Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#40 [Bab. sepasang kerang jingga]


__ADS_3

[Rekomendasi Backsound yang pas saat membaca ini : Celine Hayes - Silent Prayer]


"Nan,"


Nada menghentikan langkah kakinya juga. Dan melihat Bunyi yang sekarang sedang fokus memperhatikan sesuatu.


Kamar nomor sepuluh. Dari balik kaca, terdapat seorang perempuan kecil yang sedang bermain dengan boneka beruang berwarna cokelat. Gadis kecil itu duduk di atas tempat tidur dan tampak bahagia. Rambutnya hitam cantik. Kulitnya putih dan wajahnya seperti bercahaya. Nada bergantian melihat gadis kecil itu, lalu kembali melihat Bunyi lagi.


Ia sama sekali tidak mengerti. Siapa gadis itu? Kenapa Bunyi fokus sekali melihatnya? Apakah tujuan mereka datang ke rumah sakit adalah untuk bertemu dengan gadis itu? Nada masih menebak-nebak saja.


"Lea." panggil Bunyi.


Tapi matanya masih tertuju pada gadis kecil yang ada di dalam ruang inap itu.


"Apa yang pantas dikasih untuk orang yang terlalu pandai menyimpan rasa sakitnya?" tanya Bunyi.


Nada terhenyak. Apa maksud dari kalimat bunyi barusan? Nada masih belum mengerti. Ia, kini menatap Bunyi.

__ADS_1


"Nan,"


"Alya. Dia anak panti kesayangan Mama, Lea."


Bunyi tersenyum. Balik menatap Nada.


Nama gadis kecil itu Alya. Nada kembali memperhatikan. Usia gadis kecil itu mungkin masih empat atau lima tahun. Dia masih bahagia bermain dengan boneka beruang cokelat. Jelas melahirkan senyum dari wajahnya. Tapi, pantaskah senyum cantik itu dilahirkan di kamar inap rumah sakit? Nada kembali melihat Bunyi.


"Dua tahun lalu, Alya dibawa Mama ke sini. Dipindahin dari Jakarta, Lea. Karena gak ada satu dokter pun yang mampu nyembuhin penyakitnya." jelas Bunyi.


"Noma." Bunyi menatap Nada, lalu kembali melihat Alya.


"Dua tahun lalu sejak pertama kali Alya dirawat... dokter bilang dia hanya bisa bertahan paling lama tiga sampai enam bulan. Tapi aku gak percaya, karena, ya, coba aja kamu lihat." Bunyi tersenyum. Sorot matanya masih terpaku pada Alya. Nada yang sejak tadi memperhatikan Bunyi pun, sekarang kembali melihat Alya juga.


Anak sekecil Alya, harus merasakan sakit yang sangat luar biasa itu. Tapi Bunyi benar. Walaupun mungkin sudah tau kalau umurnya tak lama lagi, atau sudah tau tentang dokter yang dengan sangat tega memberikan jangka waktu bagi Alya di dunia, lihatlah. Wajah gadis kecil itu terlihat seperti tidak sedang mengidap penyakit apapun. Wajahnya ceria walau hatinya mungkin sedang temaram. Laiknya seorang peri kecil yang tugasnya hanya bahagia saja.


Nada melihat box kecil yang sejak tadi masih ia pegang, lalu tersenyum. Menatap Bunyi.

__ADS_1


"Nan, ternyata ada orang yang lebih pandai menyimpan sakitnya." ucap Nada.


Bunyi tersenyum juga.


"Kamu mau ngapain?" ujar Nada setelah melihat Bunyi tiba-tiba merentangkan kedua tangannya.


"Mau meluk kamu."


"Jangan nyari kesempatan, deh."


"Ya, kali aja bisa." Bunyi tertawa. Begitupun dengan Nada.


"Yaudah ayo masuk, Lea. Aku mau ngenalin kamu sama Alya."


Nada mengangguk.


Kemudian mereka melangkah masuk perlahan ke dalam kamar inap nomor sepuluh. Yang di dalamnya ada gadis kecil hebat itu.

__ADS_1


Alya. Gadis kecil yang mungkin ditakdirkan untuk kuat dan sebagai contoh manusia yang mampu menerima sesuatu yang menjadi takdirnya. Ya, setidaknya, Nada belajar dari Alya tentang menerima rasa sakit. Dan tentang bagaimana caranya menjadi manusia yang kuat.


__ADS_2