Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#60 [Bab. matahari itu tenggelam, nan]


__ADS_3

...• • •...


Suara sambutan terdengar meriah. Tepuk tangan dan lantunan lagu selamat ulang tahun terdengar setelahnya. Memekakkan telinga. Suasana ramai sekali. Naira dan Una muncul tiba-tiba. Mengagetkan Nada. Mereka tersenyum bahagia. Beberapa teman yang lain juga. Ikut memeriahkan. Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun. Kalimat itu---ucapan doa terdengar berulang-ulang. Disenandungkan. Jika kalian bisa menebak suara paling keras yang terdengar, mungkin kalian akan menebak suara itu berasal dari Jeje dan Una. Maka tebakan kalian benar. Nada tersenyum. Kaget tapi juga bingung. Hari ulang tahunnya kan sudah lewat. Ia melangkah perlahan. Melihat sekitar. Menterjemahkan sesuatu yang tak pernah diminta. Di sini. Di tempat ini.


La vi en rose. Nada sampai di cafe yang ia bangun dengan mimpi-mimpi indah. Kakinya menjajaki tempat itu lagi setelah setahun pergi darinya.


Sepasang violin dan biola tergantung masing-masing disebelah kata bonjour dekat pintu masuk. Desain bangunan klasik yang dipadukan unsur-unsur modern sedemikian rupa agar terlihat seminimalis mungkin, cukup membuat mata terpanah saat berada di tempat ini. Beberapa pot bunga tergantung sejajar pada setiap sudut-sudut ruangan. Dengan tampilan bar mini di sisi kiri pintu masuk yang membuat tempat ini sangat menarik. Beberapa lukisan tangan juga ikut memeriahkan dekorasi. Ada yang berbentuk bulan sabit dengan beberapa bintang di sampingnya. Anak kucing. Sepasang sepatu cinderella, dan masih banyak lagi.

__ADS_1


Nada menoleh. Sekarang perhatiannya tertuju pada seorang laki-laki yang muncul dari dalam bar itu. Membawa kue kecil di tangannya. Memakai celemek barista berwarna hitam, laki-laki itu, Banda.


"Semoga panjang umur ya, Nad." Banda memeluk Nada. Seraya melepas rindu lama tak bertemu.


Nada tersenyum lagi. "Thanks ya, Ban."


Setelah itu, Nada dan Banda duduk di meja paling tengah cafe. Jeje, Naira, dan Una pun begitu. Banda membuka pembicaraan. Tentang banyak hal yang tentunya telah dilewatkan Nada selama setahun terakhir. Naira dan Una memperhatikan. Sesekali ikut nimbrung dalam pembicaraan. Tapi peri centil satunya tidak. Sejak kue ulang tahun itu diletakkan Banda di atas meja, Jeje terus-menerus memotong bagian-bagian kecil dari coklat dan karamel yang ada di sisi pinggir kue. Tak acuh pada sekitar.

__ADS_1


Banda memulai pembicaraan dari peningkatan pengunjung cafe. Ide awal Nada menjadikan La vie en rose sebagai cafe jazz ternyata berhasil. Setiap hari pengunjung yang datang semakin banyak. Entah karena ingin menikmati suasana cafe yang unik, atau karena ingin bertukar informasi tentang jazz dengan sesama pengunjung lainnya. Bahkan kata Banda, sekitar tiga bulan yang lalu cafe ini dikunjungi beberapa turis yang sengaja datang jauh-jauh dari Monaco hanya untuk duduk bersantai, sekaligus berbincang tentang jazz padanya. "Ya, mungkin juga mereka tertarik karena coffee buatanku yang unik ku posting di instagram, haha." Banda nyengir. Ia memang suka sekali memuji dirinya di sela-sela pembicaraan.


Selain sebagai pemain trombone terbaik se-Jakarta, Banda juga salah satu barista terbaik. Dia pernah mendapatkan penghargaan dalam kontes barista se-Indonesia di cabang membuat kopi unik ber-ciri khas. Memperoleh peringkat kedua dari lima orang barista yang tersisa di babak akhir. Yang seharusnya bisa melanjutkan sampai kanca Internasional, tapi malah memilih mendalami trombone sampai ke titik jiwanya. Laki-laki yang unik. Bahkan tadi, Banda sempat bilang kalau sekarang dia sedang mendalami bagaimana caranya menyatukan kopi dengan sayur-sayuran dan hal lain. Mungkin saja beberapa tahun lagi Banda bisa menyajikan kopi yang beraroma seledri dari tangannya. Atau daun kemangi mungkin. Entahla. Banda memang akan tetap seperti itu.


Pembicaraan lalu berlanjut ke arah kabar Nada selama berada di Amsterdam. Banda antusias ingin tau bagaimana Nada bisa menjadikan Amsterdam sebagai pilihan utama atas pelarian setahun lalu. Tapi Nada tak menjawab banyak. Ia hanya bilang hati yang menuntunnya ke sana, lalu tersenyum. Banda juga ikut tersenyum. Dia tau kalau hal itu sebenarnya sangat sensitif untuk Nada. Banda pun mencoba mengalihkan pembicaraan ke arah yang lain. Seperti menanyakan perkembangan musik jazz Nada. Atau tentang Bunyi setelah Naira tiba-tiba menanyakan Bunyi pada Nada di sela-sela pembicaraan. "Bawa ke sini dong. Penasaran gue." Desak Banda. "Yang pasti lebih cakep dari lo sih, Ban." Timpal Jeje. Semua akhirnya tertawa.


Setengah jam berlalu cepat. Beberapa kali mereka mencoba mengulang masa lalu yang indah. Untuk sekali lagi. Tertawa, mengenang setiap bagian-bagian dari potongan-potongan kecil yang masih tertinggal di hati. Bahagia. Tapi semua itu harus terhenti. Banda harus melanjutkan pekerjaannya lagi. Dua pengunjung yang baru datang memesan cappucino sweet russian. Banda bergegas menuju Bar. Tepat saat Banda mulai melangkah, suara hujan terdengar turun membalut siang. Membuncah atap cafe. Menyelimuti seluruh langit kota kasih sayang. Jakarta.

__ADS_1


__ADS_2