Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#37 [Bab. sepasang kerang jingga]


__ADS_3

[Rekomendasi Backsound yang pas saat membaca ini : Adikara Fardy feat Matter Mos - Happy Guy]


"Lea," Bunyi tersenyum.


"Kalau dulu Cleopatra mengartikan kata cantik yang diucapkan Mark Anthony untuknya sebagai kata gombal, mungkin mereka gak akan masuk sepuluh pasangan teromantis di dunia, Lea." jelas Bunyi.


Nada terdiam. Tak menjawab apapun. Hanya melihat Bunyi. Terpaku pada tatapannya.


Mungkin Bunyi benar. Karena tidak selamanya kata cantik atau kata cinta yang lain dapat diartikan sebagai sebuah rayuan. Boleh jadi, kata cantik dan kata cinta itu memang berasal dari dalam hati.


Bunyi kembali tersenyum. Dia memakaikan Nada helm. Berbalik badan, memakai helm juga, lalu menurunkan standar vespa.


"Ayo." ajak Bunyi.


Kemudian mereka naik, duduk di atas si biru langit. Nada dan Bunyi siap untuk pergi.

__ADS_1


Di sisi lain, Naira masih memperhatikan. Melihat dua manusia yang mungkin sudah mulai dipersatukan semesta. Dan mulai ditunjukkan takdir perasaannya.


Naira masih memegang bunga Phalaenopsis Amabilis ditangannya. Tersenyum. Sambil melihat si biru langit mulai beranjak pergi.


Nada dan Bunyi perlahan meninggalkan halaman rumah.


Tujuan mereka adalah rumah sakit. Tapi, sejak kemarin Bunyi tidak memberitahu Nada kenapa mereka pergi ke sana. Siapa yang sedang sakit, atau hendak melakukan apa? Nada sama sekali tidak tau.


Karena yang dia tau cuma detak jantung dan perasaan aneh yang sekarang selalu ia rasakan. Sesuatu yang membuat Nada kadang tersenyum, kadang juga kesal. Sesuatu yang lahir, saat ia bersama dengan Bunyi.


Dan mungkin, semua orang di belahan dunia manapun, pernah merasakan itu. Bukan cuma Nada saja. Ya, karena, perasaan aneh yang terkadang tidak diminta kehadirannya itu, bisa dirasakan oleh siapapun. Tak pernah memilih. Dan tak ingin dipilih. Hadir dan lahir sebagaimana mestinya. Tidak karena terpaksa juga.


Apalagi, kalau berbicara tentang sesuatu yang tiba-tiba muncul. Terang seperti mentari yang punya banyak sekali rahasia di awal pagi. Tapi terkadang juga dingin seperti gerimis. Hanyut. Jatuh tanpa aba-aba. Sedikit ceroboh, tapi itulah kenyataannya.


Kepada pemilik hak dari seluruh alam semesta, segalanya. Pesan ini dibuat untuk semua orang. Terima kasih. Perasaan yang hadir bukan cuma-cuma. Mungkin tulus. Atau boleh jadi hanya omong kosong. Tapi, yang terpenting hanyalah tundukan kepala. Berterima kasih karena bisa diperkenankan untuk merasakan.

__ADS_1


Di dekapan angin pagi sejuk yang hilir-mudik menerpa beberapa helai rambutnya, Nada tersenyum tipis.


Mereka sampai. Tapi bukan di rumah sakit. Melainkan di sepanjang jalan yang dipenuhi banyak sekali bunga. Tertata rapi di kiri-kanan jalan.


La-diamor. Itulah nama tempat ini. Tertulis di satu papan kayu yang berada di depan banyak tampilan bunga. Entah apa artinya. Tapi yang jelas, tempat ini ramai sekali oleh penjual bunga dan pembelinya.


Memperhatikan sekitar saat si biru langit perlahan mengurangi laju kecepatan, Nada bingung. Ia tidak pernah ke sini sebelumnya. Karena yang dia tau, toko bunga di Amstersam, ya, cuma Bloem saja.


Si biru langit menepi. Nada dan Bunyi turun.


"Katanya mau ke rumah sakit, kok malah ke sini?"


"Beli bunga dulu."


"Untuk apa?"

__ADS_1


Bunyi tersenyum. Bukannya menjawab pertanyaan Nada, dia malah melepaskan helmnya lalu melangkah perlahan ke arah jajaran bunga yang berada tak jauh dari mereka.


"Nan..." panggil Nada bingung. Yang melihat pundak Bunyi perlahan menjauh darinya.


__ADS_2