
[Rekomendasi Backsound yang pas saat membaca ini : Nadin Amizah - sebuah tarian yang tak kunjung selesai, dan Jef Martens - Homeland]
Siapa yang ingin terus mendekap di masa-masa sulit? Siapa yang ingin menetap di tangisan yang sama? Gak ada. Semua orang pasti ingin beranjak dari itu. Serta tinggal dan hidup dalam hal-hal baik. Menyenangkan. Melewati hari dengan tawa ceria.
Dulu, saat Nada kecil mengetahui tentang kepergian Pak Karso, ia selalu berusaha untuk menanyakan hal itu pada Bara. Kapan Ayah akan pulang, atau pertanyaan pilu yang lain. Tapi, Bara tidak pernah menjawab semua pertanyaan Nada. Ya, karena, yang kehilangan Pak Karso bukan cuma Nada saja. Bara pun seperti itu. Bara tidak tau harus memberi Nada jawaban apa. Bahkan dia gak tau, harus mencari Pak Karso dimana.
Saat mereka mulai beranjak dewasa, mulai mengerti kalau terkadang air mata bukan cuma perihal kehilangan, dan tawa juga gak selalu tentang kebahagiaan. Saat itu, Nada remaja dan Bara pergi ke berbagai tempat, mencari keberadaan Ayah mereka.
__ADS_1
Berpindah-pindah tempat, hanya untuk mencari jawaban, dan mencari nyawa yang hilang. Tapi mereka lupa, kalau jawaban itu yang menghampiri mereka. Karena di setiap tempat yang mereka datangi, semuanya nihil. Tidak ada yang tau. Pak Karso hilang bak ditelan bumi.
Ada satu titik dimana seseorang bisa benar-benar letih. Bukan sama keadaan. Melainkan sesuatu yang tidak benar-benar ada. Berharap, namun sudah tau kalau harapan itu hanya sebagai lembaran kosong yang sampai kapanpun gak akan pernah di isi dengan kata paling singkat. Nada dan Bara berusaha untuk merelakan kepergian Pak Karso.
Saat Bu Ann memutuskan untuk menikah dengan Pak Tio, Nada seperti memegang dua mata pisau di tangannya. Karena, di satu sisi, Nada sama sekali tak ingin hal itu terjadi. Nada masih sangat merindukan dan berharap agar Ayah kandungnya kembali. Tapi di sisi lain, Bara mengingatkan Nada tentang bagaimana caranya mengikhlaskan dan tentang pentingnya kesembuhan hati Bu Ann yang sangat hancur setelah kepergian Pak Karso.
Menerima satu hal tentang batas dari rasa sakit. Nada, diharuskan untuk kembali menata hati. Tanpa Pak Karso. Nada, benar-benar harus tau kalau Ayahnya benar-benar sudah pergi.
__ADS_1
Tapi, meskipun telah pergi, sampai kapanpun Nada akan tetap mengingat Ayahnya. Pak Karso sedikit banyak telah mengajarkan Nada tentang dunia. Dari Pak Karso juga Nada belajar, kalau mau bahagia, ya, silahkan cari sendiri. Jangan berharap sama orang lain. Karena kalau berharap kebahagiaan itu datang dari orang lain, sama saja berharap dengan pelangi yang muncul setelah hujan. Gak selalu ada.
Dan Pak Karso juga yang mengajarkan semua hal tentang musik. Jazz dan yang lain. Pak Karso menjelaskan kalau musik itu ajaib. Hati yang remuk saja bisa pulih dengan cepat karenanya.
Tapi juga sebaliknya. Hati yang tadinya tidak kenapa-kenapa, bisa cepat berubah menjadi kenapa-kenapa. Hanya dengan beberapa not saja, manusia bisa menangis dengan keras karena musik. Tersembunyi. Dan sebagai yang paling tajam.
Malam menjemput angan. Matahari pergi. Bulan juga tak ada. Tertutup kabut hujan yang menghujam semakin deras. Setelah beberapa saat berkutat di dalam kamar, akhirnya Nada tertidur di atas buku abu-abu. Mengulang memori itu kembali. Berjalan di atas langit mimpi. Perempuan cantik yang memiliki hati merah jambu, pulas terbawa bayang-bayang.
__ADS_1