Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#76 [Bab. sunset pertama untuk kita]


__ADS_3

Dan akhirnya, tepat pada pukul 11.30 tengah malam, pesawat mendarat. Nada dan ketiga peri centil turun dari pesawat. Mila dan Mamanya juga. Mereka semua melangkah masuk ke dalam bandara.


Tadi, sepuluh menit sebelum pesawat mendarat, Nada dan Mila yang baru saja bangun sama-sama melihat gemerlap lampu kota Ambon dari atas langit. Warna-warni. Indah sekali. Nada pikir, cuma langit Amsterdam dan Jakarta saja yang tampak indah pada malam hari. Ternyata, langit kota Ambon juga tak kalah indah. Atau mungkin, semua langit akan terlihat begitu. "Mila pikir terbang malam itu seram. Tapi ternyata, sebaliknya ya, Kak. Menyenangkan. Bisa lihat bintang dari dekat. Lampu-lampu kota. Seru deh." Kata Mila. Pandangannya tak lepas dari balik jendela pesawat. Memperhatikan ribuan formasi lampu-lampu kota Ambon. Nada melirik Mila. Tersenyum. Mila benar. Terkadang untuk mengetahui sesuatu, kita memang harus berada di dalamnya.

__ADS_1


Lima menit setelah pesawat mendarat, Mamanya Mila datang. Mengajak Mila untuk turun dari pesawat. Awalnya Mila menolak, karena dia ingin turun sama Nada. Tapi Nada menyuruh Mila duluan. Karena sejak pesawat berhasil mendarat, Jeje susah sekali dibangunkan dari tidurnya. "Perasaan gue baru tidur lima menit, Nad. Masih ngantuk." Ucapnya ketus. Nada menghela napas. Ia juga melirik Mila dan Mamanya yang tertawa mendengar ucapan Jeje barusan. Untunglah tak berapa lama kemudian Naira dan Una datang. Jeje pun terpaksa harus bangun. Mila tertawa lagi. "Kak Jeje mirip Putis. Soalnya kalau uda ngantuk berat, Putis juga susah dibangunin." Ucap Mila polos. Jeje menggaruk kepala. Tersipu malu. Semua tertawa. Lalu, setelah Naira dan Una berkenalan singkat dengan Mila dan Mamanya, mereka semua pun turun dari pesawat.


Saat sudah berada di dalam bandara, Nada membuka handphone. Ada satu pesan masuk di sana. Itu dari Cikal. Nada sedikit kaget membaca isi pesannya. Ternyata malam ini mereka bisa langsung terbang ke pulau Banda. Cikal bilang kalau cuaca tengah malam ini bagus. Dan daripada harus menunda sampai besok, kenapa tidak berangkat malam ini saja. Karena kalau besok, kemungkinan jadwal penerbangan akan ramai mengingat acara pembukaan festival summer Jazz itu besok. Pesan singkat itu berakhir. Ditutup dengan nama salah satu maskapai. Cikal sudah menyiapkan satu pesawat kecil untuk Nada dan yang lain.

__ADS_1


Nada dan ketiga peri centil berpamitan pada Mamanya Mila. Atau lebih tepatnya kata-kata sampai jumpa lagi karena besok mereka pasti akan bertemu di festival summer Jazz itu. Sebelum Nada membuka langkahnya setelah berpamitan, Mila memberikan sesuatu padanya. Cokelat. Mila bilang cokelat itu kesukaannya. Mila memberikannya pada Nada karena bagi Mila, Nada sudah seperti kakak kandungnya sendiri. Nada tersenyum. Mengelus rambut Mila. Memeluknya juga. Ia juga mengelus bulu Putis sampai akhirnya melangkah pergi meninggalkan Mila dan Mamanya.


Tepat pukul 12.00, pesawat kecil yang membawa Nada dan ketiga peri centil take off dari bandara Ambon menuju tujuan mereka. Pulau Banda Neira. Setelah langit Jakarta, kini langit Ambon yang akan ditinggalkan.

__ADS_1


__ADS_2