
[Rekomendasi Backsound yang pas saat membaca ini : Hazel Adams - Ocean Heart]
"Bi Tina gak kangen sama Una, Bi?" ucap Una tiba-tiba.
"Memangnya lo itu siapanya Bi Tina, Na? Anak bukan, saudara bukan. Gak pantas dikangenin." ledek Jeje.
"Ya, kan gue cantik."
"Please deh, Na. Kangen sama cantik itu gak ada korelasinya sama sekali. Iya sih lo cantik. Tapi... tetap aja jomblo." Jeje tertawa.
Yang lain juga ikut tertawa. Ketiga sahabatnya Nada memang sangat ahli dalam memperbaiki suasana. Karena setiap dari mereka, mungkin memang dilahirkan untuk saling mengisi kebahagiaan.
Nada kembali menatap Bi Tina. "Bi,"
"Iya, Non?"
"Pemakamannya gimana?"
"Udah selesai dari pagi, Non."
"Terus, Mama..."
"Ada. Ibuk ada di belakang."
"Mas Bara?"
"Tadi Mas Bara juga ada di belakang cuma beberapa menit yang lalu pergi keluar sebentar."
Nada kembali memperhatikan rumah duka. Menatap kelabu lamat-lamat.
__ADS_1
Waktu yang tepat. Rasa-rasanya, kaki itu ingin segera melangkah untuk melepaskan pelukan rindu yang lama mati. Nada memang rindu sekali pada Bu Ann. Walau sejak berada di Amsterdam, kerinduan itu dipaksa mati dalam banyak kesempatan. Tapi tetap saja, tidak ada yang mampu mengambil alih kerinduan dari hati seseorang kecuali pertemuan.
Dan penghormatan untuk Pak Tio, biarlah itu menjadi urusan semesta sekarang. Karena kematian tak lagi menjadi urusan manusia yang ditinggalkan. Biarlah nyawa baik itu terbang di sela-sela awan. Bergabung dengan beberapa bintang utara yang paling terang. Biarlah. Hanya ada lambaian tangan untuk kapal yang berlayar ke ujung matahari.
"Nad," Naira memegang bahu Nada. Tersenyum.
Mungkin Naira tau kalau sahabatnya itu sedang tidak baik hatinya. Yang sekarang terlihat ragu menatap rumah itu. Rumah yang menjadi tujuannya pulang. Jingga yang sudah menjadi kelabu. Sorot mata Nada terpaku padanya.
Dan jika dilihat dari kemarin sejak meninggalkan Amsterdam, raut wajah Nada memang terus menunjukkan ekspresi gelisah. Ya, walau beberapa saat berubah dengan kehadiran Bunyi dan tingkah konyolnya, tapi untuk kali ini, gelisah itu jelas tergantung di wajah Nada lagi.
Jazz. Apakah Bu Ann masih mempermasalahkan itu? Atau apakah Bu Ann membenci Nada karena setahun lalu pergi ke Amsterdam untuk cita-cita mempelajari Jazz dan tenggelam di dalamnya? Tidak. Bukan waktu yang tepat memikirkan itu sekarang.
Kepergian Pak Tio mungkin membuat Bu Ann sangat terluka. Seperti dulu saat Pak Karso pergi. Mungkin luka yang dirasakan Bu Ann sama. Dan untuk kedatangannya, Nada diharuskan menjadi matahari pagi penyambut melati. Yang senantiasa menyinari nyawa yang hampir gugur, Nada tidak boleh egois. Sekarang, biarlah hati Bu Ann sembuh terlebih dahulu. Mungkin dengan kehadiran Nada, luka-luka itu lekas pulih. Seenggaknya, biarlah rindu itu mendapatkan pelukan hangat yang pantas.
Naira mengangguk. Tersenyum lagi. Memberi isyarat semua akan baik-baik saja. Jeje dan Una juga ikut tersenyum. Melihat Nada.
