Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#82 [Bab.sunset pertama untuk kita]


__ADS_3

"Nan..."


"Aku udah nungguin kamu dari tadi, Lea. Ayo..."


"Mau kemana?"


"Nanti kamu juga tau."


"Tapi aku mau ke---"


Festival. Sebelum Nada mengucapkan kalimat itu, Bunyi sudah menarik tangannya tergesa-gesa. Mereka meninggalkan hotel. Bunyi mengajak Nada ke suatu tempat.


Hari kedua di Banda Neira. Sekarang jam 10.00 pagi. Tadi, Nada bersiap ingin berangkat ke festival. Sendirian. Karena Jeje, Naira, dan Una sudah ada di sana duluan. Mereka pergi satu jam yang lalu. Sebenarnya Nada juga ingin pergi dari satu jam yang lalu, tapi tadi Bu Ann tiba-tiba menelepon. Menanyakan kabar, melepas rindu, serta mengomel sedikit karena Nada lupa meneleponnya semalam. Nada hanya mengirim satu pesan singkat untuk Bu Ann. Memberitahu kalau sudah sampai di Banda Neira.


Setelah itu mereka mengobrol panjang. Nada bilang Banda Neira sangat indah. Bahkan memang lebih indah dari ibukota. Pantainya, langit malam, sampai barisan pulau-pulau kecil. Nada juga bilang suatu saat nanti ingin mengajak Bu Ann dan Bara ke sini. Lagian, mereka juga udah lama sekali tidak liburan sama-sama. Di ujung telepon, Bu Ann setuju. Suaranya terdengar bersemangat.


Lalu lima menit sebelum telepon berakhir, Bu Ann bilang Nada harus jaga kesehatan. Bu Ann juga bertanya kapan Nada akan pulang. "Mama gak mau aja kamu pergi lagi kayak tahun lalu, Nad." Suara Bu Ann terdengar khawatir. Nada pun berjanji akan pulang setelah festival selesai. Mungkin dua hari lagi. Bu Ann kembali gembira. Menanti kepulangan Nada sambil bercanda tentang oleh-oleh. Mereka tertawa. Telepon berakhir.


"Sampai..." Bunyi merentangkan tangan. Melirik Nada. Tersenyum.


Tapi yang dilirik malah bingung. Nada memperhatikan sekitar. Lapangan yang luas. Tumpukan-tumpukan batu, ilalang-ilalang, dan dua pohon sejajar menghadap ke laut. Nada menatap Bunyi. Bingung. Nada benar-benar belum mengerti kenapa Bunyi mengajaknya ke sini.


Bunyi tersenyum. Bukannya menjelaskan, dia malah melangkah ke depan. Setelah itu, Bunyi mengambil sesuatu dari saku celananya. Sebuah peluit. Warna putih. Bunyi berbalik badan. Kembali menatap Nada, lalu meniup peluit itu.


Nada terkejut.


Puluhan anak-anak muncul entah dari mana saja, berlarian ke tengah lapangan. Lalu berdiri sejajar. Menghadap Nada dan Bunyi. Setengah dari mereka membentang kain putih panjang. Spanduk atau apalah namanya. Kemudian di buka perlahan lipatan kainnya, dan semakin terkejutnya Nada saat melihat sesuatu yang ada di kain itu. Sebuah tulisan. Satu kalimat sederhana. Kumpulan kata yang benar-benar singkat.


Aku sayang kamu, Lea.

__ADS_1


Dua balon abu-abu terbang ke langit seiring salah satu dari anak-anak itu memainkan ukulele. Memetik satu per satu senarnya. Nada diam sempurna. Jantungnya berdetak tak karuan. Refleks tersenyum juga. Menatap Bunyi yang sekarang ada di hadapannya.


"Nan," Nada memanggil pelan. Suaranya sedikit gugup. Tapi Bunyi tak menjawab. Malah Bunyi kembali mengambil sesuatu dari saku celananya. Benda yang sangat Nada kenal. Kerang Jingga pemberian Alya.


"Walaupun kamu galak, nyebelin, tapi perasaan itu udah ada saat pertama kali kita ketemu, Lea. Bahkan waktu di Jakarta, sebenarnya aku mau bilang kalau aku sayang kamu. Tapi aku takut kamu gak punya perasaan yang sama. Kamu beda, Lea. Kamu gak kayak cewek-cewek lain." jelas Bunyi. Sebuah pengakuan.


