
Jam 11 siang. Abimanyu menjemput Nada dan tiga peri centil di hotel. Mereka berangkat menuju lokasi festival. Acara pembukannya mungkin sudah dimulai. Mereka sedikit terlambat. Setengah jam yang lalu, area depan hotel dipenuhi banyak sekali mobil wartawan--orang media yang datang meliput beberapa musisi. Keadaannya semakin ramai saat sesi foto tiba. Beberapa wartawan dan penggemar mengambil foto dengan para musisi. Jeje dan Una juga. Mereka menyelip dan menerobos kerumunan. Barulah sepuluh menit terakhir semuanya berangsur-angsur pergi. Satu per satu mobil pergi meninggalkan hotel menuju tujuan yang sama. Termasuk mobil Abimanyu yang membawa Nada dan tiga peri centil.
Di dalam mobil suasananya menyenangkan. Jeje dan Una memamerkan foto-foto mereka tadi. Sesekali juga saling meledek pose foto masing-masing. "Uda kayak foto KTP lo, Na." Ledek Jeje. Mereka juga bilang setelah acara pembukaan festival mereka akan langsung pergi ke pantai. Bahkan Jeje sudah mempersiapkan satu set lengkap alat diving-nya. Tadi pagi juga Una sudah mensurvey lokasi pantainya. Ya, kemana pun mereka pergi, pantai memang akan selalu menjadi nomor satu di dalam daftar.
Di bangku depan, Naira dan Abimanyu terlihat sudah akrab. Bahkan semakin akrab. Nyambung. Banyak topik yang mereka obrolkan. Sesekali juga tertawa bersama. Entahlah. Entah apa yang mereka tertawakan, tapi kalau dilihat-lihat sepertinya mereka memang cocok. Sorot mata keduanya juga menampilkan rasa tertarik pada satu sama lain. "Tinggal nunggu waktu aja nih." Rayu Jeje. Naira tersipu malu. Abimanyu tertawa pelan.
Nada tersenyum tipis. Sejak tadi ia hanya melihat ke luar jendela mobil. Turis-turis yang sedang berjalan, rumah-rumah penduduk sekitar yang dilewati, dan satu bukit yang berada nun jauh di sisi kanan. Nada mendengar celotehan-celotehan Jeje dan Una. Dia juga melihat kedekatan Naira dan Abimanyu. Tapi, entah kenapa Nada enggak bersemangat. Seperti tidak bergairah. Tadi pagi saja dia gak ikut mengabadikan foto kayak Jeje dan Una. Padahal sebelumnya, berfoto dengan musisi-musisi Jazz jadi salah satu keinginannya. Dan sampai saat ini pun, Nada gak tau harus kemana atau harus melakukan apa selain datang ke festival. Bingung. Wajahnya murung. Bahkan Nada sendiri pun gak tau ia sedang kenapa.
Seperti halnya kita yang suka capek, bete, sedih tapi gak tau alasannya apa. Mungkin kita tau alasannya tapi berusaha untuk pura-pura gak tau aja. Atau kita tau alasannya, kita gak pura-pura, tapi tetap aja capek, bete, sedih, gak tau harus apa. Hm, ribet ya. Terpaksa harus mengerti keadaan. Nada mengambil handphone. Membuka ruang pesan yang beberapa hari ini kosong. Wajahnya sangat kesal. Sampai kapan ruang pesan ini kosong terus.
Beberapa menit berlalu. Mereka sampai. Summer Jazz Festival. Nada dan yang lain disambut oleh tepuk tangan gemuruh. Sekelompok penari baru selesai tampil di atas panggung besar. Acara pembukaan festival sedang berlangsung. Mereka memang terlambat. Nada dan tiga peri centil turun dari mobil.
Ramai sekali. Ratusan orang memenuhi acara pembukaan ini. Meriah. Panggung persegi panjang, alat-alat musik lengkap, lampu-lampu sorot sukses menjadi perhatian. Di sudut-sudut panggung juga ada beberapa hiasan. Spanduk, kain atau apalah namanya. Beberapa kursi disediakan di depan panggung. Mungkin untuk tamu-tamu undangan. Banyak kamera juga sedang menyorot. Merekam. Festival ini akan disiarkan ke seluruh penjuru negeri. Atau bahkan mancanegara. Nada dan tiga peri centil melangkah, bergabung di kerumunan.
