ada dipikirannya sekarang cuma pergi sejauh mungkin dari Banda Neira dan dari semua yang berkaitan dengan kejadian di festival tadi. Hatinya tak kuat menahan sakit jika harus lebih lama lagi berada di Banda Neira. Dan malam ini, Banda Neira akan segera ia tinggalkan. Bahkan semua hal yang terjadi mungkin akan dilupakan. Termasuk perasaan yang besar itu. Yang mungkin akan dikubur dalam-dalam.


Lima belas menit berlalu. Abimanyu sudah mengatur keberangkatan Nada malam ini. Dikarenakan jumlah turis yang membludak karena festival, pihak bandara menambah pesawat yang telah menjadi transportasi utama di Banda Neira. Setidaknya malam ini masih tersisa dua pesawat lagi. Nada naik di salah satu pesawat itu.


Naira memeluk Nada erat. Raut wajahnya sedih. Sampai detik ini Naira belum tau apa yang sebenarnya terjadi tapi dia bisa merasakan apa yang sedang dirasakan sahabatnya. Setelah pelukan itu Nada berpesan agar Naira tidak memberitahu yang lain tentang ini. Nada juga bilang ini bukan seperti setahun lalu setelah malam kelabu itu. Sekarang ia benar-benar perlu waktu sendiri. Naira mengangguk. Terpaksa mengerti. Memeluk Nada lagi sebelum akhirnya Nada naik ke pesawat, sebelum akhirnya pesawat pergi meninggalkan bandara. Dan beberapa menit setelah itu, Banda Neira benar-benar ditinggalkan. Sekarang yang tersisa cuma kenangan tiga harinya. Meski di hari terakhirnya, hati seseorang harus patah. Banda Neira, terima kasih.


Semua memang akan berlalu sangat cepat. Nada tak pernah menyangka akan merasakan hal menyakitkan itu. Ia juga tidak pernah membayangkan kalau Banda Neira akan jadi tempat paling menyeramkan untuknya. Semuanya hancur hanya dengan waktu beberapa menit saja saat petang tadi. Kenyataan itu menenggelamkan semuanya ke dasar yang paling dasar. Bahkan sekarang tak akan ada kerinduan-kerinduan lagi atau cinta yang teramat besar. Nada melihat lamat-lamat hamparan laut dari balik jendela. Biarlah semua itu terkubur di sana.

__ADS_1


Bagi Nada semua sudah cukup jelas. Ia enggan melangkah lebih jauh lagi untuk mengerti walau ia belum paham kenapa rahasia sebesar itu baru diketahuinya sekarang. Nada mengusap air mata yang sama itu berulang-ulang kali. Bersandar pada bangku pesawat, memejamkan mata. Mencoba membuang jauh semuanya, semua yang telah terjadi. Bahkan mencoba menghapus wajah-wajah yang masih muncul di dalam pikirannya. Termasuk satu wajah itu. Nan, ternyata cinta bisa ditenggelamkan sama kenyataan. Ternyata semesta tak berpihak pada kita. Nada kembali menangis seiring tetes-tetes air jatuh ke laut. Bisa dilihat samar-samar dari balik kaca pesawat yang mulai berembun. Hujan kembali turun meski telat beberapa saat.


Empat puluh lima menit berlalu. Tepat pukul 08.00 pesawat kecil itu tiba di bandara Ambon. Nada dan beberapa penumpang lain turun lalu melangkah masuk ke dalam bandara.


Wajah Nada murung. Matanya juga kelewat sembab. Meraih handphone, menghentikan langkahnya sebentar. Di layar handphone, notifikasi puluhan pesan masuk serta banyak panggilan tak terjawab terlihat. Nada membuka satu per satu ruang pesan itu. Tiga peri centil mengirimkan banyak pesan untuknya. Menanyakan kondisi Nada sekarang, mereka bertiga sangat khawatir. Apalagi Naira. Dari pesan yang dibaca Nada, sekarang Naira sudah tau semuanya. Mungkin Jeje atau Una yang memberitahunya. Nada mengusap layar. Ia melihat pesan-pesan yang lain. Beberapa pesan dan panggilan tak terjawab dari Bara serta Cikal juga ada. Tapi kali ini Nada tak membuka ruang pesan keduanya dan kembali mengusap layar. Satu pesan terakhir. Di dalamnya ada puluhan panggilan tak terjawab. Nada menunduk sebentar. Itu pesan dari Bu Ann.


"Dimana pun kamu berada sekarang, Mama mohon pulanglah, nak. Mama sudah tau semuanya dari teman-teman kamu. Mama bisa merasakan apa yang sedang kamu rasakan sekarang. Biarkan Mama menjelaskan yang sebenarnya pada kamu. Mama mohon pulanglah, nak."


Sekarang tempat mana yang akan dijadikan tujuan? Nada masih bingung. Belum ada tujuan sama sekali. Meskipun tadi ia sempat membaca isi pesan Bu Ann, tapi Nada gak mau balik ke Jakarta. Hati Nada masih sangat sesak jika harus mengingat hal yang baru saja terjadi padanya beberapa jam yang lalu. Kembali ke Jakarta meski tadi Bu Ann juga bilang akan menjelaskan yang sebenarnya, enggak. Semua sudah sangat jelas untuk Nada. Mencintai orang yang ternyata adalah saudara kandungnya sendiri, mengetahui Papa-nya ternyata punya keluarga lain, apa yang lebih jelas dari keduanya? Nada masih melangkah. Perlahan menyusuri bandara dengan sorot mata kosong memandang ke depan.


Satu per satu kenangan-kenangan itu terulang lagi. Semuanya tersusun rapi dan terputar bergantian. Yang setiap bagiannya, semakin membuat hati Nada hancur. Mungkin jadi patah hati yang paling sempurna sekarang. Yang akan sulit sekali untuk sembuh meski nanti semesta memberi jawaban. Entahlah. Nada menyeka ujung matanya. Ia melamun. Melangkah, dan masih terus melangkah, tapi tiba-tiba...


"Aduh..."

__ADS_1


"Eh maaf Mbak, maaf."


Nada bertabrakan dengan seseorang. Beberapa buku tampak berserakan di lantai. Menyadari hal itu, Nada dan orang itu langsung mencoba mengambil buku-buku yang berserakan di lantai satu per satu.


"Enggak, Mas. Saya yang salah. Saya jalan sambil melamun tadi." Nada mengusap-usap buku yang ia ambil dari lantai. Kemudian berdiri. Tapi entah kenapa Nada seketika diam. Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat orang yang ia tabrak barusan, yang juga sama terkejutnya saat melihat Nada. Mereka saling tatap. Nada tau wajah itu.


"Kinan..." Nada berucap pelan. Melipat dahinya, mencoba memastikan lagi. Ternyata itu benar Kinan. Orang yang gak sengaja bertabrakan dengan Nada di bandara Schiphol beberapa waktu yang lalu. Yang tak sengaja bertemu lagi sekarang.


"Nada." Kinan tersenyum.


...[The End.]...


...:)...

__ADS_1


__ADS_2