
Nada ikut turun juga. Ia masih memperhatikan laki-laki itu. Yang sekarang tampak mendirikan standar tengah vespa, lalu membuka jaketnya.
"Lea..." panggil Bunyi. Menatap Nada.
Yang dipanggil langsung menatap balik.
"Kenapa setiap kepergian selalu ada air mata, ya?" tambahnya. Berhenti menatap Nada. Memalingkan wajah ke arah pemakaman.
Nada memberhentikan tatapannya juga pada Bunyi.
Sebenarnya ia ingin bertanya mengapa Bunyi membuat mereka berada di tempat ini. Namun, barusan Bunyi bertanya tentang kepergian dan air mata. Nada menatap pemakaman itu lagi.
Karena kepergian itu menyakitkan, Bunyi. Siapapun gak akan pernah tau apa alasannya, atau mengapa mereka mendapatkan momen kehilangan seperti itu. Karena bagi keduanya, yang ditinggalkan atau yang meninggalkan akan tetap sama saja. Sama-sama mendapatkan penyesalan di dalam hatinya. Tapi itu bukanlah akhir. Itu malah menjadi awal dari pelajaran hidup seseorang. Bahkan mungkin menjadi bekal, agar seseorang itu bisa mengerti tentang bagaimana caranya pulih.
Nada memalingkan wajah.
Pertanyaan dari Bunyi sepertinya membuka sedikit kenangan pahit yang tidak ingin Nada ingat lagi. Kenangan yang seharusnya sudah musnah ditelan waktu.
Dulu, saat Pak Karso pergi meninggalkan Nada dan semuanya, Nada tak pernah tau apakah Ayahnya itu merasa menyesal atau tidak sama sekali. Terus, apakah Pak Karso pernah berpikir untuk mencari tau keberadaan Nada lalu menemuinya? Atau pernahkah hanya sekadar memikirkan tentang kondisi anaknya? Tidak. Tidak ada yang tau. Bahkan yang ditinggalkan, apakah Bu Ann benar-benar sudah pulih atas kepergian mantan suaminya? Bagaimana tentang Bara? tapi satu hal, Nada yang sangat jelas sekali warnanya. Sama sekali belum bisa benar-benar pulih atas itu. Dan sadar betul akan selalu hidup dalam bayang-bayang kenangan pahit itu.
Nada menghela napas. Kembali menatap Bunyi lagi.
"Kenapa kita gak ke toko bunga? Kenapa kita malah ke tempat ini, Bunyi?" tanya Nada. Beralih memandang Bunyi.
Bunyi melirik Nada.
"Gue uda ngambil bunga pesanan Mama tadi, sebelum gue kerumah lo. Udah gue antar ke Blanche. Gue titip sama Pak Agus." jelas Bunyi.
__ADS_1
Nada sedikit terkejut.
"Kenapa lo gak bilang?"
"Ya, kalau gue bilang, nanti lo gak mau ikut sama gue ke sini, Lea..."
"Terus kenapa kita ke sini?"
"Gak ada. Cuma pengen lihat pemandangan aja,"
"Ya, enggak di sini juga, Bunyi..." ucap Nada kesal.
Bunyi malah tertawa kecil. Lalu bersandar pada vespa.
"Ya, emangnya kenapa, Lea? Gue dari dulu, selalu nyempatin waktu buat ke sini. Lagian di sini seru tempatnya. Karena selain bisa nyantai, gue juga bisa ingat sama yang namanya ditinggalkan dan meninggalkan." jelas Bunyi.
"Itu yang meninggal siapa? Temen lo?"
"Bukan,"
"Keluarga?"
"Bukan,"
"Terus siapa?"
"Mana gue tau, Lea..."
__ADS_1
"Terus kenapa lo nyuruh gue makai dress putih?"
Bunyi melirik Nada yang sekarang berada di sebelahnya.
"Biar serasi aja. Gue pakai kemeja hitam, lo pakai dress putih. Emangnya kenapa sih?"
"Ya, gue kira lo mau ngajakin gue melayat, Bunyi..."
Melepas sandarannya pada vespa, Bunyi berdiri seutuhnya. Berada di depan Nada.
"Melayat? Emangnya lo kenal sama yang meninggal itu, Lea?" tanya Bunyi.
"Jangan-jangan, yang meninggal itu temen lo? Keluarga? Atau.... Mantan lo?" tambahnya.
Nada yang mendengar itu lalu bingung.
Bumi, laki-laki aneh ini kenapa sih?!
"Kenapa lo gak bilang sama gue, Lea?" tanya Bunyi lagi.
Namun, yang ditanya sepertinya sedang kesal. Tak menjawab apa-apa. Nada menatap Bunyi, kemudian tangannya terlihat mencubit lengan kiri Bunyi.
Aduh!
"Kenapa lo nyubit gue, Lea?!" tanya Bunyi. Kesakitan.
Namun yang ditanya malah memalingkan wajahnya. Masih bersandar pada vespa. Nada kesal. Ia hanya menatap ke arah depan saja.
__ADS_1