Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#55 [Bab. matahari itu tenggelam, nan]


__ADS_3

[Rekomendasi Backsound yang pas saat membaca ini : Alfred Janders - Apelblom]


Detak jarum jam terdengar berulang-ulang kali. Menembus malam. Di atas meja kayu, jam weker sudah menunjukkan pukul 08.00 malam. Banyak hal sudah tertinggal dibelakang, tapi kenangan akan terus mengikuti kemanapun kita akan pergi. Seperti itulah cara kerjanya. Walau terkadang dijauhkan atau bahkan dilupakan, tapi kenangan punya jalannya sendiri untuk akhirnya kembali.


Nada berjalan perlahan di ruang tamu. Memperhatikan sekitar. Melihat banyak foto yang terpajang di dinding. Ia tersenyum. Lihatlah potongan kecil dari kenangan itu. Cantik sekali. Nada sadar kalau segala sesuatu memang sudah ada takdirnya masing-masing. Ia juga sadar kalau sejatinya, kenangan cuma untuk dinikmati bukan diratapi. Walau kenangan pahit sekalipun. Karena dari pertemuannya dengan Bu Ann, ia belajar sesuatu. Ternyata, tidak ada yang bisa menebak takdir, ya?


Nada duduk di sofa. Ia mengambil satu bingkai foto dari atas meja, lalu ia pandangi.


Foto itu, kenangan dua puluh tahun yang lalu. Bertahun-tahun silam saat Nada kecil masih memiliki lekukan senyum yang sempurna. Berdiri di samping Bara remaja, Nada kecil menatap lensa dengan pose bahagia dan dress putihnya. Lengkap. Pak Karso juga masih ada pada saat itu. Tersenyum juga, sama bahagianya berdiri di samping Bu Ann yang tampak masih jauh dari kata terluka.


Nada tersenyum. Matanya masih memandang foto itu. Lembaran kecil yang mengartikan banyak hal. Potongan-potongan masa lalu. Sungguh. Foto itu, menjadi sangat penting sekarang. Karena hari ini atau nanti, seseorang akan mengenang sesuatu darinya.

__ADS_1


Nada memegang bagian kecil dari bingkai.


Kalau pertemuannya dengan Bu Ann bisa terjadi, lalu apakah dengan Pak Karso juga bisa seperti itu? Nada memalingkan wajah sebentar. Ia kembali teringat tentang Ayahnya yang sekarang entah berada di mana. Pak Karso masih menjadi bagian penting di kenangan itu.


Nada ingin menangis. Tapi, sepertinya tangisan juga tak selalu menjadi pengertian dari kenangan. Karena terkadang kenangan juga bisa dinikmati dengan diam. Tersembunyi. Tanpa harus dibesar-besarkan kesedihannya. Tanpa harus diratapi sampai malam yang paling larut.


"Mama cari kemana-mana, taunya ada di sini."


Nada yang mendengar itu langsung menaruh foto di atas meja lagi.


"Mama." ucap Nada kikuk.

__ADS_1


Sepertinya Nada takut Bu Ann salah paham karena tadi ia sempat memegang foto itu. Yang terdapat Pak Karso di dalamnya. Tapi, saat Bu Ann ikut duduk di sofa bersama Nada, Bu Ann malah tersenyum. Dan meraih foto itu dari atas meja.


"Gapapa," Bu Ann mengusap kaca bingkai foto, "Semua orang punya banyak hal untuk dikenang. Bahkan terkadang dengan mengenang sesuatu, hati seseorang bisa jadi tenang." Bu Ann tersenyum. Melirik Nada. Lalu menaruh kembali foto itu di atas meja.


Benar. Mungkin apa yang dikatakan Bu Ann memang benar adanya. Karena setiap orang pasti punya waktu untuk mengenang sesuatu. Dan setiap orang juga akan belajar dari kenangannya.Dengan begitu, boleh jadi hati mereka akan jauh lebih baik. Maka kenangan juga bisa diartikan sebagai kesembuhan. Mungkin saja.


Nada yang mendengar penjelasan dari Bu Ann barusan pun merasa bahagia. Memang benar kalau Bu Ann tidak menyebutkan nama Pak Karso di dalam penjelesannya tadi. Tapi, kalimat-kalimat yang dia rangkum tentang mengenang sesuatu, mungkin saja Bu Ann sudah memaafkan kepergian Pak Karso dulu.


Dan untuk Pak Tio, kepergiannya memang juga harus dikenang suatu saat. Bu Ann juga sepertinya sudah berdamai dan menerima kepergian itu. Karena mungkin, tak ada yang patut dipanjangkan dalam bentuk kesedihan.


Nada tersenyum pasti. Lalu menyandarkan kepalanya di lengan Bu Ann. Laiknya anak kecil yang ingin dimanja Ibunya.

__ADS_1


Bu Ann yang mendapati anaknya seperti itu, langsung merangkul Nada. Lalu mengusap-usap lengan Nada lembut. Menenangkan. Penuh kasih sayang.


__ADS_2