
[Rekomendasi Backsound yang pas saat membaca ini : Brahm's lullaby atau The Macarons Project - Edelweiss]
Menelisik, air mata juga menetes di pipi Bu Ann. Tangis bahagia. Dia memang sudah tau kalau Nada akan datang. Tapi, dia sama sekali tidak menyangka kalau putri kecilnya berada di pandangannya sekarang. Bu Ann tersenyum bahagia. Isak tangis terdengar merintih pelan. Sepertinya semesta memang tidak pernah berbohong soal perasaan.
Beralih ke jiwa yang kembali pulang, Nada tak mau berlama-lama lagi. Ia juga mulai terisak. Rindu itu harus segera diselesaikan. Membuka langkah dengan menyeka air mata yang semakin lama semakin deras keluar, Nada berlari menuju Ibunya.
Bu Ann juga begitu. Namun bedanya, Bu Ann sama sekali tidak menyeka air mata. Dia membiarkan pipi merasakan bagian dari tangis bahagia itu. Menghela napas, menutup mulut dengan tangan dan kembali terisak, Bu Ann menjatuhkan botol yang tadi dia pegang, lantas membuka langkah ke arah Nada.
Langit semakin cerah. Jika nirwana memiliki bunga yang paling cantik, mungkin sekarang bunga itu sedang mekar semekar-mekarnya melihat pertemuan ibu dan anak. Sungguh. Bahkan bumi pun akan tersenyum jika ditakdirkan memiliki bibir.
Tangis itu pecah. Isakan terdengar lirih. Nada dan Bu Ann bertemu di pelukan yang benar-benar hangat. Bertemu di tangis bahagia yang sama. Akhirnya, rindu itu menuai titik temunya. Dan mungkin, kenangan malam kelabu setahun lalu akan hilang sekarang. Terima kasih untukmu.
__ADS_1
"Mama kangen sekali sama kamu. Kangen sekali.." Suara Bu Ann merintih. Mencium kening Nada dan melepaskan kerinduannya di sana.
Nada mengangguk pelan. Tersenyum dan memandang wajah Ibunya. Air mata itu masih berada di antara mereka.
"Maafin Nada ya, Ma." Nada semakin memantapkan pelukannya.
Bu Ann mengangguk. Menutup mata, dan kembali mencium rambut peri cantiknya. Air mata mereka masih jatuh.
Nada mengangguk pasti. Kembali menatap binar Ibunya.
"Janji?" Bu Ann mengangkat jari kelingking. Tersenyum lirih.
__ADS_1
Nada pun ikut mengangkat jari kelingkingnya. "Janji."
Air mata bahagia tumpah meruah. Nada dan Bu Ann kembali berpelukan. Mereka sudah menciptakan janji indah. Yang suatu saat akan dikenang. Yang nantinya akan menjadi sebuah alasan.
Di samping ayunan cat putih cantik, Bunyi tersenyum. Pemandangan yang sangat indah. Senyum itu jelas tergantung di wajah Bunyi. Lagipula, siapa yang tidak akan bahagia melihat pertemuan itu? Gak ada. Bahkan jika ada yang mampu menterjemahkan perasaan langit sekarang, mungkin langit juga akan sama bahagianya melihat pertemuan itu.
Sungguh. Semesta memang tidak akan pernah berbohong perihal perasaan.
Akhirnya siang itu berlalu. Air mata bahagia beterbangan ke atas langit. Bumi bersorai merdu. Setidaknya, hari ini duka itu telah usai. Seenggaknya, bumi berbaik hati membiarkan pertemuan indah itu terjadi. Nada dan Bu Ann memang berhak untuk bahagia lagi. Di dalam ruang yang mereka sebut sebagai rumah. Di dalam perasaan yang mereka sebut sebagai keluarga. Walau beberapa telah pergi dari mereka, mungkin juga takkan pernah kembali. Tapi, hari ini cukup ditutup dengan bahagia saja. Jangan yang lain.
Dan untuk Pak Tio, serta nyawa-nyawa yang terlepas, sekali lagi biarlah itu menjadi urusan semesta. Biarlah mereka terbang menuju padanya. Semoga akan bertemu kembali. Semoga saja.
__ADS_1
Angin bertiup sejuk. Menusuk jiwa-jiwa abadi yang sudah kembali. Beberapa jam kemudian, senja menyapa. Jingga tersungging dengan senyumnya. Hari ini, tugas matahari sudah selesai. Dicukupkan. Maka bulan akan hadir menggantikan. Memberi cahayanya yang redup. Tapi hangat dan melindungi mereka yang ditinggalkan. Semoga malam ini bintang juga begitu. Memberi cahaya harapan untuk mereka yang ingin bahagia lagi, semoga saja.