Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#17


__ADS_3

• • •


Walau pagi ini tak seindah apa yang dipikirkan, walau tak selembut cahaya yang menyentuh pelataran langit, setidaknya rindu itu tuntas. Tuntas meskipun harus dibayar dengan air mata. Bara menggandeng Nada keluar dari ruangan Bu Ann. Mengakhiri pagi sendu di ruangan itu. Ia tak tega melihat adiknya tenggelam lebih dalam lagi di lautan kesedihan. Terlebih, karena Luna sempat bilang pada Bara kalau Bu Ann tak boleh terlalu banyak dipaksa mengingat atau berada dalam kondisi seperti tadi. Itu bisa mempengaruhi ingatan-ingatan buruknya kembali muncul dan memicu depresi.

__ADS_1


Ruangan itu pun ditinggalkan. Mereka pergi. Luna mengajak Bara untuk berbincang sedikit perihal Bu Ann di ruangannya. Sementara Nada, tertunduk lesuh duduk di bangku taman rumah sakit. Matanya sembab. Air matanya masih jatuh. Satu per satu seiring angin berhembus kencang menerbangkan daun-daun yang gugur. Awan sedikit abu-abu. Pagi ini, Nada berharap ia memeluk Mamanya sambil menggapai bahagia bertemu lagi setelah tiga tahun mereka berpisah. Sebagaimana anak perempuan yang merindukan peluk hangat seorang ibu, Nada berharap pagi ini akan menjadi sepotong bahagia meski hanya sepotong. Sudah lama sekali rasanya. Nada terisak lagi. Air matanya kembali jatuh. Menatap kosong depan, potongan-potongan kenangan itu terputar. Seisi taman berubah jadi panggung masa lalu.


Dulu kalau Nada atau Bara kecil sedang menangis, Bu Ann pasti segera datang dan meraih mereka. Tanpa bertanya dan langsung mengusir kesedihan dari wajah anak-anaknya sambil tersenyum. Bu Ann bilang jadi manusia itu harus kuat, maka semua akan baik-baik saja. Tak ada apapun yang boleh mengusir wajah riang itu. Sekalipun dunia. Nada dan Bara kecil yang mendengarnya seketika berhenti menangis. Menyeka ujung mata lalu tersenyum. Memeluk erat Bu Ann. Tenang dan aman bersamanya. Bu Ann memang yang paling mengerti. Dia tak akan membiarkan anak-anaknya menangis lebih lama. Apapun akan dia lakukan agar bahagia tergantung kokoh di wajah mereka. Tapi sekarang semuanya sudah jauh berbeda. Tak ada senyum setelah air mata lagi. Tak ada hangat dan damai pelukan lagi. Nada menghela napasnya. Seluruh taman kembali seperti semula. Potongan kenangan itu menghilang dalam sekejab.

__ADS_1


Hai, Nada. Apa kabar? Saya tau kamu pasti sudah sampai di sana. Gimana Jakarta? Saya menelepon Madame Marie kemarin. Dia bilang kamu sudah pergi dari rumah sewa itu. Syukurlah. Saya senang kamu sudah pulang. Selamat untuk kelulusanmu. Saya turut bahagia. Sekarang kamu bisa berlibur sejenak sebelum nantinya akan menjadi musisi profesional seperti saya. Jangan hiraukan tentang ajakan saya beberapa hari yang lalu tentang festival itu. Fokuslah di sana dulu. Tapi kalau kamu tertarik untuk ikut melihat acara hebat itu, kabari saya. Oh iya, ngomong-ngomong saya sudah di sini. Di Banda Neira. Saya sampai kemarin malam. Tempat ini benar-benar luar biasa. Surga yang sangat indah. Saran saya kamu harus melihatnya langsung. Ya sudah sampai di sini dulu. Saya harus berkeliling pagi ini. Rencananya acara pembukaan akan digelar dua hari lagi. Nad, sekali lagi selamat untuk kelulusanmu.


tertanda di pesan ini, mantan gurumu.

__ADS_1


Nada memalingkan wajah dari layar handphone setelah membaca pesan yang lumayan panjang itu. Pesan dari orang yang sangat Nada kenal. Ya siapa lagi kalau bukan Cikal. Karena tak akan ada orang lain selain Cikal yang memilih mengirim pesan sepanjang itu ketimbang harus menelepon. Laki-laki yang cukup unik. Katanya dia sudah sampai di tempat itu sekarang. Banda Neira. Cikal akan mulai mengurus festival itu. Festival summer jazz. Nada menatap datar ke depan. Ia ingat tentang ajakan Cikal yang belum sama sekali ia balas. Kalau dipikir-pikir, Nada memang sedikit tertarik untuk pergi ke Banda Neira. Setidaknya hanya untuk melihat festival yang kata Cikal akan jadi festival hebat itu. Karena mungkin di sana nanti akan banyak musisi-musisi hebat dunia yang datang dan tampil di atas panggung. Mengingat juga waktu di Paris, setelah salah satu impiannya tampil di New Hall gagal, Nada sempat kepikiran untuk menerima tawaran Cikal pergi ke Banda Neira melihat festival summer jazz di sana. Namun, pada akhirnya hal itu perlahan terlupakan. Nada tak terlalu memikirkan Banda Neira dan festival itu setelah Bara bilang kondisi Bu Ann semakin menurun beberapa hari yang lalu. Bahkan saat sudah pulang ke Jakarta sekarang dan melihat langsung kondisi Mamanya tadi, Sepertinya Nada memang tak akan pergi.


__ADS_2