Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#72 [Bab. jakarta land dan si putis]


__ADS_3

"Kalau nanti udah sampai, telfon Mama. Jangan kelamaan di sana juga, ya. Nanti Mama kangen." ujar Bu Ann. Mengusap rambut Nada. Tersenyum.


Nada mengangguk pelan. Memeluk Bu Ann. Tersenyum bahagia.


Sudah lama sekali ia tidak merasakan kebahagiaan seperti ini. Kenyamanan yang telah lama hilang juga. Ternyata Nada benar benar sudah berada di rumah. Bu Ann telah kembali. Selayaknya orangtua yang mencintai anaknya. Orangtua yang menantikan kepulangan anaknya saat anaknya pergi jauh dari rumah.


Tapi kali ini, kepergian Nada ke Banda Neira bukan seperti kepergiannya setahun lalu. Jelas sekali berbeda. Kepergiannya kali ini bukan karena ingin lari dari rumah atau lari dari masalah seperti halnya malam kelabu setahun lalu. Tenang saja. Karena Banda Neira takkan dijadikan tempat pelampiasan laiknya Amsterdam dulu. Ini, hanya tentang perjalanan kecil.


"Tante so sweet banget, sih." saut Jeje gemas. "Pamit ya, tante." tambahnya.


Naira dan Una pun ikut berpamitan. Menyalami tangan Bu Ann. Bergantian.

__ADS_1


Pukul empat sore. Mereka berangkat. Setelah semua berpamitan, halaman rumah perlahan tertinggal. Mobil menuju Bandara Soekarno Hatta. Perjalanan ini baru saja akan dimulai.


Beberapa hari dan puluhan jam yang sangat melelahkan untuk Nada. Tapi ia sudah mendapatkan banyak jawaban dan banyak sekali hal baru dari semua itu. Meski sebelumnya meragukan kepulangannya. Meragukan Jakarta. Namun, lihatlah. Ia sudah berada di sini. Dan apa yang banyak orang sampaikan tentang tujuan akhir dari perjalanan adalah rumah, ternyata itu benar. Jakarta mungkin lebih dari rumah bagi Nada. Jauh lebih spesial dari itu. Dan untuk pertanyaan Bu Mira tentang bagaimana keadaan Jakarta sekarang, maka jawabannya adalah sama. Tetap menjadi kota kasih sayang.


Berbeda halnya dengan Banda Neira. Nada sama sekali belum pernah ke sana. Bahkan ia sama sekali tak tau tentang tempat itu. Setelah Cikal memberitahu kalau dia akan mengurus festival summer Jazz di sana, Nada tak sempat mencari tau tentang Banda Neira sedikit pun. Paling, yang ia tau cuma foto-foto indah pantainya. Itupun karena sejak tadi Jeje dan Una sibuk--heboh membuka internet. Mencari tau tentang pantai Banda Neira dan tempat wisata di sekitarnya.


Nada mengalihkan pandangan dari jalan. Handphone miliknya bergetar. Sepertinya ada pesan masuk. Jangan-jangan itu dari Bunyi. Ia membuka totebag, lalu mengambil handphone. Kemudian mmperhatikan layar handphone-nya, ah, bukan. Itu bukan pesan dari Bunyi. Pesan masuk itu dari Banda.


Nada mematikan layar handphone. Menaruh handphone ke dalam totebag. Merepotkan. Ucapnya dalam hati. Tapi dari pesan Banda itu, Nada ingat sesuatu. Ternyata, ia punya sedikit informasi tentang Banda Neira.


Saat pesta kecil-kecilan kemarin, Jeje tak sengaja memberitahu tentang kepergian ini. Kemudian hal itu membuat Banda kaget. Dan hal itu juga yang membuat Banda akhirnya membahas hal yang belum pernah dia bahas sebelumnya. Ternyata, nama Banda adalah Nama yang diberikan oleh Ayahnya. Nama yang terinspirasi dari nama Banda Neira itu sendiri. Nada dan yang lain terkejut. Mereka baru mengetahui fakta itu setelah bertahun-tahun lamanya berteman dengan Banda. Tapi Banda lupa apa alasan Ayahnya memberikan nama Banda padanya. Lalu, Banda melanjutkan dengan memberitahu hal lain tentang Banda Neira. Selain tempat wisata dan pantainya yang indah, Banda Neira juga dikenal dengan biji Palanya. Kopi bahkan sirup bisa dihasilkan dari bahan dasar Pala. Dan setelah itu, Banda bilang kalau dia ingin nitip dibawakan satu bungkus kopi Pala. "Ujung-ujungnya Nitip oleh-oleh." Ledek Jeje. Semua tertawa. Setidaknya Nada sudah tau sedikit informasi tentang Banda Neira. Dan informasi tentang asal-usul nama Banda juga tentunya.

__ADS_1


Nada menghentikan lamunannya. Ia tertawa tipis. Tapi setelah itu, setelah menatap kota Jakarta dari balik kaca. Entah kenapa ia tiba-tiba menghela napas. Nada menggenggam erat kerang jingga di tangan kiri sembari memikirkan sesuatu. Tapi ini bukan tentang Jakarta, Banda Neira, atau kopi Pala titipan Banda. Ini tentang hal lain. Ternyata di setiap perjalanan, ada saja ya, yang tertinggal.


Nada menunduk. Melihat kerang jingga, lalu kembali menatap jalan. Nan, kamu dimana?


Tadi saat handphone bergetar, saat pesan yang ternyata dari Banda itu masuk, Nada sempat menyebut nama Bunyi. Ia pikir pesan masuk itu dari Bunyi. Tapi ternyata salah. Ternyata laki-laki itu masih tanpa kabar. Entahlah. Nada gak tau Bunyi berada di mana sekarang atau sedang apa. Karena sejak malam di Jakarta Land, Bunyi menghilang setelah itu. Sampai sekarang. Nada sudah mengirimkan pesan atau mencoba menelepon Bunyi, tapi pesan dan telepon itu sama sekali bukan jawaban. Ditambah lagi, Bunyi gak tau tentang perjalanan ini. Nada belum memberitahu apapun tentang Banda Neira pada Bunyi. Sial. Kenapa dada terasa sedikit sesak? Gak. Bukan siapa-siapa. Harus ingat itu Nada. Perasaan yang menyebalkan.


Nada memalingkan wajah dari jalanan. Wajahnya kesal. Lalu bersandar pada bangku mobil, memejamkan mata sebentar. Ia membuka totebag, tangannya meraih handphone. Nada ingin mengirim pesan sekali lagi untuk Bunyi. Tapi, enggak. Ia mengurungkan niat mengambil handphone. Nada gak mau kecewa melihat layar handphone tanpa adanya notifikasi pesan masuk itu. Percuma. Mau seribu pesan yang dikirim pun tetap saja sama. Tanpa jawaban. Bunyi memang menyebalkan.


Tapi kenapa. Kenapa perasaan itu bisa tumbuh begitu cepat. Kenapa perasaan itu terkadang menjadi sangat menjengkelkan. Cinta. Apakah cinta memang seperti ini? Nada menghela napas. Mencoba melupakan Bunyi. Terlelap.


Di sela-sela langit Jakarta yang jingga, ternyata tetap masih ada yang tertinggal.

__ADS_1


__ADS_2