Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#02 azalea


__ADS_3

"Surpriseee..."


Teriakan serentak terdengar sangat tiba-tiba. Mengejutkan Nada, lantas menghentikan langkah kakinya.


"Naira, Jeje, Una!" Nada berkata heran. Kaget.


Ternyata suara teriakan itu berasal dari Naira, Jeje, dan Una. Mereka adalah sahabat-sahabatnya Nada. Entah angin apa yang membawa mereka berada di gedung Paris ini. Mungkin kue ulang tahun yang di pegang oleh Una, dan dua bungkus kado dari Naira serta Jeje, bisa menjelaskan semuanya.


"Happy birthday to you, happy birthday to you..."


Diiringi tepuk tangan dan suara dari ketiganya, lantunan lagu ucapan selamat itu setidaknya terdengar sangat indah. Apalagi, liukan suara Jeje yang terdengar seperti seorang penyanyi RNB, dan juga gerakan tubuh Naira yang menggambarkan seorang penyanyi Opera, cukup membuat suasana semakin meriah. Nada menunduk heran. Astaga. Bahkan ia sendiri lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya.


"Make a wish..." kata si pemegang kue ulang tahun yang rambutnya di kucir dua, Una.


Dengan wajah penuh haru, memejamkan mata sejenak lalu meniup api yang menyala, Nada memeluk ketiga sahabatnya itu dan larut dalam kebahagiaan. "Thank you, ya..."


Dua puluh lima tahun. Angka yang tampak anggun berdiri di atas kue ulang tahun bergambar pegunungan Alpen, serta hiasan gambar Aurora dunia belahan timur. Nada tersenyum haru. Ia juga beberapa kali menyeka ujung matanya.

__ADS_1


"Uhh, jangan nangis..."


"Iya, lo kan tau kita gak kuat kalau lihat lo nangis, Nad."


"Iya, Nad. Udah, ya..."


Ucap ketiga sahabatnya itu bergantian. Nada tampak sedikit terisak dalam pelukan. Sekali lagi ia menyeka air mata yang tak sungkan jatuh, melibatkan puncak senyum haru paling cantik, Nada dan ketiga sahabatnya melepas pelukan mereka.


"Ini idenya Jeje!" kata Naira tiba-tiba setelah pelukan haru itu selesai, setelah Nada menatap mereka satu-satu dengan curiga.


Nada menghentikan tatapan curiganya pada ketiga sahabatnya, "Mau ide siapapun ini, gue ngambek..."


"Lah, kok malah ngambek?" Una bertanya bingung.


"Ya, kalian gak ngabarin gue sama sekali kalo mau datang ke sini." Nada mencoba protes. Naira dan Una saling tatap.


"Kalau kita ngasih tau lo kita bakal ke sini, ya gak surprise dong namanya, Nad..." ujar Jeje.

__ADS_1


"Tau nih." Naira ikut setuju.


"Udah, sssttt..." Una menatap Nada, "Nad, ini semua bukan ide kita."


"Terus idenya siapa?"


"Idenya, Mas..." sahut seseorang. Langkah kaki perlahan terdengar datang. Mata Nada lantas mengarah pada orang itu. Nada terdiam sebentar. Mencoba mengenali bentuk wajah orang yang sekarang melangkah ke arahnya. Dan sepersekian detik setelah itu, Nada terkejut.


"Mas Bara!!" Nada tau wajah itu. Ia pun berlari lalu memeluknya. Memeluk orang yang tentu sangat ia kenal.


Dia, Bara. Saudara kandung Nada.


"Happy birthday for you, mother of bunny kids." Bara memeluk Nada erat. Tersenyum lebar sambil menutup matanya.


Nada tak kuasa menahan tangis. Air matanya keluar lagi. Nada tersenyum riang di pelukan Bara. Setelah tiga tahun tidak bertemu dan sekarang tiba-tiba Bara datang ke Paris di hari ulang tahunnya, Nada sangat bahagia.


Orang yang meyakinkan Nada kalau setiap manusia harus memilih jalan takdir mereka sendiri. Bukan tentang lurus atau yang banyak tikungannya. Melainkan jalan yang dipenuhi ranting, kerikil, atau tubuh seseorang. Nada juga ingat Bara pernah bilang, hidup harus mengorbankan sesuatu bahkan terkadang diri sendiri.

__ADS_1


__ADS_2