Nada tersenyum. Ia tau kalau ketiga sahabatnya itu berusaha menguatkan hatinya. Berusaha mencairkan langkah kaki yang sejak tadi membeku.
"Biar Bibi yang bawa kopernya, Non." Kata Bi Tina tiba-tiba.
Nada mengangguk pelan.
"Sekalian punya Jeje, Bi." sahut Jeje.
Una menatap Jeje, "Kayaknya di bandara tadi lo makan dua piring deh, Je. Belum ada tenaga juga bawa koper?" ledeknya.
Jeje menggaruk kepala. Semua tertawa.
Bibir rumah tertinggal. Langkah kaki beranjak masuk ke dalam halaman. Melewati beberapa orang yang masih hadir di rumah kelabu. Langkah kaki ketiga sahabatnya Nada terhenti setelah beberapa sapaan dari teman lama terdengar. Teman-teman yang ternyata juga hadir di rumah duka. Nada juga sempat membalas sapaan-sapaan itu. Tapi, berbeda dari ketiga sahabatnya yang berhenti untuk mengobrol, Nada kembali melanjutkan langkah kakinya. Karena memang, ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Ibunya. Nada dan Bi Tina, kemudian masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Astaga. Rumah ini. Nada melangkah perlahan dan mengamati semuanya bergantian.
Mungkin benar kalau Jingga sudah berubah menjadi Kelabu di beberapa waktu. Tapi, seluruh isinya tidak akan pernah berbohong. Mungkin memang benar beberapa orang pergi darinya, tapi seluruh memori akan terus berada di dalamnya. Lihatlah. Foto-foto itu masih terpajang rapi. Yang menjadi saksi bisu semuanya. Dan organ. Itu memang organ. Nada melangkah ke arahnya.
Sejak kapan organ ini ada di sini? Nada menyentuh organ itu. Mencoba mengingat sesuatu. Ya, organ itu adalah peninggalan Pak Karso. Barang kesayangannya. Benar. Dari organ itulah Nada belajar musik. Bagian awal pertemuannya dengan Jazz. Nada menghela napas.
Sekarang yang tertinggal hanya kenangan saja. Dan saksi yang sulit untuk berbicara. Tapi tak apa. Karena terkadang, sesuatu yang indah tak selalu diungkapkan melalui kata-kata. Nada memalingkah wajahnya.
Ia mulai menatap seluruh bagian rumah lagi. Setiap sudut yang paling kecil.
"Kamar Non, uda Bibi rapikan. Jadi kalau Non mau langsung istirahat, udah bisa." ucap Bi Tina.
Nada tersenyum, "Makasih ya, Bi."
Bi Tina tersenyum pasti. Lalu meletakkan koper di samping kursi, "Bibi senang sekali waktu Mas Bara bilang kalau Non akan pulang. Bibi langsung bersihin kamar, ganti sprei, sarung bantal, nyapu, ya begitulah." Bi Tina tertawa tipis.
Nada pun ikut tertawa.
"Mas Bara ada kasih tau Mama juga gak, Bi?"
Bi Tina menggeleng.
"Ibuk tau Non pulang bukan dari Mas Bara. Tapi dari temennya Mas Bara. Baru aja tadi datang sekitar lima belas menitan lah sebelum Non datang." jelas Bi Tina.
Nada bingung. Teman?
Bi Tina mengangguk.
"Ganteng, Non. Baik. Itu sekarang ada di belakang sama Ibuk. Kayaknya lagi ngobrol." Bi Tina tersipu malu. " Tadi juga waktu dia datang, Bibi dikasih cokelat." tambah Bi Tina.
__ADS_1
Nada yang sejak tadi memperhatikan penjelasan Bi Tina menjadi semakin bingung. Teman dan coklat, sepertinya dua kata itu sangat familiar sekali. Tapi, siapakah dia? Nada cukup penasaran akan hal itu. Entahla. Tak penting memikirkan orang itu sekarang. Karena yang terpenting adalah menuntaskan rindu. Bu Ann. Nada membuka langkah kakinya lagi.