
[Rekomendasi Backsound yang pas saat membaca ini : Kiara Leonard - Larks]
"Dulu, waktu kamu masuk rumah sakit, lalu kamu sadar setelah koma dua hari, Mama bahagia sekali." Bu Ann tersenyum. Mengelus-elus rambut Nada.
"Mama bilang sama Papa kamu untuk nambahin nama belakang kamu. Salamah. Yang berarti keselamatan. Karena Mama gak ingin kamu kenapa-kenapa lagi, walau hanya tergores sedikit pun hatinya." Bu Ann menghela napas. "Tapi setelah itu malah Mama yang--"
"Ma..." Nada memotong kalimat Bu Ann. Lalu duduk seutuhnya. Menatap Bu Ann.
"Nada juga salah kok. Tapi yang penting kan sekarang Nada di sini sama Mama." Nada tersenyum.
__ADS_1
Bu Ann ikut tersenyum. Tapi air matanya juga menetes. Ya, air mata bahagia. Lalu pelukan pun tercipta. Hangat. Seperti memberi cahaya untuk jiwa-jiwa sepi yang beberapa saat lalu telah mati.
Harapan keluarga kembali utuh memang sempat dipikirkan oleh Nada. Ia sangat menginginkan keluarganya seperti dulu. Dan mungkin itu tak bisa terjadi karena Pak Karso masih berada di salah satu bagian bumi yang sama sekali tidak diketahui Nada. Tapi yang terpenting, sekarang Nada benar-benar pulang. Berada di sisi Bu Ann lagi. Setidaknya hal itu jauh lebih menenangkan hatinya. Seenggaknya kepulangan ini membahagiakan hati kecil itu.
"Bara gak ikut dipeluk juga, Ma?"
Nada dan Bu Ann tersenyum melihat Bara yang tiba-tiba muncul, melangkah ke arah mereka, lalu duduk di sofa. Bu Ann membuka tangannya, Bara ikut serta dalam pelukan hangat malam. Dia sama bahagianya dengan Nada dan Bu Ann. Ini adalah sajian indah dari keluarga yang saling menyayangi.
Yang tetap menjadi jalan untuk pulang, meskipun beberapa dari kita tidak bisa merasakan lagi raga dari keluarga yang telah pergi. Yang bisa memberi sakit--patah yang paling sempurna. Dan yang bisa memberi kebahagiaan tanpa pernah meminta balas. Bahkan sesuatu yang paling mengerti, ya, itulah keluarga.
__ADS_1
Sebagaimana menginginkan keutuhan keluarga lagi, mungkin jika Pak Karso tidak pergi beberapa tahun silam, kebahagiaan akan jauh lebih sempurna untuk Nada. Atau mungkin kepulangannya akan jauh lebih menyenangkan.
Tapi, kalau kepergian Pak Karso dulu tidak terjadi, sudah pasti kepergian, kepulangan, dan semua yang telah dilalui Nada tidak akan terjadi juga. Begitulah konsep takdir. Seperti itulah cara kerjanya.
Malam bergulir sempurna. Di sela-sela peluk awan, bulan tersenyum. Berhasil menyaksikan takdir yang indah dari seseorang. Menjadi saksi juga kelak. Sinarnya mulai redup. Sendu itu tentang kebahagiaan yang kembali lahir. Bulan perlahan hilang masuk kedalamnya. Bintang-gemintang pun begitu. Satu hari lagi telah berlalu. Cukup panjang. Lumayan melelahkan.
Setidaknya hari ini berjalan dengan baik. Meskipun banyak air mata yang tumpah, seenggaknya Nada bisa memastikan kalau semua air mata itu adalah air mata bahagia. Ya, walau di beberapa waktu ia kembali memikirkan tentang Ayahnya dan masih berada di ruang rindu yang sama, tapi setelah bertemu dengan Bu Ann, setelah mengerti, akhirnya Nada membiarkan rindu itu di dalam hati. Ya, hanya di dalam hati.
Karena laiknya Pak Tio yang terbang menembus langit, mungkin untuk Pak Karso juga akan begitu. Biarlah menjadi urusan semesta. Karena dimanapun Pak Karso berada sekarang, mungkin saja semesta sedang memberi sesuatu untuk dipahami, atau mungkin sedang mengatur waktu yang pas untuk bertemu? Entahlah.
__ADS_1
Yang jelas, untuk mengerti dan merasakan kebahagiaan yang paling kecil sekalipun, terkadang kita memang harus dijatuhkan dahulu. Di remuk-redamkan, serta dipaksa berada di posisi paling bawah dari perasaan. Tapi jika berbicara tentang pulang serta bertemu, bukankah kita memang harus pergi dan merasakan kehilangan dahulu?