Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#61 [Bab. matahari itu tenggelam, nan]


__ADS_3

Dulu, kalau hujan seperti ini, Nada dan Banda langsung sigap naik ke atas panggung. Menghibur pengunjung dengan memainkan alat musik mereka masing-masing. Memainkan instrumen-instrumen pemecah keheningan. Satu-dua lagu, bahkan terkadang Nada ikut bernyanyi di sela-sela not indah miring organnya. Menyenandungkan best song dari musisi-musisi Jazz ternama, atau bahkan improvisasi sendiri. Menciptakan lirik-lirik lagu dengan metode spontan. Bersama dengan Banda tentunya.


Apalagi, kalau sudah masuk pertengahan lagu, Banda biasanya kesal pada Nada. Yang sering sekali mengubah chord yang seharusnya dimainkan menjadi chord yang lain. Biasanya Banda menggeleng atau bahkan menggelembung mukanya. "Pusing kepala gue kalau lo udah kayak gini, Nad." Nada tertawa. Eskpresi temannya itu sangat menggelitik kalau sedang kesal. Kejahilan itu setidaknya terjadi berulang-ulang. Nada memang sangat suka membuat Banda kesal.

__ADS_1


Namun di beberapa kesempatan, Banda juga sering membalas kejahilan itu. Contohnya dengan memainkan lagu yang berbeda saat Nada sudah menentukan lagu yang akan mereka mainkan. Atau dengan melody-melody fals yang sengaja dia buat di intro lagu. Tapi, sering sekali keisengan itu dibalas oleh timpukan gumpalan tissue atau botol air mineral bekas dari Nada. Dua kosong. Nada pemenangnya. Banda tak akan pernah menang soal tingkah laku jahil itu. Tak akan.


Nada menoleh. Lamunannya terhenti setelah mendengar suara gaduh dari sepasang kekasih yang berada tak jauh dari mejanya.

__ADS_1


Dua manusia itu seperti sedang memperdebatkan sesuatu. Entah apapun itu, tapi jika dilihat dari wajah si perempuan, sepertinya hal yang sedang mereka perdebatkan tampak serius. Nada menoleh lagi. Memperhatikan ketiga sahabatnya. Bergantian.


Astaga. Nada melipat dahinya.

__ADS_1


"Gue sih nebak, si cewek minta uang skincare, tapi si cowok gak mau ngasih, Na." Bisik Jeje dengan wajah sok-tahu. "Kalau gue sih, lebih ke cowoknya yang selingkuh, Je. Mungkin, ya, ketahuan chat sama mantan atau sama cewek lain. Tapi itu cuma tebakan gue aja sih." Ucap si yang paling polos, Una. "Makanya punya pacar, biar tau apa alasannya. Biar gak cuma nebak-nebak aja." Naira ikut menambahkan. Meledek kedua sahabatnya. Tapi sorot matanya masih terpaku pada layar handphone. Jeje dan Una diam. Mengalihkan pandangan mereka. Tak lagi mencoba menebak-nebak permasalahan sepasang kekasih itu. Tak lagi mencoba mencampuri urusan asmara itu.


Nada tersenyum tipis. Itu adalah jurus yang paling ampuh dari Naira saat Jeje dan Una mencoba ikut campur dalam urusan hubungan orang lain. Seenggaknya, kedua peri centil itu bisa tenang sekarang. Dan untuk Nada, ia juga tak mau ikut serta dalam tebak-tebakan itu. Mungkin baginya masih banyak hal yang lebih penting ketimbang harus menebak permasalahan orang lain. Apalagi jika harus disuruh ikut campur. Nada bukan tipe perempuan yang suka hal-hal seperti itu. Karena bagi Nada, setiap orang punya masalah dalam hidupnya. Entah itu dengan teman, sahabat, keluarga, atau pasangan. Kita memang diharuskan untuk membantu sesama jika kita mampu memberikan solusi. Tapi bukan berarti mengambil alih kemudi, seolah-olah menjadi yang paling berhak. Tidak. Bukan seperti itu. Kita cukup memperhatikan saja, dan jika ada kata minta tolong yang terucap, disitulah kita akan datang untuk membantu. Lagipula, masih banyak hal yang harus dipikirkan oleh Nada. Sebut saja seperti kerinduannya pada Pak Karso yang entah berada dimana. Tentang Banda Neira, atau tentang pergi ke pasar malam dengan Bunyi nanti sore.

__ADS_1


__ADS_2