Nada masih menatap Bunyi. Tarikan napasnya tak beraturan. Hembusan angin menyentuh setiap helai-helai rambutnya. Sinar sang surya menerpa wajahnya. Mungkin semesta juga sedang menunggu momen ini. Nada nyaris meneteskan air mata. Tapi yang ini bukan kecewa melainkan bahagia. Terharu. Akhirnya perasaan itu diucapkan. Akhirnya Nada tau kalau Bunyi juga punya perasaan yang sama.


"Lea," Bunyi menggenggam tangan Nada. Jarak tatap mereka semakin dekat.


"Kalau kamu tanya apa alasannya," Bunyi menggeleng, "Mungkin cinta yang ini gak punya alasan apapun." Bunyi tersenyum tipis. Sepertinya dia juga sedang deg-deg an.


"Nan, kenapa kamu harus takut kalau kamu memang cinta?"


Bunyi mendadak diam. Menunduk. Melepas genggaman tangannya. Sebenarnya pertanyaan Nada itu, juga diperuntukkan untuk dirinya sendiri.


"Nan,"


"Aku juga sayang sama kamu, Nan."


Seluruh lapangan lengang. Bunyi terkejut dan langsung menatap Nada lagi. Apa itu barusan? Nada bilang apa tadi? Sebuah pengakuan juga. Nada menunduk malu. Ia bahkan tak sadar telah mengatakan kalimat itu barusan. Lalu, tangannya refleks meraih sesuatu dari saku celananya. Kerang Jingga yang satunya. Nada menyodorkan kerang itu pada Bunyi, kemudian dipersatukan dengan kerang milik Bunyi menjadi sepasang Kerang Jingga yang cantik. Ternyata Alya benar.


Nada dan Bunyi tersenyum. Lekukan senyum paling bahagia. Berpelukan. Belasan anak-anak di tengah lapangan bersorak. Ikut bahagia juga. Menari-nari. Bersenandung lagu cinta paling damai. Berlarian kesana-kemari. Bunyi menarik tangan Nada. Mereka bergabung di tengah anak-anak. Ikut menari-nari juga. Tertawa gembira. Di bawah langit cerah, angin berhembus kencang. Bahkan semesta memang menunggu momen ini.


Hari ini, akhirnya perasaan itu diperjelas. Akhirnya Nada dan Bunyi tau satu sama lain tentang itu. Walau sebelumnya mungkin juga udah tau, tapi seenggaknya perasaan itu sudah diucapkan. Dan Banda Neira pun jadi saksinya. Hari kedua yang menakjubkan. Berjalan lancar mengukir potongan-potongan takdir sebelum akhirnya petang menjemput. Dua menit sebelum sang surya tenggelam di ujung samudera, Nada dan Bunyi duduk diantara dua pohon. Menatap hamparan laut yang jauh.


"Nan, menurut kamu cinta itu apa?" Nada berkata pelan. Memalingkan wajahnya dari laut, melihat Bunyi.


"Cinta itu artinya kamu kangen aku, kamu kangen aku, kamu kangen aku."

__ADS_1


"Ihh, aku serius, Nan."


Bunyi tertawa, "Kamu kenapa kangen sama aku, Lea?"


"Ya, karena kamu ilang tiba-tiba. Gak ada ngabarin aku."


Bunyi menatap Nada, "Bukan karena takut kehilangan?"


Nada diam sejenak. Iya sih itu juga.


Bunyi tertawa lagi. Kembali menatap laut. Satu menit.


"Tapi, kamu pernah mikir gak sih kenapa tuhan ngasih kesempatan untuk sama-sama, padahal ujung-ujungnya pasti bakal pisah juga, Nan?"


"Mungkin tuhan mau manusia mengerti."


"Mengerti?"


Bunyi mengangguk. 30 detik.


"Ya, kan bahagia juga gak harus sama-sama, Lea..."


Nada memalingkan wajahnya. Menatap laut.


"Tapi kalau harus sama-sama, apalagi sama kamu, kayaknya lebih bahagia deh." rayu Bunyi. Telunjuknya menyentuh ujung hidung Nada.


"Gombal." Mereka berdua tertawa. 5 detik.


Setelah itu Bunyi merangkul Nada. Mendekapnya erat. Dan Nada juga menyandarkan kepalanya. Nyaman sekali.

__ADS_1


"Kamu cantik. Se-cantik sunset itu, Lea."


Sang surya tenggelam. Hilang ditelan samudera. Hamparan laut memantulkan warna jingganya. Burung-burung terbang nun jauh kembali ke rumah mereka. Sunset pertama untuk kita.


__ADS_2