Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#85 [Bab. sebuah kejutan]


__ADS_3

Sebelum akhirnya melangkah pergi, Cikal memberitahu pada Nada kalau dia akan tampil terakhir sebagai penutup. Pukul setengah enam sore saat senja sedang jingga-jingganya nanti. Nada mengangguk mengerti. Berarti masih ada beberapa jam lagi sebelum akhirnya melihat penampilan terakhir dari pemain organ terbaik Amsterdam itu.


Penonton bertepuk tangan. Nada menatap panggung. Di atas sana, semua personel band jazz itu mulai memainkan instrumen mereka masing-masing. Sudah masuk intro lagu. Jeje dan Una bergegas menerobos kerumunan, membawa kamera mereka masing-masing, melangkah ke depan panggung.


"Nad," Naira terdengar memanggil. Nada menoleh.


"Gue mau pergi sama Abimanyu sekalian mau beli oleh-oleh. Lo mau nitip sesuatu gak?"


"Gue boleh nitip pesanan Banda gak, Nay?"


"Boleh dong. Terus?"


"Udah itu aja, Nay. Nanti yang lain biar gue beli sendiri."


Naira mengangguk. Noted. Lalu melangkah pergi.


Nada kembali menatap panggung. Mendengar rangkaian not-not indah itu. Menari-nari nan centil seiring angin yang tiba-tiba berhembus kencang menyibakkan helai-helai rambut penonton. Sudah sampai pertengahan lagu. Nada menghela napas. Ia tau persis alunan lagu yang sedang dimainkan itu. Nada tau betul setiap bait-bait liriknya. Bagian-bagian melodi yang seperti menangis. Menyayat hati seorang anak perempuan.


Nada memejamkan matanya sebentar. Seperti membiarkan sesuatu muncul kembali dari lubang yang paling dalam. Wajah itu, yang telah lama hilang entah kenapa hadir lagi dipikirannya. Serta potongan-potongan kecil kenangan yang sudah lama terlupakan akhirnya diingat lagi. Seandainya Papa ada di sini, pasti Papa akan senang sekali melihat semua ini. Tanpa sadar Nada mengucapkan itu di dalam hatinya. Yang kemudian semakin memperjelas wajah itu, wajah Pak Karso dan kenangan-kenangan masa lalu di dalam pikirannya.


"Kamu cantik sekali hari ini."

__ADS_1


Nada membuka matanya. Sepasang tangan memeluknya dari belakang. Ia menoleh.


"Nan..." Nada kembali menatap panggung. Membiarkan Bunyi memeluknya dari belakang.


"Kamu udah nyampe dari tadi, Lea?"


Nada mengangguk.


"Berarti lagi nungguin aku?"


Nada mengangguk lagi.


Melihat kiri-kanan, "Mama kamu mana, Nan?"


"Mama masih di hotel, Lea. Katanya baru akan datang nanti sore." Bunyi melepas pelukannya. Nada berbalik badan.


"Ayo, Lea." Bunyi memegang tangan Nada.


"Kemana, Nan?"


"Pantai."

__ADS_1


"Pantai?"


Bunyi mengangguk. Dia mengeluarkan sebuah sapu tangan dari saku celana. Menepikan beberapa helai rambut Nada, lalu menutup mata Nada dengan sapu tangan itu.


"Nan?" Nada berkata bingung.


Bunyi tak menjawab. Menarik tangan Nada perlahan, mencoba mengarahkan langkah. Bunyi menuntun Nada. Mereka pergi meninggalkan festival.


Hari ini akan jadi hari yang sangat spesial untuk mereka. Nada ingat Bunyi yang bilang seperti itu. Entah apa yang sedang dipersiapkannya, tapi apapun itu, apapun kejutannya tetap akan selalu membuat hati Nada bahagia. Bunyi memang ahli dari segala ahli di bidang itu. Sekarang hati Nada bahagia sekali. Di isi kerlap-kerlip cahaya asmara. Bahkan temaram mungkin gak akan pernah datang lagi walau cuma singgah sebentar. Dan untuk sepotong kecil kenangan yang muncul tadi, kayaknya sekarang bukan waktu yang tepat untuk memikirkan itu. Atau memang gak akan pernah ada waktu yang tepat untuk itu.


Bunyi menuntun langkah kaki Nada. Mereka sampai di pantai. Membuka perlahan sapu tangan yang menutupi mata Nada, Bunyi tersenyum sambil merentangkan tangannya. Setelah itu, Nada membuka matanya perlahan dan langsung kaget melihat apa yang sekarang ada dihadapannya. Pantai yang benar-benar indah. Pohon-pohon berjajar tertiup angin laut. Barisan pulau-pulau, dan perahu-perahu kecil nelayan sejauh mata memandang.


Di depan mereka juga terdapat sepetak tempat dengan empat pilar kayu beratapkan kain-kain putih yang melingkar, melayang-layang terhembus angin. Satu meja yang dihiasi lilin-lilin kecil dari dalam mangkuk kaca. Nada melirik Bunyi. Tersenyum.


Setelah itu, mereka membuka langkah kaki mengarah ke depan. Bunyi menggenggam tangan Nada. Bersama menapaki pasir-pasir putih kemudian duduk menatap laut. Angin berhembus semakin kencang. Udara hangat lautan memang sangat menenangkan. Nada dan Bunyi saling tatap, tapi tak lama. Bunyi mengambil sesuatu dari saku celananya. Sebuah kalung. Tapi bukan emas atau mutiara. Yang ini cuma lipatan-lipatan tali warna hitam, sederhana dengan satu benda kecil berbentuk bulat sebagai anak kalungnya. Bunyi memakaikan kalung itu di leher Nada. Cocok sekali. Tampak anggun. Nada tersenyum bahagia.


Beberapa jam mereka lalui dengan sangat bahagia. Berlarian saling mengejar di sepanjang bibir pantai, juga melempar batu-batu kecil sambil melangitkan sebuah permohonan. "Nan..." Nada berseru-seru sebal. Wajahnya berulang-ulang kali terkena cipratan air. Bunyi sengaja melempar batu kecil ke arah air di sebelah Nada. Tapi Nada juga gak mau kalah, gantian menyerang Bunyi dengan cipratan-cipratan air juga. Mereka tertawa bersama sebelum akhirnya kembali menatap laut. Duduk bersebelahan melihat perahu-perahu nelayan pulang-pergi. Silih berganti.


Hari yang sangat menyenangkan. Beberapa jam itu terlalu berharga untuk ditinggalkan. Bunyi benar. Hari ini adalah hari yang sangat spesial untuk mereka berdua. Entah akan ada apa lagi setelah ini. Tapi yang jelas, pantai dan semua yang terjadi di sini sudah membuat hati Nada sangat bahagia. Tak terbilang seperti apa bahagianya. Nada tersenyum lagi, lagi, dan lagi. Di dalam hatinya, rasa syukur pada semesta cukup menggambarkan bagaimana hari ini berjalan dengan sangat baik. "Jangan pernah pergi lagi, Nan." Nada bersandar pada bahu Bunyi.


Pukul 05.00 sore. Nada dan Bunyi beranjak dari tempat duduk mereka. Memalingkan wajah dari laut. Mereka harus kembali ke festival. Nada ingat sebentar lagi Cikal akan tampil. Festival juga akan segera berakhir. Tapi, entah kenapa tiba-tiba langit menjadi sendu. Murung. Entah kenapa jingga sama sekali belum terlihat. Ada apa semesta? Kenapa petang ini murung sekali. Nada dan Bunyi pergi meninggalkan pantai.

__ADS_1


__ADS_2