"Ayo, Je. Gue mau ngambil foto." Desak Una. Menarik tangan Jeje. Mengajaknya ke depan panggung. Satu band Jazz bersiap akan tampil di atas sana.
Nada memperhatikan sekitar. Melihat kiri-kanan sebelum akhirnya memfokuskan pandangannya ke depan. Ia mencari Cikal. Nada ingin mengucapkan selamat atas berhasilnya acara pembukaan festival ini. Tapi rasa-rasanya gak mudah menemukan Cikal di kerumunan. Atau mungkin laki-laki itu sedang ada di belakang panggung. Yaudah lah nanti aja. Lagian kan Nada juga gak akan kemana-mana. Dia akan di sini sampai acara pembukaan festival selesai.
__ADS_1
Tapi selain mencari Cikal, Nada juga mencari Mila dan Mamanya. Mereka mungkin sudah ada di sini. Tapi lagi-lagi, gak mudah mengenali satu-dua orang di kerumunan. Ramai sekali. Semuanya menghadap ke depan. Melihat panggung besar itu.
"Nad," panggil Naira.
Nada menoleh, "Iya, Nay?"
"Gue ke sana dulu, ya." Naira menunjuk ke arah kanan.
Nada melirik. Abimanyu ada di sana.
"Gue mau--"
"Yey... apaan, sih."
Mereka berdua tertawa.
"Yaudah gue ke sana, ya. Tapi lo bener gapapa ditinggal?"
__ADS_1
Nada mengangguk. Tersenyum.
Naira melangkah pergi.
Uda lama sekali Naira gak sebahagia itu. Nada tersenyum tipis. Abimanyu berhasil meluluhkan hati Naira. Padahal kalau di ingat-ingat, dulu banyak sekali laki-laki gagal bahkan hanya untuk sekadar mencuri perhatian Naira. Karena dibandingkan Jeje dan Una, peri centil yang satu ini sangat menutup diri pada laki-laki. Cuek. Terkesan bodo amat. Tapi kali ini, entah apa yang membuat dia membuka dirinya pada Abimanyu. Mungkin karena uda cocok aja. Atau juga uda waktunya. Ya, kan yang terbaik memang selalu selalu datang kalau waktunya udah tepat.
Nada memalingkan wajahnya. Semua penonton bertepuk tangan lagi. Satu band Jazz mulai tampil di atas panggung. Bossanova. Nada memperhatikan. Sesekali juga ia menatap langit. Sejuk. Matahari sembunyi di balik awan. Genit. Mendung. Ah, bukan. Ini bukan mendung. Ini sendu. Angin bertiup seiring instrumen Jazz meliuk-liuk. Seirama.
Kenapa harus sedih? Kenapa harus murung? Tujuan datang ke Banda Neira kan untuk melihat semua ini. Melihat musisi-musisi Jazz tampil dengan instrumen abadi mereka masing-masing. Pengalaman yang sangat langka. Mungkin hanya sekali seumur hidup. "Ayolah, Nad. Jangan mikirin dia terus. Fokus sama festival... fokus." Nada memejamkan matanya. Hatinya berkecamuk.
"Dia gak mungkin ada di sini, Nad. Gak mungkin..." Nada menunduk. Bunyi benar-benar menguasai pikirannya. Potongan-potongan kenangan di Amsterdam, Jakarta land terputar. Enggak. Gak boleh kayak gini. Ngapain mikirin laki-laki yang gak jelas itu. Aneh. Nyebelin. Gak tau juga entah ada dimana sekarang. Tapi Nada gak bisa bohong. Dia gak bisa ngusir Bunyi dari pikirannya. Yang semakin diusir, wajahnya malah semakin jelas muncul.
Nada gak tau harus apa. Ia bingung sama perasaannya. Tapi, tiba-tiba tubuhnya gemetar. Enggak. Bukan karena melodi indah flute dari atas panggung. Bukan juga karena serangkaian chord-chord unik yang dimainkan pianis. Astaga. Tangan Nada terangkat. Seseorang meraih tangannya.
"Hai, tuan puteri."
Suara itu, panggilan itu. Enggak. Gak mungkin. Nada membuka matanya. Dan betapa kagetnya ia saat melihat orang yang ada dihadapannya sekarang. Itu--
__ADS_1
"Nan..."
"Lea."