
Pukul 17.00 waktu Jakarta.
Tepat lima sore saat matahari mulai bersinar lagi. Walau tertutup awan, namun setidaknya hujan sudah reda. Banda benar. Sejak beberapa jam yang lalu, pengunjung silih berganti. Walau hujan sempat deras, tapi pengunjung malah semakin ramai. Sepertinya banyak yang mulai menyukai konsep cafe Jazz. Atau mungkin saja mereka datang untuk menikmati sajian coffee buatan Banda. Laki-laki itu, jika suatu saat diadakan kompetisi orang paling pede tingkat dunia, maka kompetisi itu akan dimenangkan olehnya.
Nada melangkah perlahan menuju satu ruangan yang berada di bagian paling kanan La vie en rose. Ia membuka pintunya. Lalu masuk ke dalam. Ruangan ini, tempat yang dulu menjadi ruangannya. Sebagai tempat mengobrol jika ada salah seorang pengunjung istimewa yang datang, atau sebagai tempatnya untuk bersantai. Di beberapa kesempatan, terkadang ruangan 5 x 5 meter ini digunakan Nada untuk mendengarkan lagu-lagu Jazz. Ya, tempat yang sempurna untuk menemukan bahagia.
Sederhana. Meja dan kursi. Hiasan-hiasan bunga di sekelilingnya. Rak buku kecil, dan satu bingkai foto yang berada di atas meja. Nada tersenyum. Tidak ada yang berubah. Walau sudah setahun, tapi semua tetap pada porsinya. Paling yang sedikit mengganggu mata hanya wallpaper dinding ruangannya. Dulu tidak ada wallpaper di dinding itu. Hanya cat putih polos dengan beberapa gambar sederhana. Tapi sekarang, corak aneh dengan warna kuning. Ah, mungkin itu kerjaan Banda. Mungkin dia yang bertanggungjawab atas itu. Karena semenjak Nada pergi, Banda adalah orang yang menempati ruangan ini. Nada tertawa kecil. Banda memang punya selera yang aneh dalam memilih warna.
__ADS_1
Nada melangkah perlahan sambil memandangi sekitar. Mengambil beberapa buku yang tampak usang dan berdebu dari rak. Dibersihkan, lalu di taruh kembali. Nada mengakhiri langkahnya, duduk di kursi. Bersandar. Memejamkan mata sebentar.
Saat membuka mata, pandangannya langsung tertuju pada bingkai foto yang berada di atas meja. Foto itu, foto saat La vie en rose pertama kali dibuka. Ada Nada, Banda, dan ketiga sahabatnya di situ. Nada meraih fotonya. Tersenyum. Potongan kecil dari kenangan yang indah. Foto tiga tahun yang lalu. Tapi kebahagiaannya masih dirasakan Nada sampai saat ini. Memori-memori itu masih terekam jelas. Banda yang kalang kabut saat mengetahui kalau mesin kopinya tiba-tiba rusak. Padahal pelanggan sedang ramai sekali. Pesanan membludak. Drama kejutan ulang tahun Jeje. Dan rencana menggagalkan pertunangan Una yang dijodohkan oleh pemuda yang tidak dia kenal. Repot sekali pada saat itu. Tapi entah kenapa, semua bisa dikendalikan dengan baik.
Dari sekian banyak pengunjung, ternyata salah satu ada yang mempunyai mesin kopi dan meminjamkannya pada Banda hari itu. Kejutan ulang tahun Jeje juga berhasil walau setelah kejutan, dia minta dibelikan satu Vinyl Andrea Bocelli yang memaksa Naira mencarinya di toko-toko Vinyl antik Jakarta. Dan perjodohan Una juga batal. Sesuai dengan harapan. Ternyata orang yang dijodohkan dengan Una adalah koruptor. Kedua orangtua Una memberitahu tentang itu lewat telepon. Perjodohan batal. Padahal, Jeje sudah membuat rencana untuk menggagalkan perjodohan itu dengan menyuruh Banda berpura-pura menjadi pasangan Una. Rencana itu sempat ditolak Una. "Ya walaupun pura-pura, apa gak ada pilihan lain? Kumisnya itu loh..." Ledekan itu setidaknya membuat Banda salah menakar kopi. Semua tertawa. Suasana terkendali. Tapi terlepas dari semua yang terjadi, acara pembukaan La vie en rose akhirnya berjalan dengan baik. Hari pertama La vie en rose, Nada dan Banda setidaknya menjual tiga ratus gelas kopi dan minuman yang lain sampai malam. Jika di ingat-ingat, mungkin sekali lagi Banda benar. Ide cafe Jazz itu adalah ide yang bagus. Berhasil.
Nada sedikit terkejut tapi juga senang. "Halo, Buk." Ia mengatakan itu dengan raut wajah bahagia. Dua hari sudah ia meninggalkan Amsterdam. Panggilan pertama dari Bu Mira setelah Nada pulang ke Jakarta. Dua hari yang cukup untuk rindu. Bu Mira sudah dianggap Nada seperti Ibunya sendiri. Tentu saja rindu itu ada. Panggilan masuk dari Bu Mira, setidaknya mengobati rindu itu barang sejenak.
__ADS_1
Tapi sepertinya rindu itu tak disambut baik. Raut wajah Nada berubah sepersekian detik setelah suara Bu Mira terdengar. Nada tak lagi tersenyum. Tak lagi gembira seperti beberapa detik yang lalu. Bu Mira terisak. Suaranya jelas terdengar. Kabar duka. Alya. Peri kecil cantik itu telah berpulang. Terbang ke atas langit menuju nirwana. Penyakit Noma yang dideritanya ternyata lebih kuat. Ternyata pemilik hak dari seluruh alam semesta juga lebih sayang padanya.
Nada diam sempurna. Tak berkata apa-apa. Seisi ruangan seketika berubah menjadi kelabu.
Sore yang tadinya menjadi waktu untuk mengenang potongan-potongan kebahagiaan masa lampau, kini harus dipaksa menjadi waktu melepas kepergian nyawa baik yang lain. Telepon usai. "Doakan Alya ya, Nad." Bu Mira menutup telepon dengan kalimat itu. Kumpulan kata yang tentunya akan disegerakan walau tak pernah diminta sekalipun. Karena untuk Alya, peri kecil yang berjuang hidup walau sudah ditentukan waktu bernapasnya oleh dunia medis, nyawa centil yang senantiasa memberi senyum pada dunia walau waktunya sedikit, kalimat seperti itu, doa-doa baik sangat pantas untuknya.
Nada menaruh handphone di atas meja. Menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Terisak.
__ADS_1